Mawar Putih Berubah Merah

Mawar Putih Berubah Merah
*Episode 35


__ADS_3

"Saran itu masih aku pertimbangkan. Karena aku masih bisa menjaga diriku untuk saat ini. Dan lagi, aku tidak ingin oma merasa cemas. Jika aku menyewa pengawal, maka oma sudah pasti berpikir jika ancaman yang sedang aku hadapi sangatlah berat."


"Lagipula, gangguan ini juga masih belum ada dua minggu, bukan? Kita nikmati saja dulu sampai dia merasa bosan. Atau, sampai dia dibawa ke rumah sakit jiwa, ataupun ke kantor polisi karena tuduhan mengganggu ketenangan orang lain." Ros berucap sambil nyengir yang memperlihatkan gigi depannya yang tersusun rapi.


"Semakin lama, nona terasa semakin menakutkan yah. Karena sebelumnya, aku pikir, nona benar-benar ingin membiarkan pria itu berbuat sesuka hati." Si sekretaris yang sekarang sudah sangat dekat dengan Ros berucap dengan lancar seperti tanpa beban.


"Tidak akan pernah. Aku tidak akan membiarkan ia berbuat sesuka hati lagi sekarang. Bagiku, sudah cukup sekali ia berbuat sesuka hati terhadapku. Maka tidak akan ada yang kedua kalinya. Dia akan tahu siapa Roslin yang sekarang."


Obrolan itupun langsung terputus karena Roslin dan si sekretaris sudah tiba ke tempat di mana Dewa berada. Sambutan hangat Dewa berikan ketika melihat Ros yang datang memenuhi panggilannya.


"Roslin. Kamu akhirnya muncul juga." Dewa berucap sambil tersenyum lebar.


"Tentu saja aku muncul, karena aku tidak ingin kamu mengganggu pekerjaan karyawan ku."


"Kamu takut dengan ancaman ku, Roslin? Ah! Maafkan aku karena sudah memberikan ancaman itu. Karena tanpa ancaman itu, maka kamu tidak akan pernah ingin menemui aku."


Ros pun terkekeh ringan karena ucapan Dewa barusan. Sungguh, hatinya merasa sangat geli akan kata-kata itu. Pria itu ternyata masih sama seperti dulu. Terlalu percaya diri yang pada akhirnya menimbulkan kesan yang agak memalukan untuk dirinya sendiri.


"Bukan takut, mas Dewa. Aku hanya sedikit berbaik hati sekarang. Ancaman mu itu sebenarnya tidak ada apa-apanya bagi aku. Karena aku bisa saja membuat kamu langsung tidak bisa menghirup udara segar jika aku mau."


Lalu, Ros tidak membiarkan Dewa menyela ucapannya sedikitpun. Dia langsung saja melanjutkan perkataannya dengan cepat.


"Katakan! Apa lagi yang kamu inginkan sekarang, Mas?"


"Roslin. Kamu tahu apa yang aku inginkan, bukan? Aku ingin bertemu denganmu. Mendengar kata maaf, lalu bicara dengan tenang. Itu saja."


Ros langsung mendengus kesal. Entah berapa kali Dewa mengatakan hal tersebut, dia juga sudah tidak bisa mengingatnya. Karena setiap bertemu, pria itu pasti berucap dengan kata-kata yang sama.


"Heh ... harus berapa kali aku mengatakan kalau aku sudah memaafkan kamu, Mas?"

__ADS_1


"Tapi ... kamu tidak ingin bicara lama-lama dengan aku sekarang, Roslin. Itu sama saja dengan .... "


"Cukup, Mas! Aku sekarang sedang sangat sibuk. Tidak ada waktu untuk bicara terlalu lama."


Wajah sedih pun langsung Dewa perlihatkan.


"Roslin. Dulu ... kamu selalu punya banyak waktu buat aku. Kenapa sekarang, kamu malah terkesan selalu menghindar dariku?"


"Ros, aku salah. Karena telah menyia-nyiakan kamu. Apakah tidak ada kesempatan kedua untuk aku memperbaiki kisah kita?"


Sungguh, ucapan itu rasanya langsung membangkitkan perasaan kesal dalam hati Ros. Ingin sekali Ros bertingkah gila saat ini juga dengan bicara dengan nada tinggi untuk meluapkan semua kekesalannya pada Dewa. Tapi sayang, itu tidak bisa ia lakukan. Karena Ros tahu, hal itu tidak ada gunanya.


