Mawar Putih Berubah Merah

Mawar Putih Berubah Merah
*Episode 21


__ADS_3

Beberapa hari berlalu dengan cepat. Kesibukan yang Ros hadapi membuat ia sedikit bisa melupakan prihal kejadian beberapa hari yang lalu. Namun, apa yang sudah terjadi beberapa hari sebelumnya, kini sudah tidak terjadi lagi.


Seperti, kiriman bunga mawar putih tidak pernah Ros dapatkan lagi. Bukan karena tidak diterima oleh para karyawan yang biasanya menerima kiriman tersebut. Tapi melainkan, kiriman itu sendiri yang memang tidak pernah datang lagi.


Entah apa alasannya, dan entah siapa pengirimnya. Ros yang penasaran, sudah mengutus orang untuk menyelidiki. Tapi sepertinya, orang yang ia berikan tugas masih belum memberikan kabar yang Ros inginkan.


Namun, dengan tidak munculnya kiriman itu, Ros merasa semakin tenang. Meskipun rasa penasaran masih tetap ada. Tapi setidaknya, dia bisa sedikit melupakan prihal masa lalu yang sangat menyakitkan.


Ketika Ros sedang sibuk mengurus pekerjaannya, sebuah ketukan di depan pintu terdengar. Ros pun langsung mengalihkan perhatiannya dari apa yang sedang ia kerjakan.


"Siapa?"


"Saya, nona. Karyawan bagian resepsionis. Maaf mengganggu kerjaan, nona. Ada yang ingin bertemu dengan nona sekarang."


Ros berpikir sejenak. Sedikit penasaran yang langsung ia rasakan. Karena itu, dia pun memilih untuk mengizinkan orang yang ingin bertemu dengannya masuk.


"Baik, nona."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan itu langsung terbuka. Dari balik pintu tersebut langsung muncul seseorang yang sangat tidak ingin Ros temui. Siapa lagi dia kalau bukan Eva? Perempuan bermuka dua yang mungkin akan membuat suasana ruangan Ros berubah drastis.


"Kamu? Untuk apa kamu datang ke sini?" Ros langsung berucap tanpa basa-basi terlebih dahulu.


Bukan Ros tidak ingin berbasa-basi dengan Eva. Bukan juga karena Ros marah karena dia telah merebut suaminya dulu. Tapi, perempuan ini memang tidak perlu ia baik-baikan. Karena apa yang sudah ia perbuat, cukup membekas dalam ingatan Ros hingga detik ini.


"Ah, kak Ros. Kok gak ramah banget sih nyambut calon istri dari mantan suami kamu? Masih marah ya sama aku, karena aku sudah berhasil mendapatkan kasih sayang dari suami kamu? Sedangkan kamu, sudah lama menjadi istri, tapi malah terus diabaikan begitu saja. Ah, sudah jelas jika aku adalah pemenang dari perlombaan perebutan suami ini. Karena itu, kamu masih marah padaku, soalnya, kamu gagal dalam mempertahankan suami sendiri."


Ucapan dengan nada ejekan itu sungguh mengesalkan bagi Ros. Tapi, Ros sadar jika dia tidak perlu melawan ucapan itu dengan amarah. Karena amarah, hanya akan membuat perempuan itu bahagia.


'Dasar perempuan gila. Jadi perebut suami orang aja bangga. Benar-benar gak punya etika.'


Ucapan itu membuat Eva langsung memperlihatkan wajah kesal. Tapi kembali lagi, dia masih bisa bertahan dengan kata-kata Ros barusan. Ia pun langsung menyunggingkan senyum yang terlihat sangat jelas karena dipaksa.


"Oho ho ho .... Kak Roslin kek nya salah anggap deh sama aku. Aku gak ngambil barang bekas kamu kok, kak. Karena sesungguhnya, sejak awal, kak Dewa itu emang milik aku. Jadi, aku gak salah dong bilang kalau dia itu memang punya aku? Bukan barang bekas dari kamu."


"Ha ... lagian, dia juga gak pernah nyentuh kamu sekalipun, bukan? Istri malang yang hanya ia nikahkan karena ada butuhnya aja. Jadi, kenapa malah kamu beranggapan kalau dia itu barang bekas kamu, kak Ros?"

__ADS_1


"Terlalu percaya diri gak sih kamu itu jadi orang? Gak di sentuh satu kali pun oleh kak Dewa, eh malah bilang kak Dewa itu barang bekas kamu. Barang bekas dari mananya ya? Hanya istri di atas kertas doang pun. Dan, cuma dijadikan pembantu aja di rumahnya. Bukannya terlalu naif jika kamu menyebut kak Dewa itu barang bekas kamu?"


Bergolak rasanya darah Ros mendengar ucapan panjang lebar dari mulut berbisa Eva barusan. Jika ia turut kan kata hati, mungkin langsung ia jambak saja perempuan yang ada di dekatnya sekarang. Ah, tapi tidak. Dia tidak boleh melakukan hal itu. Karena dia harus lebih bersabar jika ingin menang melawan perempuan ular ini.


"Huh .... Mungkin aku memang istri yang hanya dinikahkan karena butuhnya aja. Tapi, apa kamu percaya kalo mas Dewa itu beneran gak pernah nyentuh aku layaknya seorang istri yang sesungguhnya?"


Kali ini, Ros pula yang akan memukul telak Eva dengan kata-kata yang mungkin akan membuat Eva berpikir ulang apa yang sudah ia katakan. Ros bicara layaknya apa yang Eva katakan barusan itu salah. Tapi sesungguhnya, perkataan Eva itu adalah kenyataan yang sesungguhnya.


Selama lebih dari dua tahun, dirinya masih murni sebagai perempuan. Sebab, Dewa tidak pernah sekalipun menggauli dirinya layaknya istri pada umumnya. Malam pertama pernikahan, Dewa malah mengatakan kalau ia butuh waktu untuk menerima kehadiran Ros sebagai istri.


Saat itu, Ros yang polos langsung berpikir positif. Dia pikir, Dewa emang butuh waktu untuk menerima kehadiran dirinya sebagai teman hidup. Tak ia pikirkan sedikitpun kalau Dewa menikah hanya karena ingin memanfaatkan tenaga dan juga kebaikan hatinya saja.


Begitulah Ros menyesali dirinya yang sudah membuang waktu selama lebih dari dua tahun menjadi istri Dewa. Istri yang tak dianggap istri sedikitpun. Hanya dianggap pembantu, atau boneka yang bisa mereka suruh apa saja tanpa mengeluh.


Sementara Ros sibuk dengan pikirannya saat ini, Eva juga melakukan hal yang sama. Wajah Eva yang bahagia sebelumnya, kini terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dan wajah itu sepertinya sedang merasa tidak senang.


Ros pun mengukir senyum lebar.

__ADS_1


"Ah, ternyata yang naif itu kamu Eva. Bisa-bisanya kamu percaya apa yang mas Dewa katakan. Mana mungkin dia beneran gak pernah nyentuh aku. Secara, aku adalah istri sahnya dia."


"Dan lagi, kami itu tidur di satu kamar yang sama. Mana mungkin pria bisa menolak godaan wanita. Bayangkan saja apa yang aku katakan barusan. Kamu sendiri juga sangat mengerti dengan baik bagaimana sikap mas Dewa. Iya, kan?"


__ADS_2