
Ada banyak bunga yang menghiasi dalam restoran. Anehnya, hanya ada satu meja dengan dua kursi saja. Sedangkan meja yang lainnya tidak terlihat sama sekali. Sambutan para pelayan juga sangat berbeda dari biasanya.
Yang biasanya ramah seadanya, kini malah berbaris buat memberikan sambutan untuk mereka berdua. Hal itu memberikan rasa yang berbeda buat Ros. Seperti ... masuk ke dalam kastil saja. Bukan masuk ke dalam restoran umum yang biasanya selalu ramai akan pengunjung mana saja yang bisa makan dengan bebas asal punya uang.
"Rahan. Katakan padaku kamu apakan restoran megah ini! Jangan bilang kamu membelikan restoran ini hanya untuk membuat hal yang terlalu berlebihan seperti sekarang ya."
Rahan menoleh sambil tersenyum.
"Tidak. Kamu tenang saja. Aku tidak sampai harus membeli restoran ini hanya untuk kita makan malam yang hanya cuma beberapa jam saja. Aku hanya perlu ... memerintahkan mereka buat menutup restoran ini satu hari agar kita bisa makan berdua tanpa ada gangguan dari orang lain."
"Maksud kamu, kamu membooking restoran ini? Begitu kah?"
"Bisa dibilang begitu," ucap Rahan dengan nada enteng tanpa beban.
Ros yang awalnya berjalan di sebelah Rahan, karena ucapan itu malah langsung menghentikan langkahnya. Hal tersebut sontak langsung membuat Rahan menoleh dengan wajah bingung.
"Kenapa tiba-tiba berhenti? Apa ada yang bikin kamu merasa tidak nyaman barusan?"
"Ada."
"Apa? Katakan saja langsung jika ada yang buat hatimu merasa terbebani atau tidak nyaman."
"Kenapa harus booking restoran mewah segala hanya untuk makan malam? Kan ... sama dengan berlebihan, bukan?"
Rahan tersenyum manis. "Tidak ada yang namanya berlebihan bagi aku untuk seseorang yang sangat berharga buat aku."
__ADS_1
Ros pun langsung menatap lekat. Kata-kata itu terasa seperti sebuah ungkapan perasaan, tapi tidak secara langsung.
"Maksudnya?" Ros malah kembali bersikap sangat polos. Malam ini, dia memang sangat mirip dengan gadis desa yang tidak kenal apa artinya cinta. Yang masih lugu nan polos. Padahal sesungguhnya tidak begitu.
Tapi, makan malam berdua seperti saat ini memang yang pertama kali ia lakukan dalam hidupnya. Maklum, selama ia remaja, tidak ada yang namanya kisah cinta romantis nan manis. Karena semua waktu yang ia jalani saat usia remaja, dia habiskan untuk bekerja agar bisa hidup meski seadanya saja.
Jadi sekarang, jika ia terkesan masih sangat polos meski sudah tahu akan banyak hal, itu bisa di sebut wajar. Karena ini adalah kencan romantis yang pertama dalam hidupnya. Hal yang baru pertama kali ia alami selama ia hidup di dunia ini.
Sementara itu, Rahan yang tahu akan apa yang ada dalam pikiran Ros, dan dia sangat maklum dengan keadaan Ros saat ini, malah tersenyum kecil. Baginya, Ros sangat lucu dengan sikap polos yang baru pertama kali ia lihat sejak mereka bertemu.
"Ros-Ros. Ah, lupakan saja apa yang sudah aku katakan sebelumnya. Ayo! Waktu semakin berlalu. Jadi, jangan banyak menghabiskan waktu begitu saja, oke."
"Tunggu! Aku masih merasa tidak nyaman dengan apa yang sudah kamu lakukan, Rahan. Kamu terlalu berlebihan malam ini. Tidak perlu sampai membooking tempat besar seperti ini hanya untuk makan malam berdua saja. Itu .... "
Ucapan Rahan membuat Ros menatap bingung. Tapi, tidak mengeluarkan satu katapun. Rahan yang paham langsung saja menjelaskan akan apa yang sedang terjadi.
