
Anggukkan yang Ros berikan langsung membuat mata Rahan berbinar. "Ap-- apa maksudnya itu?" Rahan yang selalu tenang dalam dingin itupun bisa gugup seperti saat ini.
Jika berurusan dengan hati, maka es batu pun bisa mencari, lalu berubah menjadi air sirup yang manis. Begitulah Rahan saat ini, dia luluh bak bukan pria yang dingin lagi sekarang. Cintanya pada Ros, sudah mengubah dia menjadi pria hangat yang begitu romantis.
"Ya. Aku terima lamaran dadakan ini. Meskipun, aku harus berpikir ulang untuk menjawab. Tapi hati ini tidak bisa aku ajak kerja sama. Hati ini menginginkan menjawab dengan cepat."
"Ja-- jadi .... "
"Aku terima lamaran ini. Karena aku ... juga suka kamu sejak pertama kali melihatmu," ucap Ros dengan nada agak malu-malu.
Rahan yang bahagia tidak menjawab dengan kata-kata lagi. Secepat yang ia bisa, dia sematkan cincin berlian ke jari manis Ros. Lalu, dia pun langsung menarik Ros ke dalam pelukannya.
Saat mereka berpelukan, lampu dinyalakan kembali. Taburan kelopak bunga pun berguguran dari atas. Hal tersebut menambah romantisnya suasana mereka saat ini.
Kebahagiaan yang sangat nyata mereka perlihatkan sekarang. Tanpa aba-aba, Rahan pun langsung menjatuhkan ciuman pertama ke bibir Ros. Hal itu langsung membuat Ros bersemu akibat malu sekaligus sangat bahagia.
Ini adalah saat yang paling bahagia dalam hidup Ros untuk selama hidup yang sudah pernah ia lalui. Karena sebelumnya, dia belum pernah merasakan hal tersebut. Roda kehidupan mungkin sudah berputar sekarang.
...
Setelah kembali, Rahan langsung mengatakan prihal lamarannya pada kedua orang tuanya. Sebelum itu, dia sudah bicara pada oma Rita akan lamaran tersebut. Dan, tanggapan mereka semua sungguh sangat membahagiakan buat Rahan. Karena sang mama yang sebelumnya ingin menikahkan Rahan dengan mantan adik iparnya itupun, ternyata sangat bahagia saat tahu Rahan ingin menikah dengan Ros. Perempuan pilihan Rahan sendiri.
"Jadi, kapan kamu akan melamar Roslin secara resmi, Rahan?" Sang mama secara tulus melemparkan pertanyaan itu pada anaknya.
"Secepatnya."
__ADS_1
"Ya, secepatnya itu kapan, Rahan? Masa cuma bilang secepatnya aja. Tapi harinya gak tahu. Itu sama aja dengan masih belum jelas kabarnya, bukan?" Papa Rahan berucap dengan nada agak kesal.
Rahan yang menerima ucapan itu, malah hanya diam memikirkan apa yang papanya katakan. Lalu, sang mama angkat bicara lagi. "Mm ... baiklah kalau gitu. Jika anak tidak tahu kapan akan melaksanakan hal baik ini, maka orang tua yang akan memutuskan."
Dengan penuh semangat, mama Rahan berucap. "Bagaimana jika besok, Pah? Rahan? Makin cepat akan semakin baik, bukan?"
Sontak, Rahan beserta papanya langsung memberikan tatapan tak percaya pada apa yang mama Rahan katakan. Keduanya pun tak luput dari saling bertukar pandang satu sama lain.
"Kok ... kalian malah kelihatan bingung gitu sih? Apa ucapan mama barusan itu salah?"
Papa Rahan langsung mengukir senyum lebar. "Gak salah sih, Ma. Cuman ... ada sedikit yang aneh menurut papa."
"Anehnya di mana, Pa?"
"Anehnya di ... mama yang begitu antusias saat ini. Papa jadi mikir, kok mama bisa berubah seperti ini. Karena sebelumnya, mama sangat amat ingin Rahan menikah dengan Winsty, bukan?"
