Mawar Putih Berubah Merah

Mawar Putih Berubah Merah
*Episode 7


__ADS_3

Dalam hati, Ros mengutuk dirinya yang begitu ceroboh. Belum bertemu dengan Rahan saja, dia sudah penasaran akan hal pribadi pria itu. Itukan namanya bikin malu secara terbuka.


Selanjutnya, tanpa banyak bicara lagi, Ros pun langsung mengikuti oma Rita menuju ruang tamu. Tempat di mana Rahan saat ini sedang menunggu kedatangan Oma Rita.


Selama perjalanan, Ros pun sempat berpikir tentang sesuatu. Pemikiran yang sebelumnya ia abaikan. Yaitu adalah, pikiran soal hubungan antara Oma Rita dengan Rahan.


Tapi sayang, rasa penasaran itu tidak bisa ia lepaskan. Karena tidak ada waktu untuk Ros bertanya lagi. Sebab, mereka sudah hampir tiba ke tempat yang ingin mereka tuju. Bahkan, oma Rita malah semakin mempercepat langkah kakinya ketika ruang tamu sudah terlihat.


"Ya Tuhan, Rahan ... akhirnya datang juga ke rumah Oma." Begitulah suara oma Rita langsung memecah keheningan rumah tersebut.


Karena suara itu juga, seorang pria yang sedang duduk manis di sofa empuk rumah keluarga Muroja yang megah, langsung bangun dari duduknya. Dan, ketika pria itu berdiri dari duduknya, terlihat pula lah postur tubuh yang sangat indah.


Badan kekar yang sangat sempurna. Kulit putih bersih seakan tak tersentuh panasnya matahari. Mata tajam yang luar biasa. Rambut lurus yang jatuh ke bawah. Alis yang tertata dengan rapi. Seperti, lukisan mangga yang sempurna. Tanpa cacat sedikitpun.


Ketika Ros melihat manusia itu, hanya satu kata yang terlintas di pikirannya. Yaitu, sempurna. Dia bak bukan manusia di mata Ros saat ini. Melainkan, gambaran yang di buat di dalam komik yang selalu membuat para wanita melayang saat membayangkannya.


'Tuhan ... ini nyata? Manusia yang dilukiskan di dalam komik itu beneran ada?' Ros bertanya dalam hati sambil terus menatap Rahan dengan tatapan lekat.


'Ini adalah karya terindah yang bisa aku lihat secara nyata. Ah, aku bermimpi atau memang ini nyata. Soalnya, yang bisa aku lihat secara langsung itu lebih indah dari yang aku bayangkan selama ini.'


Begitulah Ros yang terus sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan oma Rita dan Rahan saling menyambut dengan hangat satu sama lain.


"Rahan. Maafkan oma yang udah bikin kamu nunggu lama ya, Nak. Gak kesal kan sama oma yang usah bikin kamu menunggu?"

__ADS_1


"Gak kok, Oma. Oma bisa aja. Mana bisa aku kesal sama oma. Gak sempat." Kini Rahan berucap sambil tersenyum.


Senyuman yang terlihat itu mampu membius Ros yang awalnya sudah sibuk sendiri dengan apa yang ia pikirkan tentang Rahan. Lagi-lagi, Ros membatu akibat hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.


'Ternyata ... dia juga bisa senyum? Aku pikir, dia adalah manusia yang lahir tanpa ekspresi sedikitpun.'


Ya, saat mendengar nama Rahan, Ros pasti langsung berpikir kalau pria itu adalah manusia yang lahir tanpa perasaan. Alias, tidak punya ekspresi seperti bahagia. Itu bukan tanpa alasan, karena semua yang orang bicarakan prihal Rahan, semuanya tentang sisi gelap yang pria itu miliki.


Walau begitu, karena kedudukan juga kesempurnaan fisik yang Rahan miliki, banyak yang berharap bisa dekat dengan pria itu. Jangankan menjadi pasangan, bisa dekat satu kali makan bersama di satu meja saja sudah cukup.