"Roslin, aku gak booking tempat ini karena ini adalah restoran milik keluarga Brawijaya. Jadi, kamu bisa merasa nyaman sekarang, bukan?"
Ros pun terpaku. Bukannya merasa nyaman, dia malah merasa semakin tidak enak hati karena sudah membahas hal yang tidak seharusnya ia bahas.
'Ya ampun, Roslin. Kenapa kamu jadi bego begini sih? Masa iya membahas hal yang tidak penting sama sekali sih barusan? Udah tahu keluarga Rahan orang yang paling kaya. Jadi, kenapa malah mempermasalahkan hal kecil yang tidak ada sangkut pautnya dengan kamu. Dasar!' Ros mengomeli dirinya sendiri dalam hati.
'Semua ini terjadi karena aku terlalu gugup. Masa hanya diajak makan malam berdua aku jadi tak karuan seperti ini. Aduh ... tenanglah, Roslin. Kamu bisa. Bukankah selama ini kamu adalah orang yang paling tenang,' kata Ros lagi dalam hati.
Karena hal itu, Ros malah memilih diam ketika makan malam berlangsung. Saat Rahan bertanya mau makan apa, dia juga menjawab seadanya saja. Setelah itu, Ros memilih diam kembali.
__ADS_1
"Ros, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu malam ini," ucap Rahan setelah mereka selesai makan.
"Mau bicara soal apa?"
"Itu soal .... " Rahan langsung menggantungkan kalimatnya. Kemudian, dia menjentikkan tangannya dua kali.
Seketika, lampu di ruangan tersebut langsung padam. Selanjutnya, satu lampu remang-remang langsung menyala. Khusus hanya menerangi meja mereka berdua.
Ros yang bingung masih belum sempat berkomentar saat ia melihat Rahan yang sudah berjongkok dengan satu kali di sampingnya. Sungguh, pemandangan yang tak pernah Ros alami sebelumnya. Lamaran romantis yang selama ini ia impikan, yang selalu ia lihat di drama negara jiran yang paling ia sukai. Dan sekarang, dia sendiri yang mengalaminya.
"I-- ini ... Rahan?"
"Menikahlah denganku, Roslin. Aku suka kamu sejak pandangan pertama. Tapi, aku berusaha untuk menyangkalnya karena aku tahu, kalau aku tidak bisa membuat orang lain bahagia hanya dengan hidup bersama tanpa bisa memberikan kehangatan."
"Tapi ... perlahan aku sadar, semakin aku menyangkal, perasaan itu akan semakin terasa tumbuh, lalu membesar. Dan aku, semakin lama merasa semakin ingin memiliki dirimu. Saat itu aku berusaha meyakinkan diriku sendiri. Kalau aku yang tidak bisa memberikan kehangatan ini, pasti bisa berubah dengan belajar."
"Karena itu, Roslin. Aku ada di sini dengan penuh keberanian menyatakan lamaran ku padamu. Maukah kamu menikah denganku, Roslin Muroja?"
Pertanyaan itu langsung menyadarkan Ros kalau dia harus memberikan jawaban sekarang. Bukan hanya terus menikmati setiap ucapan untuk menjadi pendengar yang baik.
Namun, apa yang ingin ia lakukan tidak semudah yang ia pikirkan. Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang menyangkut masa depan mereka berdua, Ros harus berpikir ulang. Yang itupun masih tidak ia temukan jawaban apa yang harus dia berikan.
Tapi hati, tidak akan pernah bisa dicegah jika menginginkan sesuatu. Meskipun lembut, dia akan lebih keras dari tulang. Karena kata hati yang juga menginginkan Rahan menjadi miliknya, Ros pun tidak bisa untuk mempertimbangkan lebih jauh lagi. Perlahan, sebuah anggukkan pelan ia berikan sebagai jawaban atas pertanyaan Rahan barusan.
Anggukkan yang Ros berikan langsung membuat mata Rahan berbinar. "Ap-- apa maksudnya itu?" Rahan yang selalu tenang dalam dingin itupun bisa gugup seperti saat ini.
__ADS_1