"Bukankah Rahan yang tidak suka pada Winsty. Sama halnya seperti papa, mama juga ingin punya cucu. Mama juga ingin melihat generasi penerus Brawijaya selagi mama masih bernapas, Pa. Jadi, mama rasa, tidak ada yang salah dengan antusiasnya mama saat ini."
Ucapan itu langsung meyakinkan Rahan dan papanya, kalau sang mama memang tidak punya niat lain selain memang ingin melihat Rahan segera menikah. Selanjutnya, mereka pun membicarakan dengan serius prihal lamaran untuk Roslin.
Dalam pembicaraan itu, mereka sepakat memutuskan untuk melamar Ros dalam waktu tiga hari ke depan. Mereka akan melakukan persiapan yang matang. Karena rencananya, jika acara lamaran berjalan mulus, maka pernikahan akan dilaksanakan seminggu kemudian.
....
Kabar lamaran sampai ke telinga Winsty. Betapa marahnya dia akan kabar tersebut. Dengan kemarahan yang membara, dia bertekad untuk menghancurkan hari bahagia Ros dengan Rahan.
__ADS_1
"Tidak akan aku biarkan kak Rahan menikah dengan perempuan lain selain aku. Karena hanya aku yang berhak atas kak Rahan." Winsty bicara sendiri ketika ia berada di pinggiran jalan saat melihat Ros dan Rahan bersama.
"Tapi sayangnya, kamu tetap tidak bisa memiliki dia, bukan? Karena sebentar lagi, dia akan menikah dengan si janda kembang itu."
Perkataan itu langsung membuat Winsty yang kesal semakin kesal. Dia langsung menoleh dengan cepat untuk melihat orang yang begitu berani menjawab apa yang ia katakan barusan.
Di samping Winsty saat ini sedang berdiri seorang perempuan yang tak lain adalah Eva. Dia sengaja mencari Winsty hanya untuk mengajak perempuan itu bekerja sama. Tujuannya tak lain hanya untuk menghancurkan Ros yang sebelumnya sudah menghancurkan hidupnya.
"Siapa kamu! Perempuan yang tidak punya malu! Berani sekali ikut campur dalam urusanku." Winsty berucap dengan nada kesal.
"Oh, maaf. Aku tidak bermaksud ikut campur dalam urusan pribadi orang lain. Hanya saja ... aku sangat kesal dengan perempuan yang saat ini ada di samping tuan muda Rahan. Perempuan janda yang tidak tahu diri."
"Kamu kenal dengan perempuan itu?" Winsty mulai terpancing sekarang.
"Tentu saja aku kenal. Dia mantan istri dari orang yang aku cintai. Dia .... "
"Tunggu! Jangan bilang kamu adalah perempuan yang pernah viral waktu itu. Gagal menikah karena resepsi pernikahan kamu hancur karena mantan istri dari suamimu datang."
Eva terdiam sesaat. 'Sial! Ternyata kabar itu begitu viral sampai perempuan ini juga tahu akan hal yang menjijikan itu. Ini semua karena Roslin. Tunggu saja kamu Roslin. Akan aku hancurkan kamu lagi.'
"Itu ... ah, semua karena fitnah kejam dari mantan istri suamiku. Dia yang sudah meninggalkan suamiku, eh ... malah kembali setelah kami menikah. Dia tidak terima kalau suaminya menikah lagi. Karena itu, dia merusak pernikahan kami."
Begitulah obrolan Eva dengan Winsty terus berlanjut. Hingga akhirnya, kesepakatan kerja sama pun terjalin.
"Baiklah, jika rencana yang kamu katakan itu berhasil, maka akan aku berikan kedudukan yang kamu inginkan di perusahaan keluarga kami."
__ADS_1
"Oke. Aku pegang kata-katamu. Ikuti saja rencana yang aku katakan dengan baik. Maka aku jamin, rencana yang aku punya akan berjalan dengan lancar," ucap Eva dengan senyum lebar di bibirnya.
Lalu, keduanya pun sama-sama tersenyum. Rencana besar akan mereka laksanakan. Winsty yang awalnya ragu akan rencana yang Eva katakan, kini malah langsung merasa sangat yakin. Karena keduanya sama-sama mempunyai keuntungan dari rencana tersebut. Sedangkan tujuan, tujuan mereka sama. Ingin menghancurkan Roslin.