"Mas Dewa, dengar baik-baik! Tidak akan ada kisah yang sama untuk yang kedua kalinya. Sejarah tidak akan pernah terulang. Meski aku sudah memaafkan kamu, tapi kita tetap tidak bisa berjalan di jalan yang sama lagi. Karena waktu, tidak akan pernah kembali."


"Tapi Ros .... "


"Aku masih banyak pekerjaan. Aku harus kembali," ucap Ros sambil membalikkan tubuhnya.


Seperti biasa, Dewa selalu pasrah saat Ros pergi. Dia memang sudah merasa cukup walau hanya bicara beberapa menit saja. Karena bagi Dewa, beberapa menit juga sudah cukup.


Tapi bagi Ros, tidak sama sekali. Sedetik saja dia bertemu dengan Dewa, itu rasanya sangat tidak nyaman. Apalagi ketika harus menghabiskan waktu beberapa menit. Sungguh sesuatu yang sangat tidak nyaman baginya.


....


Setelah berhasil bertemu Ros, Dewa seperti biasa langsung kembali. Tentu saja dengan wajah yang cukup bahagia karena sudah bertemu dengan orang yang ia rindukan.


"Dari mana saja kamu, Dewa? Kenapa selalu tidak ada di rumah setiap harinya, hah! Kerja juga tidak kamu. Keluyuran melulu."


Suara lantang dari sang mama tidak membuat Dewa gentar. Ia bahkan tidak menggubris sedikitpun apa yang mamanya katakan. Ia terus melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam menuju dapur. Hal itu tentu membuat kesal hati sang mama.

__ADS_1


"Dewa! Nggak dengar kamu apa yang mama katakan?"


"Dengar, Ma."


"Dasar anak kurang ajar! Kamu pasti mendatangi kantor Muroja lagi, bukan? Bertemu Roslin di sana. Apa kamu sudah gila, Dewa?"


Kegiatan membuka kulkas langsung Dewa hentikan. Dengan wajah kesal, dia melirik mama. Sementara Eva yang kini ada di kamar mandi akibat dipaksa mencuci pakaian pun langsung menghentikan pekerjaannya.


Ucapan mama Dewa sungguh membuat hati Eva kesal. Dia susah payah bekerja di rumah layaknya seorang budak yang tidak berharga. Eh, suaminya malah sibuk mengejar janda. Sungguh drama yang luar biasa.


"Apa, kak Dewa! Kamu masih terus mendatangi kak Roslin? Kamu .... "


"Diam kamu! Jangan ikut bicara jika tidak mau aku melampiaskan rasa kesal ku padamu." Dewa langsung membentak Eva.


Si mama juga tidak akan tinggal diam. Dia pun ingin ikut bicara. "Apa-apaan sih ini perempuan. Sungguh tidak punya tata krama. Nggak diajak bicara, malah ikut bicara."


"Tuh Dewa, disiplinkan calon mantan istrimu itu. Setiap hari kerjaannya bikin kesal aja." Tante Dewa juga angkat bicara.


Dia yang kebetulan masih berada di rumah ini, tentu tidak akan diam saja saat mendengar percekcokan antara keluarganya dengan anak menantu dari keponakannya itu. Memang benar-benar biang keladi ini orang tua.


"Tante diam ya! Gak usah ikut campur urusan keluarga ini. Ini urusan keluarga kamu, tante tidak perlu ikut-ikutan." Eva yang sangat kesal, tanpa pikir panjang lagi langsung berucap.


"Diam! Dia itu adalah keluarga kami. Kamu yang orang lain di sini. Jadi, jangan banyak bicara kamu." Mama Dewa angkat bicara dengan nada tinggi.


"Cukup! Kenapa kalian begitu berisik! Aku baru pulang, kenapa kalian malah langsung ribut."


"Untuk kamu!" Dewa berkata sambil menuding Eva. "Apa yang aku lakukan bukan urusan kamu. Karena aku akan menceraikan kamu tak lama lagi. Setelah waktu tiga bulan yang papamu berikan, maka kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi, jangan ikut campur soal kehidupan pribadiku."


Eva hanya bisa diam sambil memberikan tatapan tajam ke arah Dewa. Dia juga menggenggam erat tangannya untuk menyalurkan amarahnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2