Namun, karena kedudukan yang Rahan miliki pula, ingin makan satu meja bersama Rahan adalah termasuk hal yang mustahil. Karena tidak akan pernah ada perempuan biasa yang bisa makan dengan pria sehebat Rahan jika tidak ada sebab yang benar-benar pasti.


Karena sibuk dengan pikirannya sendiri, saat oma Rita memanggil namnya untuk dikenalkan dengan Rahan, Ros malah terdiam mematung. Karena itu, oma Rita harus memanggil Ros untuk yang kedua kalinya.


"Roslin, kenalkan, ini Rahan." Kali ini, oma Rita terpaksa berucap sambil menyentuh tangan Ros.


Sentuhan itu langsung membuat Ros tersadar dari kesibukan yang sedang ia pikirkan. "Ah! Eh, iy-- iya. Ma-- maaf, oma."


Ros terlihat sangat malu akibat hal itu. Tapi, dia berusaha agar malu yang ia rasakan tidak terlihat. Selanjutnya, dia langsung memberanikan diri untuk berkenalan dengan Rahan.


Sungguh hal yang diluar logika Ros, Rahan yang terkenal dingin itu langsung merespon perkenalan mereka dengan sangat baik. Hal itu jauh dari apa yang Ros bayangkan. Karena kabarnya, Rahan tidak suka berkenalan dengan orang. Dia juga tidak suka bicara dengan orang yang tidak ia kenali dengan baik.


Tapi kali ini, Ros langsung menentang pernyataan itu. Karena kenyataannya, Rahan sungguh sangat bersahabat. Dia juga terlihat hangat pada orang yang pertama ia kenal seperti Ros.

__ADS_1


"Oh, jadi ini calon pewaris yang akan benar-benar jadi pewaris keluarga Muroja, Oma? Cukup sempurna untuk pemula." Rahan berucap sambil melihat Ros.


Pujian itu langsung membuat oma Rita tersenyum lebar. "Kamu akan lebih merasa terkejut jika kamu tahu seperti apa kehidupan yang sudah ia lewati selama ini, Rahan."


"Ya, aku tahu kalau pilihan Oma tidak akan salah. Oma pasti sudah mempertimbangkan semuanya, bukan?"


"Tentu saja."


Mereka pun terus ngobrol ringan seperti apa saja yang sudah mereka lalui akhir-akhir ini. Tepatnya, bukan Ros. Karena yang sedang ngobrol ria hanya Rahan dan oma Rita. Sedangkan Ros, dia hanya diam mendengarkan obrolan kedua orang yang ada di dekatnya. Sesekali, ia akan ikut bicara setelah ditanyakan saja. Jika tidak, dia tidak akan menyela pembicaraan dengan berbicara duluan.


Begitulah pembicaraan terus berlanjut dengan hangat. Hingga akhirnya, oma Rita mengatakan maksud dirinya mengundang Rahan datang ke rumahnya.


"Ah, iya. Sebenarnya, oma mengundang kamu buat datang ke rumah ini karena oma ingin minta bantuan padamu."


"Bantuan apa yang oma inginkan? Katakan saja! Oma tahu aku, bukan? Jika bisa aku lakukan, maka aku pasti akan melakukannya."


"Itulah yang oma suka darimu, tuan muda Brawijaya."


"Ah, oma ini. Kenapa harus menyebut nama keluarga? Aku kan tidak suka hal itu. Karena saat bicara dengan oma, aku ingin terlihat sebagai orang biasa yang tidak punya latar belakang keluarga sedikitpun."


"Anak nakal. Masih saja begitu kamu ya. Padahal sudah dewasa sekarang. Masih saja ingin terlihat bebas dan tidak ingin punya beban keluarga."


"Yah, karena kebebasan itu sangat mahal buat aku, oma."

__ADS_1


__ADS_2