
Begitulah akhirnya Ros bebas dari mantan mama mertuanya. Ia pun langsung memasuki aula utama pesta, di mana pelaminan ada di sana. Ros tersenyum kecil ketika melihat Dewa dan Eva yang begitu bahagia.
'Nikmatilah kebahagiaan kalian yang hanya tinggal sedikit saja lagi. Karena hanya tinggal menghitung menit, kalian akan disibukkan dengan kekecewaan juga kesedihan yang akan melanda hati kalian semua. Aku jamin, kalian pasti akan sangat bersusah hati sebentar lagi.' Ros berucap dalam hati sambil terus menatap Eva dan Dewa yang kini sedang menyapa tamu dengan bahagia.
Kehadiran Ros pun akhirnya Eva dan Dewa sadari. Keduanya langsung bertukar pandang ketika melihat Ros ada di tengah-tengah para tamu undangan yang ramai.
Saat mata mereka saling beradu, Ros pun langsung mengukir senyum. Dengan langkah anggun dan indah, Ros berjalan menuju ke pelaminan. Semua mata pun langsung tertuju ke arah Ros.
Di saat itu, sebagain tamu langsung sibuk dengan apa yang sedang mereka pikirkan. Bisikan-bisikan kecil yang terdengar sangat jelas oun langsung mengiringi langkah kaki Ros menuju pelaminan mantan suaminya.
"Dia Ros? Benarkah yang aku dengar barusan, kalau dia itu Ros mantan istrinya Dewa?" Seorang tetangga yang cukup mengenal Ros sebelumnya langsung berucap.
Lalu, lawan bicaranya pun menjawab dengan pasti apa yang perempuan itu katakan.
"Sepertinya iya. Mama Dewa tadi sudah mengatakan kalau dia benar Roslin. Mantan menantunya yang pergi dari rumah karena tidak ingin di madu."
"Ih, siapa juga wanita yang suka di madu? Jika aku jadi Ros pun, aku akan melakukan hal yang sama. Lagian, jadi Dewa kok gak punya perasaan banget. Masa iya mau menikah lagi setelah punya istri cantik kek Roslin ini."
__ADS_1
"Hei, jeng. Ini agak rumit sih mau bilanginnya. Sebelum bercerai dengan Dewa, Ros itu gak secantik ini lho. Dia lebih mirip kek emak-emak yang sudah punya anak banyak. Ya wajarlah kalo Dewa langsung tertarik pada perempuan lain." Nah, ini pembelaan untuk Dewa dari tantenya sendiri. Adik dari mama Dewa yang juga tidak suka akan keberadaan Ros.
Entah kenapa, dia sangat tidak setuju saat Dewa menikahi Ros. Dia juga yang sudah menghasut Dewa agar tidak melakukan haknya sebagai suami. Karena itu, Dewa yang kebetulan punya perempuan lain langsung termakan kata-kata tante juga mama kandungnya sendiri.
Selanjutnya, omongan tentang Roslin semakin terasa seru. Para emak-emak yang sedang bergosip, langsung menanggapi apa yang tante Dewa katakan barusan dengan jawaban yang cukup sengit.
"Jeng, jika istri jelek, yang harus disalahkan itu bukan istrinya. Melainkan, suami itu sendiri. Kenapa? Ya karena jika ingin istri cantik, ya harus dimodali dong. Masa iya mau istrinya terlihat cantik, tapi gak ngasi modal. Gak ngasi perhatian. Gimana bisa cantik kalo gitu ceritanya?"
Wajah tante Dewa pun langsung terlihat merah padam akibat pukulan keras dengan kata-kata barusan. Karena pukulan itu mengenai tepat, maka tante Dewa tidak punya kata untuk membalas ucapan ibu-ibu barusan.
"Ibu-ibu semua, bukan mas ku yang tidak mau ngasi modal. Lah emang mbak Ros aja yang tidak ingin terlihat cantik. Karena sebelumnya, dia tidak sadar akan pentingnya menjaga kecantikan." Perempuan muda yang seumuran dengan Ros malah langsung ikut bicara.
Karena ucapan perempuan yang tak lain adalah adik sepupu Dewa ini, para ibu-ibu langsung membulatkan mata. Ada yang langsung percaya, tapi ada juga yang tidak terpengaruh sama sekali dengan apa yang perempuan ini katakan.
