
"Tuan muda sudah berubah sekarang ya? Atau ... aku saat ini hanya sedang bermimpi saja?"
Si sopir pun langsung mencubit tangannya sendiri. "Auh! Sakit juga. Aku tidak sedang bermimpi sekarang."
"Ya. Tuan besar harus tau akan hal ini. Ini adalah kabar penting yang harus aku sampaikan pada tuan besar. Aku yakin, tuan besar pasti akan kaget. Ah, tidak. Pasti sangat-sangat kaget."
Sopir itupun langsung berniat untuk menghubungi papa Rahan. Tapi, belum sempat ia melakukan hal itu, Rahan malah sudah kembali dengan buket bunga mawar merah yang cukup besar dan terlihat sangat indah.
Mata pak sopir pun langsung membulat karena tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ternyata, Rahan begitu lihai saat membeli bunga. Buktinya saja, sekarang ia datang dengan buket terindah yang pernah pak sopir itu lihat selama ini.
"Tu-- tuan muda. Bagaimana caranya tuan muda bisa membeli buket mawar yang seindah ini? Tuan muda belajar dari mana?"
"Belajar? Apa maksud, pak sopir? Aku hanya main asal beli aja. Ah, sebenarnya, aku membeli sambil membayangkan wajah orang yang akan menerima buket ini. Karena itu, aku langsung memilih buket mawar merah meski aku tidak tahu, dia suka bunga apa."
Ucapan Rahan yang sangat polos barusan membuat pak sopir tidak bisa berkata apa-apa. Sungguh, keinginan untuk mengatakan hal tersebut pada papa Rahan semakin besar sekarang. Bahkan, pak sopir itu malah merasa tidak sabar lagi untuk bercerita pada majikan besarnya akan apa yang telah terjadi pada tuan mudanya sekarang.
"Jalan, pak!"
"Hah! Ke-- ke mana, tuan muda?"
"Muroja grup."
"Ap-- apa? Mu-- Muroja grup?"
__ADS_1
"Iya, pak sopir. Jalan sekarang! Kita pergi ke Muroja grup sekarang juga." Rahan bicara dengan nada yang penuh dengan penekanan.
"Ba-- baik, tuan muda."
'Jadi, penerima mawar merah ini ada di Muroja grup? Siapa dia? Tunggu! Apa dia adalah cucu oma Rita yang pernah dibicarakan itu? Yang pernah digosipkan oleh banyak orang. Tapi, aku tidak bisa menyimpulkan secara langsung sekarang. Karena aku tidak tahu dengan sangat jelas. Jika aku salah bicara pada tuan besar, maka perkiraan dan harapan juga akan salah.' Pak sopir bicara dalam hati.
Setelah beberapa waktu menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba kembali ke Muroja grup. Saat mereka tiba, waktu istirahat sudah usai. Kantor terlihat hening karena para karyawan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Tuan muda, kita sudah tiba. Tuan muda ingin saya yang menyerahkan atau .... "
"Aku yang akan memberikannya sendiri pada orang yang ingin aku berikan. Pak sopir tunggu saja di sini." Rahan langsung memotong dengan cepat perkataan sopirnya.
"Ah, baiklah, tuan muda." Sedikit kecewa karena tidak bisa memastikan pada siapa bunga itu akan Rahan serahkan. Tapi bagaimanapun, dia tetap tidak akan memperlihatkan rasa ingin tahunya itu dengan sangat jelas pada Rahan.
"Ingat satu hal, pak sopir. Jangan katakan pada siapapun apa yang sudah aku lakukan hari ini. Terutama, pada mama dan papa. Jangan sampai mama dan papa tahu kalau aku mengantarkan sendiri bunga ke Muroja grup. Pak sopir paham dengan apa yang aku maksudkan, bukan?".
"Ah, he he he ... iy-- iya, tuan muda. Saya ... tidak akan bicara. Tuan muda ... tenang saja ya."
Pak sopir bicara dengan gelagapan.
Sejujurnya, dia sangat gugup sekaligus kecewa saat ini. Karena niatnya langsung terhalang oleh Rahan. Baru juga ingin berbagi kebahagiaan dengan tuan besarnya yang sangat ingin Rahan menikah lagi. Eh, malah terhalang langsung oleh orangnya sendiri.
'Aduh ... tuan besar pasti sangat bahagia jika tau tuan muda memberikan bunga sendiri pada perempuan. Tapi ... ah, mau bagaimana lagi. Dari pada tuan muda marah padaku, lebih baik aku simpan saja kebahagiaan yang saat ini aku rasakan.'
__ADS_1
Kantor Muroja grup seketika heboh karena kedatangan Rahan beserta buket besar mawar merah yang ia bawa sendiri. Bagaimana tidak? Kedatangannya tanpa membawa apapun sebelumnya sudah membuat gempar. Apalagi kedatangannya yang kedua dengan buket besar mawar merah. Tentu saja itu sangat menarik perhatian para karyawan yang melihatnya.
"Ya Tuhan. Untuk siapa buket itu?" Salah satu karyawan berucap.
"Tentu saja untuk nona Roslin."
"Bagaimana kamu bisa begitu yakin buket itu untuk nona? Bukankah tuan muda Rahan juga sering datang ke kantor kita hanya untuk bertemu dengan nyonya Rita?"
"Hei, mana ada pria muda datang membawa bunga untuk perempuan yang sudah tua? Yang benar saja kamu ini. Bagaimanapun, tuan muda Rahan itu adalah pria normal, kan?"
"Jaga bicaramu. Kamu gak lupa, kan? Nyonya Rita itu adalah orang terdekat nya tuan muda Rahan selama ini. Saat bicara dengan nyonya Rita, dia akan sangat berbeda dari dirinya yang biasa. Di tambah lagi, nyonya Rita beberapa hari lagi akan menyambut hari lahirnya. Wajar dong kalo tuan muda memberikan hadiah buat nyonya Rita."
Begitulah persepsi para karyawan yang melihat Rahan datang dengan buket bunga ke kantor tersebut. Karena mereka tidak bisa melihat sendiri pada siapa buket itu Rahan berikan, maka mereka masih tidak bisa menebak dengan pasti.
Sementara itu, Rahan langsung masuk ke ruangan Ros yang berada satu pintu dengan ruangan oma Rita. Kebetulan, hari ini oma Rita datang ke kantor. Jadi, itu semakin membuat orang tidak bisa memastikan dengan jelas siapa yang akan menerima buket yang Rahan bawa.
Ketika pintu di ketuk oleh Rahan, Ros sedang sibuk menerima panggilan dari seseorang. Penasaran dengan orang yang mengetuk pintu tanpa berucap, Ros pun memilih mengakhiri obrolan dengan orang yang ada dalam panggilan tersebut.
"Siapa?"
Rahan tidak menjawab. Dia malah diam saja di depan pintu ruangan tersebut. Bukan Rahan yang tidak ingin menjawab, tapi tiba-tiba saja, dia merasa gugup entah karena apa.
"Siapa? Jika ada perlu masuk saja!"
__ADS_1