Mawar Putih Berubah Merah

Mawar Putih Berubah Merah
*Episode 34


__ADS_3

Dan ... plak! Sebuah tamparan mendarat sempurna di wajah Eva. "Lancang kamu bicara hal yang tidak baik soal keponakanku! Kamu yang tidak berharga, bagaimana bisa di samakan dengan keponakanku yang sangat berharga, hah!"


Eva yang baru saja menerima tamparan dari mama mertuanya langsung memegang pipi kirinya yang terasa sangat panas. Sementara Mega dan mamanya, langsung mengukir senyum dengan tatapan sangat puas akan apa yang baru saja Eva terima.


"Mama tampar aku?" Suara kesal Eva terdengar dengan sangat jelas. Ditambah, tatapan tajam yang menatap lekat ke arah mama Dewa saat ini.


Sayangnya, apa yang Eva perlihatkan tidak sedikitpun membuat mama Dewa gentar. Orang tua yang sudah terbiasa memperlakukan menantunya dengan tidak baik, mana mungkin akan merasakan rasa bersalah sedikitpun. Mau menantu itu tunduk padanya, atau sebaliknya, tetap saja tidak akan ada pengaruhnya buat mama Dewa.


"Ya. Aku tampar kamu. Kenapa? Tidak terima karena barusan aku memberikan tamparan pada wajah tembok mu itu?"


"Asal kamu tau ya Evaliana. Kamu tidak lebih baik dari pada Roslin yang sebelumnya pernah menjadi menantuku. Karena dia tidak pernah membangkang apa yang aku katakan. Dia juga gampang untuk aku didik. Tidak sama seperti kamu. Sudah tidak berguna, malah sering membangkang lagi. Entah dosa apa yang sudah aku perbuat sehingga aku bisa mendapatkan menantu yang tidak berguna seperti kamu ini."


"Jangan samakan aku dengan perempuan jahat itu, ma! Aku tidak sama seperti dia. Dan lagi, jika mama tanya apa dosa mama karena mendapatkan menantu yang tidak sama dengan apa yang mama harapkan. Maka jawabannya adalah, dosa mama sangat besar dan banyak. Sampai tidak bisa diuraikan dengan kata-kata, alias, tidak bisa dihitung satu persatu."


Perlawanan Eva semakin membuat mama Dewa merasa kesal. Dengan amarah yang meluap, dia ingin memukul Eva lagi. Tapi kali ini, tangannya langsung Eva tahan dengan cepat.


"Mama tidak berhak memukul aku lagi. Karena aku di sini bukan untuk mama pukuli. Dan lagi, aku tidak akan diam jika kalian berniat menindas ku. Karena seperti yang sudah aku katakan, aku bukan Roslin yang akan diam saja saat kalian perlakukan dengan tidak baik."


"Kurang ajar! Lepaskan tanganku perempuan gila." Mama Dewa berucap dengan nada tinggi.


Melihat hal itu, Mega dan mamanya langsung ikut membantu. Mereka mengeroyok Eva dengan brutal. Memang, keluarga ini tidak pernah punya belas kasihan terhadap orang yang tidak mereka sukai. Tepatnya, orang yang tidak memberikan mereka keuntungan, maka tidak akan mereka anggap sebagai keluarga.

__ADS_1


"Mampus! Makanya jangan banyak bicara kamu perempuan. Sudah tidak ada gunanya, malah banyak omong lagi. Kamu kira, kamu bisa melakukan apa saja di rumah keluarga kami?" Mega angkat bicara sebelum ia mengikuti langkah mama juga tantenya meninggalkan Eva yang sedang kesakitan di sudut ruangan.


Eva tidak menjawab. Tapi perasaan marah memuncak dalam hatinya. Tubuh yang terasa sakit membuat dia tidak bisa bangun untuk melawan apa yang Mega katakan.


'Keluarga bia_ dab! Aku menyesal telah masuk dan tinggal di dalam keluarga gila ini. Jika saja waktu bisa aku ulang kembali, maka aku lebih memilih untuk tidak melanjutkan hubungan ini.'


'Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Kejahatan yang kalian lakukan, pasti akan aku kembalikan pada kalian secepatnya. Akan aku kembalikan berkali-kali lipat lagi nanti,' kata Eva sambil menggenggam erat tangannya.