"Hah? Yang benar aja kalo ngomong. Jangan suka fitnah orang lain seperti ini, neng Mega. Kamu juga perempuan, bukan? Gak takut karma tuh. Mana tahu apa yang kamu bicarakan malah kembali ke wajah mu, Neng."
"Hei! Jangan bicara sembarangan ke anak saya. Apa yang anak saya katakan itu benar. Ros itu tidak sebaik yang kalian pikirkan. Dulu, dia memang ingin terlihat lugu saat jadi istri Dewa. Tapi setelah Dewa ingin menikah dengan Eva, dia malah langsung mendenda Dewa dengan denda yang sangat tinggi. Yang dana itu bisa untuk membeli ruko tiga tingkat dengan enam pintu. Kan gila namanya."
__ADS_1
Tante Dewa malah semakin menjadi-jadi sekarang. Dia semakin ingin menjelekkan Ros dengan fitnahan yang sama sekali tidak pernah ada sebelumnya.
"Iya, ibuk-ibuk. Keluarga kami benar-benar ingin diporotin habis-habisan oleh mbak Ros. Padahal, mas ku ingin menikah lagi karena mbak Ros tidak bisa memberikan mas ku keturunan. Karena itu, dia mau menikahi kak Eva."
Begitulah ibu dan anak terus menjelekkan Ros sampai tidak ada kesan baik lagi yang tersisa. Keduanya begitu gencar memfitnah Ros dengan apa saja yang terlintas di benak mereka. Memang dasar keluarga yang tidak tahu apa itu namanya terima kasih. Sudah diberi ketulusan, malah dianiaya.
Sementara itu, Ros yang kini sudah berada di hadapan Dewa dan Eva, langsung menyunggingkan bibir dengan lebar. Kata selamat pun ia ucapkan dengan senyum yang terus ia pertahankan.
"Selamat menempuh hidup baru, Evaliana, mas Dewa. Semoga kalian bahagia dalam apapun kondisi yah."
Eva yang bahagia karena sudah merasa menang, tentu saja langsung menyambut ucapan itu dengan sangat bangga. Tak lupa, senyuman Ros ia balas dengan senyuman yang penuh dengan penghinaan.
"Terima kasih banyak lho, kak Ros. Aku senang deh kamu bersedia datang. Melihat aku yang berbahagia bersama kak Dewa, aku yakin itu tidak akan mudah buat kamu. Karena sebelumnya, kamu sudah berjuang sangat keras untuk membuat kak Dewa jatuh cinta. Sayangnya, kamu malah gagal meskipun sudah berjuang dengan sekuat tenaga."
Jika Ros yang dulu mendengarkan ucapan ini, maka dia pasti merasa sangat sedih. Bagaimana tidak? Dia memang sudah berjuang keras untuk mendapatkan hati orang yang ia cintai. Bahkan, rela hidup menderita dengan harapan, suatu hari, cinta itu akan datang dan berpihak padanya.
Tapi sekarang, cinta yang Ros punya untuk Dewa sudah musnah. Hancur, lalu lenyap tak tersisa. Terbang tinggi bersama hembusan angin kekecewaan yang sudah berhembus dengan kencang. Karena itu, ucapan Eva barusan tidak sedikitpun membuat Ros merasa tersakiti meskipun terdengar sangat amat menyakitkan.
__ADS_1
"Ah, untuk hal itu, aku sama sekali tidak merasa sedikitpun terbebani, Eva. Kamu yang mengundang aku untuk datang. Karena itu aku datang meskipun dalam keadaan yang sangat sibuk. Aku pikir, jika aku tidak datang, kamu pasti akan kecewa. Soalnya, kamu udah susah payah nganterin undangan pernikahanmu sendiri ke kantorku. Jika aku tidak datang, aku yakin, kamu pasti akan bersedih."
Ucapan Ros membuat Dewa langsung menoleh ke arah Eva. Karena sebelumnya, dia sudah melarang Eva untuk mengganggu Ros. Dewa juga tidak ingin Ros menghadiri pernikahannya. Karena itu, dia melarang keluarganya mengundang Ros ataupun keluarga Muroja.