Mawar Putih Berubah Merah

Mawar Putih Berubah Merah
*Episode 37


__ADS_3

Sementara Mega juga merasakan hal yang sama. "Tidak mungkin. Ini pasti tidak benar, bukan?"


"Ma .... " Mega dengan kesal melihat ke arah mamanya.


"Tenang, Mega." Si mama berbisik dengan suara pelan.


"Nyonya, bagaimana mungkin anda bisa menjadikan seseorang yang tidak ada hubungan darah dengan anda sebagai pewaris? Sementara ... anda punya pewaris yang sah di sini sekarang." Mama Mega masih berusaha meyakinkan oma Rita akan apa yang sudah ditolak mentah-mentah sebelumnya.


Memang dasar keluarga berhati batu, bermuka tembok, dan bertelinga kuali mereka ini. Sudah di sanggah dengan sangat jelas, eh ... masih saja tidak mengerti juga. Masih tetap mengatakan jika Mega adalah bagian dari keluarga Muroja hanya untuk mendapatkan harta keluarga tersebut. Kenal nggak. Tau-tau ingin mencoba keberuntungan yang tidak akan pernah berpihak pada mereka.


"Nyonya, Mega ini adalah cucu nyonya yang sah. Anak dari anak kandung nyonya. Jadi ... tolong pertimbangkan untuk darah daging anda buat tinggal di sini, nyonya."


"Bagaimana kamu bisa begitu yakin kalau dia adalah darah daging ku? Setelah semua yang aku jelaskan, kamu masih tidak memahaminya juga? Aku tidak punya cucu! Apa kamu tidak mengerti juga?"


"Bagaimana jika anak nyonya menghamili perempuan lain? Dan anaknya ada di depan nyonya saat ini?"


Semakin mengada-ada saja tante Dewa ini. Hanya karena ingin harta, dia semakin tak karuan dalan bicara. Sampai, bisa bicara hal yang sungguh diluar logika oma Rita segala.


Oma Rita yang mendengar ucapan itupun langsung terkekeh pelan. Kemudian, oma Rita yang kesal langsung memanggil pelayan buat datang ke tempat di mana mereka berada saat ini.


"Ya, Nyonya." Dua pelayan wanita langsung datang untuk memenuhi panggilan oma Rita.


"Ada apa, nyonya?" Salah satu pelayan kembali angkat bicara.


"Desy, panggil penjaga utama datang ke sini. Sementara kamu, panggil polisi untuk datang ke rumah kita."


Sontak saja, wajah Mega dan mamanya langsung panik. "Nyo-- nyonya."

__ADS_1


"Kenapa kalian takut? Apa ini ada hubungannya dengan kalian berdua?" Oma Rita langsung melirik ibu dan anak yang sangat ketakutan saat kata polisi diucapkan.


"Ti-- tidak nyonya. Kami tidak takut, karena kami ada di pihak yang benar sekarang. Mega memang bagian dari keluarga ini. Jadi .... "


"Cukup! Tutup mulutmu itu. Asal kalian tahu, aku tidak akan punya cucu karena anakku bukan pria melainkan wanita. Wanita yang punya kelainan, yang menyukai sesama wanita. Jadi, dia tidak akan punya anak sama sekali."


Berat sebenarnya untuk oma Rita mengatakan keburukan si anak yang sudah tiada. Tapi, rasa kesal akan kebohongan yang ibu dan anak ini perbuat sungguh membuat ia terpaksa mengatakan apa yang tidak ingin ia katakan.


"Dan lagi, asal kalian tahu, Ros adalah cucu jauhku. Meskipun dia bukan cucu kandung, tapi setidaknya, dia masih punya ikatan keluarga dengan keluarga Muroja. Karena mamanya adalah anak dari sepupuku. Mengerti kalian berdua?"


Di saat itu, penjaga utama datang bersama polisi dan ... Roslin sendiri. Kebetulan, Ros pulang lebih awal hari ini, jadi tanpa sengaja, dia mendengar apa yang sebelumnya oma Rita sembunyikan dari dirinya.


"Ap-- apa, oma? Aku .... "


"Ros."


