
Rahan tidak menjawab. Dia malah diam saja di depan pintu ruangan tersebut. Bukan Rahan yang tidak ingin menjawab, tapi tiba-tiba saja, dia merasa gugup entah karena apa.
"Siapa? Jika ada perlu masuk saja!"
Rahan pun langsung mengikuti apa yang Ros katakan. Sungguh, ketika Rahan muncul, Ros langsung terkejut.
"Ra-- Rahan?" Ros berucap sambil bangun dari duduknya. Pandangan Ros pun langsung tertuju pada buket bunga mawar merah yang saat ini ada dalam dekapan Rahan.
"Ros, aku datang untuk ... menyampaikan permintaan maaf ku padamu. Karena aku sudah pergi setelah datang sebelumnya. Ee ... karena itu, aku bawakan buket bunga mawar merah ini buat kamu. Semoga kamu tidak kesal padaku."
Ternyata, seorang Asrahan Brawijaya bisa gugup juga. Dia yang dikenal sebagai pria yang sangat dingin sebelumnya. Sekarang bisa menunjukkan sisi lemah di hadapan Roslin.
Namum sepertinya, Ros sudah tidak terkejut lagi dengan sisi lemah dari seorang Asrahan Brawijaya. Karena rasa terkejutnya Ros sudah lenyap ketika ia melihat kenyataan Asrahan yang sangat ramah saat bicara dengan oma Rita ketika pertama kali mereka bertemu waktu itu.
"Ee ... Rahan. Aku sama sekali tidak kesal padamu. Kamu tidak perlu membawakan buket bunga seperti ini untuk aku. Ini terasa ... agak berlebihan, Rahan."
"Ah, benarkah? Aku hanya kebetulan lewat kok di depan toko bunga tadi. Saat ingat kamu, aku malah langsung ingin membelikan bunga yang ada di toko tersebut. Aku juga tidak tahu apa bunga yang kamu suka. Jadi, seperti nama kamu, aku belikan bunga mawar saja."
"Ingat aku? Lalu ... kenapa kamu pilih mawar merah? Kenapa tidak mawar putih saja?"
__ADS_1
"Kamu suka mawar putih, Roslin?"
"Eh, bukan begitu. Aku hanya ingin tahu saja alasan kamu belikan aku mawar merah bukan mawar putih."
"Itu karena ... kamu tidak seperti mawar putih yang bisa dengan mudah berubah warna, Roslin. Kamu itu seperti mawar merah yang sangat indah. Tapi tidak mudah di sentuh."
Ros langsung terdiam. Tidak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan lagi untuk menjawab apa yang Rahan katakan. Namun dalan hati, dia langsung mengatakan sesuatu sambil menatap lekat wajah Rahan.
'Dulu aku juga mawar putih, Rahan. Mawar putih yang polos dan selalu ingin terlihat baik juga suci. Tapi lama kelamaan, aku sadar jika mawar putih tidaklah bisa membuat aku dipuja. Melainkan, dengan mudah di sakiti dan dilupakan warna putihnya. Karena itu, aku memilih berubah warna. Aku ingin jadi mawar merah yang tidak akan bisa digantikan dengan warna lain. Tetap bertahan dengan warna yang aku miliki walau aku ingin disakiti.'
Beberapa saat mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, Ros teringat akan sesuatu. Yaitu, pengirim mawar putih beberapa waktu yang lalu. Yang sampai detik ini masih belum ia ketahui orang nya.
"Mm ... Rahan. Apa sebelumnya kamu pernah mengirimkan aku bunga?"
"Hah? Aa ... oh, ka-- kalau begitu, aku ... ucapkan terima kasih. Te-- rima kasih buat bunganya." Mendadak, Ros jadi tak karuan karena kata-kata yang Rahan ucapkan barusan. Entah kenapa, dia merasa gugup secara tiba-tiba hanya karena kata-kata polos yang baru saja kupingnya dengar.
Sementara itu, Rahan masih merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Ros. Dia pun merasa seperti ada yang mengganjal dalam hatinya. Yang membuat dirinya merasa tidak nyaman.
"Apa maksud dari pertanyaan kamu tadi, Ros? Apa sebelumnya, kamu sudah menerima bunga dari seseorang?"
__ADS_1
"Ah, itu ... ah, iya." Ros pun langsung mengatakan semua yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Semuanya ia ceritakan pada Rahan secara detail.
"Oo ... jadi kamu ada pengagum rahasia sekarang?"
"Hah? Apanya yang pengagum rahasia? Yang ada, aku merasa seakan sedang diteror oleh seseorang, tahu gak?"
Obrolan mereka pun terus berlanjut hingga beberapa saat kemudian. Lalu, obrolan itu semakin terasa nyaman ketika kedatangan oma Rita yang ikut ngobrol bersama Rahan dan Ros.
....
Beberapa hari berlalu. Kehidupan Ros sudah kembali berjalan normal seperti sebelumnya. Dan hari ini pula adalah hari yang paling Ros nantikan. Hari di mana Eva dan Dewa menikah. Ros sudah tidak sabar lagi untuk menagih hutang pada keluarga mantan suaminya, juga mantan suami beserta kekasih mantan suaminya yang sudah membuat ia terluka selama ini.
"Nona yakin untuk datang sendiri ke pesta pernikahan mantan suami nona?" Jaka berucap dengan nada agak prihatin. Maklum, mereka masih sangat takut jika Ros disakiti lagi. Karena itu, mereka begitu wanti-wanti agar Ros tidak terluka. Meskipun mereka tahu, kalau Ros yang sekarang bukan Ros yang dulu lagi. Tapi tetap saja, rasa cemas itu masih ada.
Ros yang mendapat pertanyaan itu langsung tersenyum lebar. "Pak Jaka tidak perlu cemas. Aku sudah izin oma Rita kok, pak. Dan oma sudah mengizinkan aku pergi ke pesta itu. Jadi, tidak perlu khawatir."
"Tapi nona ... bagaimanapun keluarga itu adalah keluarga yang sudah menyakiti nona sebelumnya, bukan? Mereka bisa sampai memaksa nona buat melakukan apa yang mereka mau. Apa tidak sebaiknya, nona datang bersama oma Rita dan saya? Atau jika tidak, nona pergi dengan saya saja? Bagaimana, nona?"
Ros pun kembali tersenyum. Ia hargai kekhawatiran itu. Tapi, dia sungguh tidak bisa menerima apa yang pak Jaka tawarkan. Karena ini adalah masalahnya. Maka ia ingin melakukannya sendiri tanpa ada bantuan dari orang lain.
__ADS_1
"Pak Jaka. Aku sangat berterima kasih dengan kekhawatiran pak Jaka barusan. Namun, karena ini adalah hutang mereka pada ku di kehidupan masa lalu. Maka aku ingin menagihnya sendiri. Untuk itu, aku terpaksa menolak tawaran dari pak Jaka barusan."
"Lagipula, mereka tidak akan bisa menyakiti aku lagi sekarang. Karena aku yang sekarang, bukan aku yang dulu lagi. Ah, lagian ... aku hanya ingin memberikan hadiah yang sudah aku siapkan saja kok, pak. Gak akan ada proses yang lebih berarti. Karena semuanya sudah aku siapkan dari jauh hari."