Mawar Putih Berubah Merah

Mawar Putih Berubah Merah
*Episode 38


__ADS_3

Malang tidak bisa dielak. Kepala mama Dewa yang jatuh langsung membentur sanding meja dengan keras. Alhasil, kepala itu seketika mengeluarkan darah akibat benturan keras yang terjadi.


"Mama!" Dewa berteriak keras ketika melihat hal tersebut.


Dewa yang baru keluar dari kamar, tentu tidak tahu apa yang terjadi. Dia menyalahkan Eva akan hal tersebut. Dengan wajah kaget, Eva pun menyanggah tuduhan yang Dewa berikan.


Begitulah akhirnya keributan itu terjadi. Warga datang untuk melihat, Dewa pun meminta bantuan warga untuk menghubungi polisi dan ambulan agar bisa menyeret Eva ke kantor polisi juga menolong mamanya yang saat ini sedang tak sadarkan diri.


Kekacauan demi kekacauan Dewa hadapi sekarang. Eva yang di seret ke kantor polisi dengan tuduhan percobaan pembunuhan mama Dewa, malah balik melapor tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh Dewa padanya selama ini. Karena laporan yang lengkap dengan bukti itu, Dewa pun ikut terseret ke kantor polisi.


Sungguh malang. Mamanya yang masuk rumah sakit, masih belum sadarkan diri. Eh ... dia malah ikut diseret ke kantor polisi oleh istrinya sendiri. Saat ini, mereka masih dalam tahap penyelidikan dan tidak diizinkan untuk pulang. Benar-benar bernasib malang.


....


"Maafkan tante, Wisty. Tante tidak bisa bantu kamu buat dapetin Rahan. Karena Rahan tidak mengizinkan tante untuk ikut campur dalam urusan pribadinya."


"Tapi tante .... "


"Winsty. Sepertinya kamu harus berusaha melakukannya sendiri tanpa menyeret tante mulai dari sekarang. Karena hubungan tante yang tidak terlalu baik dengan Rahan, tante tidak ingin menambahkannya lagi."


Ucapan itu membuat Winsty sangat amat kesal. Setelah panggilan ia putuskan, dia pun langsung melempar semua barang yang ada di atas meja riasnya.


"Wanita tua yang tidak ada gunanya. Jika tahu begini jadinya, maka aku tidak perlu bersusah payah mendekatkan diri dengan dia. Benar-benar sia-sia."


"Tapi tenang saja. Aku tidak akan pernah menyerah. Akan aku buktikan jika aku bisa melakukannya sendiri. Tanpa harus dibantu oleh perempuan tua itu sekalipun."


Di sisi lain, Rahan sedang berusaha terus mendekati Ros meski tidak secara langsung. Berbagai alasan ia berikan agar mereka bisa bertemu. Mulai dari pembahasan pekerjaan yang sama sekali tidak penting. Sampai berkunjung ke rumah keluarga Muroja satu minggu sampai tiga atau empat kali, dengan alasan, rindu oma yang sama sekali tidak benar.


"Kamu rindu oma, atau rindu oma yang lainnya, Rahan?" Oma Rita malah menggoda Rahan.


"Tentu saja aku rindu oma. Karena minggu depan, aku tidak ada di tanah air lagi, bukan? Aku akan pergi keluar negeri untuk urusan perusahan. Dan mungkin, aku akan menghabiskan waktu lebih dari dua bulan di sana."


Ucapan itu membuat Ros reflek merasa kaget. Dia yang kebetulan baru muncul dari dapur, langsung tertegun karena perkataan Rahan yang mengatakan akan pergi lama.

__ADS_1


"Ap-- apa? Kamu mau pergi ke luar negeri selama hampir dua bulan?"


"Eh, Roslin."


"Iya. Aku akan pergi. Mm ... bukan hampir dua bulan, Ros. Tapi, lebih dari dua bulan. Karena aku akan kembali setelah pekerjaan ku selesai. Dan, pekerjaan itu mungkin akan menghabiskan waktu lebih dari dua bulan. Itupun jika tanpa halangan."