"Ros, maafkan oma yang telah menyembunyikan hal ini dari kamu. Oma juga baru tau, kalau kamu dan oma juga punya ikatan keluarga, sayang."


Ros masih diam membisu, entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Yang jelas, dia kembali merasa tidak nyaman akan status yang sedang ia sandang saat ini.


"Ros, kamu tidak perlu merasa tidak nyaman lagi sekarang, Nak. Karena sesungguhnya, kamu layak mendapatkan harta keluarga Muroja yang saat ini kamu genggam."


"Tapi oma, apakah semua ini benar? Aku ... memang dari bagian keluarga Muroja. Itu tidak mungkin, bukan?"


Oma pun langsung bangun dari duduknya. Ia sentuh bahu Ros dengan lembut. "Ros, aku punya keponakan yang kabur dari rumah hanya karena hubungannya tidak direstui oleh orang tua."


Ros pun terlihat sangat kaget. Lalu, oma Rita langsung menceritakan prihal si keponakan dengan tatapan lurus ke depan.

__ADS_1


Keponakan itu ternyata jatuh cinta pada pria dari desa yang hidup miskin. Tapi papanya tidak merestui hubungan itu karena tidak sederajat dengan mereka.


Akhirnya, keponakan itu kabur tanpa meninggalkan jejak. Si papa yang murka pula langsung mengatakan kalau anaknya telah mati akibat si anak pergi meninggalkan dirinya.


Keponakan itu tak lain adalah, mama dari Ros. Karena pria yang ia cintai, dia rela meninggalkan semua kemewahan tanpa berpikir ulang. Dan, karena kesalahan itu pula, dia harus menyiksa anaknya yang tidak tahu apa-apa. Karma pasti akan berlaku.


Buliran bening jatuh dari mata Ros saat oma Rita selesai bercerita. "Jadi, aku adalah anak dari perempuan yang lari hanya demi pria, oma? Lalu, di mana kakekku saat ini? Apa dia masih hidup, oma?"


Oma Rita tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menggeleng pelan sambil menatap sedih ke arah Ros.


"Dia sudah tidak ada, Ros. Beberapa bulan setelah kepergian mama mu, kakek mu pun menghembuskan napas terakhir. Dan, mama mu tidak tahu akan hal itu. Karena kakek mu, tidak mengizinkan mama tahu akan kabar kematiannya."


"Rasa kecewa yang terlalu dapat membuat dia tidak ingin anaknya mengunjungi makamnya sekalipun. Dan, karena kekecewaan itu juga, dia menghapus semua aset yang tertulis atas namanya."


Ros pun tak mampu memberikan tanggapan. Karena ternyata, silsilah keluarganya sangat amat rumit. Entah kenapa, dia mendadak merasa tidak karuan setelah mendengar cerita oma Rita. Meski sebagian kenyataan membuat ia sedikit bahagia. Namun, kenyataan yang lainnya pula membuat dia merasa sedih.


...


Kabar masuknya Mega dan mamanya ke kantor polisi membuat panik satu rumah keluarga Dewa. Tapi, tidak dengan Eva tentunya. Saat kabar itu datang, dia malah sangat bahagia.


"Rasakan kalian! Baru kena batunya, kan. Sudah aku katakan, jangan bikin ulah gila. Eh, malah bikin juga. Kan, kena karmanya." Eva berucap sambil terkekeh ringan.


Mama Dewa yang melihat hal itu, tentu saja sangat marah. Keluarga dalam keadaan panik, eh ... Eva malah bahagia. Bagaimana tidak marah coba?


"Perempuan sialan. Bisa-bisanya kamu tertawa di saat adik dan keponakanku ditahan polisi. Sungguh tidak punya hati kamu ya." Mama Dewa berucap sambil ingin memukul Eva.


Tapi sayangnya, Eva tidak membiarkan perempuan itu menyentuh tubuhnya. Dia malah menghindar yang membuat mama Dewa langsung tersungkur.

__ADS_1


Malang tidak bisa dielak. Kepala mama Dewa yang jatuh langsung membentur sanding meja dengan keras. Alhasil, kepala itu seketika mengeluarkan darah akibat benturan keras yang terjadi.


__ADS_2