Ini bukan yang pertama kalinya ia menerima kekerasan fisik setelah menikah dengan Dewa. Bisa dikatakan, dia sudah beberapa kali menerima kekerasan ini. Tidak hanya dari mama mertua, dari sepupu dan dari tante suaminya. Bahkan, dari suaminya sendiri ia juga bisa dikatakan sering menerima kekerasan fisik meski tidak meninggalkan bekas.


Tak jarang Dewa mendorongnya untuk menjauh. Memukul, atau kekerasan tangan yang ringan lainnya. Tapi Eva masih ingin bertahan karena dia ingin membuat keluarga itu membayar apa yang sudah ia terima.


Dia masih tidak ingin pergi sebelum membalaskan dendamnya pada keluarga Dewa. Seperti yang sudah ia niatkan dalam hati sebelumnya, maka dia akan menjalankan rencana kecil agar pembalasan dendam yang ia rasakan bisa terbayarkan.


'Kalian akan terima akibatnya tidak lama lagi. Akan aku buat kalian membayar semua yang sudah kalian lakukan padaku.' Eva berucap dalam hati sambil berusaha menggerakkan tubuhnya.


....


"Nona, pria itu datang lagi. Dia bilang, dia harus bertemu dengan nona sekarang. Jika tidak, keributan seperti kemarin-kemarin akan terjadi lagi."


Ros yang sebelumnya sibuk melihat laptop, kini langsung menghentikan apa yang sedang ia lakukan. Dia pun langsung mendengus kesal akan apa yang baru saja diucapkan sekretarisnya itu.

__ADS_1


"Heh .... Biarkan dia melakukan apa yang ingin ia lakukan. Karena dengan begitu, maka kita bisa mengirimnya ke kantor polisi hari ini juga."


"Tapi nona, jika keributan terjadi lagi, maka pekerjaan kita juga akan tertunda. Seperti beberapa hari yang lalu, pria itu menghancurkan barang kantor kita dengan brutal. Jika ia melakukan hal yang sama, maka .... "


"Baiklah. Aku akan temui dia sekarang," ucap Ros dengan cepat memotong perkataan si sekretaris.


Ros pun langsung bangun dari duduknya. Berjalan dengan langkah elegan nan anggun meninggalkan ruangan tersebut.


Sejujurnya, ia sangat tidak ingin bertemu dengan pria yang sekretarisnya katakan barusan. Pria yang tak lain adalah Dewa, mantan dari suaminya sendiri.


Setelah kegagalan di hari pernikahan, Dewa langsung mengejar dirinya kembali. Bukan untuk menyakiti kali ini. Tapi melainkan, ingin meminta Ros memaafkannya.


Hal itu membuat Ros merasa tidak nyaman. Dia sudah mengatakan kalau dirinya sudah memaafkan Dewa. Tapi si mantan suami malah menginginkan hal yang lain. Yaitu, ingin tetap berada di samping Ros meski tidak sebagai suami.


Entahlah. Entah apa yang Dewa pikirkan. Yang jelas, dia bilang ingin melihat Ros tiap hari. Meski tidak bisa memiliki, tapi ia ingin tetap ada di sekitar Ros.


Hal gila yang membuat Ros sangat-sangat kesal. Dewa melakukan segala cara agar Ros mau menemuinya. Termasuk, mengamuk dan merusak beberapa alat kantor seperti orang gila pada umumnya.


Tidak hanya itu, Dewa bagaikan kutukan bagi Ros. Dia selalu mengikuti Ros ke manapun Ros pergi. Ros ke restoran, ke kantor, atau ke tempat umum mana saja, pasti Dewa ada.


"Pria ini memang benar-benar sudah gila, Nona. Bagaimana jika nona pertimbangkan saran saya untuk menyewakan pengawal buat nona? Agar nona tidak diganggu lagi oleh pria ini."

__ADS_1


"Saran itu masih aku pertimbangkan. Karena aku masih bisa menjaga diriku untuk saat ini. Dan lagi, aku tidak ingin oma merasa cemas. Jika aku menyewa pengawal, maka oma sudah pasti berpikir jika ancaman yang sedang aku hadapi sangatlah berat."


__ADS_2