"Jika dengan halangan?" Si oma malah semakin menambah ranting dalam kobaran api. Sudah tahu Ros sedang tidak rela saat ini. Eh, dia malah semakin ingin menambah rasa ketidakrelaan Ros lagi.


"Mungkin ... ah, akan banyak waktu. Aku juga tidak bisa memprediksinya."


Ros pun tidak menjawab. Karena saat ini, ada hati yang agak perih yang berusaha ia tutupi. Meski ia tidak ingin mengakui hal tersebut. Tapi, perasaan itu tidak bisa ia bohongi.


Obrolan mereka terus berlanjut. Sementara Ros yang masih memikirkan soal kepergian Rahan, tentu saja tidak fokus dengan apa yang oma Rita dan Rahan bicarakan. Dia malah terlihat lebih banyak melamun hingga pada akhirnya, Rahan pamit untuk pulang.


"Ros, kok masih bengong di sini sih? Gak nganterin Rahan pulang kamu?"


"Eh, oma ... ngg .... "


"Eh .... "


Pada akhirnya, mau tidak mau, Ros pun mengantarkan Rahan sampai depan pintu.


"Kamu kenapa? Gak enak badan atau ada hal lain yang sedang kamu pikirkan? Aku lihat ... sejak tadi kamu lebih banyak melamun."


"Oh aku baik-baik aja kok. Gak papa, cuma sedang mikir kerjaan banyak aja." Ros berusaha untuk tidak terpancing akan apa yang Rahan katakan. Sebisa mungkin, dia berusaha memperlihatkan kalau dia baik-baik saja. Meskipun kenyataan tidak begitu.


"Ee ... Ros, bisa makan malam berdua nanti malam? Aku jemput kamu jam tujuh jika bisa."


Ros pun langsung bingung setelah menerima tawaran dari Rahan. Dilema antara iya atau tidak pun langsung menghampirinya.


"Ee .... "


"Baiklah. Aku anggap kamu setuju dengan ajak kan ku ya, Roslin. Jangan lupa jam tujuh nanti malam," ucap Rahan malah seenaknya memberikan jawaban.

__ADS_1


"Jalan, pak!"


"Hei tapi .... "


Mobil sudah berjalan. Rahan sudah pasti tidak akan mendengarkan apa yang ia katakan. Ros hanya bisa pasrah dengan wajah yang agak kesal melihat ke arah mobil Rahan yang semakin lama semakin menjauh.


"Ah, dasar Rahan. Seenaknya saja."


"Tapi suka, kan?"


"Oma!" Ros kaget bukan kepalang. Ternyata, oma Rita ada di dekatnya saat ini.


"Sejak kapan oma ada di sini? Katanya mau ke kamar."


"Oma membatalkan niat buat langsung ke kamar," ucap oma Rita sambil tersenyum menyeringai. "Mau lihat, kalian bicara apa."


"Ros, sepertinya Rahan itu suka sama kamu deh. Mulai dari bunga, perhatian yang tidak pernah terlihat. Dan sekarang, makan malam berdua. Rahan sungguh tidak pernah melakukan ini pada perempuan yang lainnya."


"Oma ngomong apa sih? Kami hanya dekat seperti biasa saja oma. Lagian, mana mungkin Rahan suka aku. Karena .... "


Ros langsung menggantungkan kalimatnya. Oma Rita pun langsung menaikkan satu alis karena penasaran.


"Karena apa, Ros?"


"Karena kami berada di jalan yang berbeda, oma. Aku adalah janda dengan latar belakang yang kurang baik. Sedangkan dia .... "


"Dia juga sama, Ros. Duda karena istrinya meninggal, bukan?"


"Sementara untuk status, apa yang tidak baik dari kamu, sayang? Kamu cucu oma, bukan? Meski bukan cucu kandung, tapi kamu juga berdarah Muroja. Tidak ada yang salah dengan latar belakang kamu."


Ros terdiam untuk beberapa saat. Hingga akhirnya, dia kembali berucap.


"Entahlah, oma. Aku tidak ingin memikirkan hal itu dulu sekarang. Aku tidak ingin berharap banyak pada seorang pria. Karena masa lalu yang buruk sudah cukup buat aku merasa takut untuk memulai hubungan lagi."

__ADS_1


__ADS_2