
Oma Rita pula masih tidak bergeming. Dia juga sedang sibuk memperhatikan vidio yang ada di ponselnya saat ini. Ada yang janggal bagi oma. Karena itu, dia masih tidak ingin berkomentar saat Jaka mengajaknya bicara soal vidio yang mereka lihat saat ini.
"Darah langka?"
Jaka langsung menoleh saat oma Rita mengatakan dua kata tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang sedang ia lihat. Rasa penasaran pun langsung memenuhi hati Jaka karena dua kata barusan.
"Kenapa dengan darah langka, nyonya?"
"Tidak ada."
"Ah .... "
Jaka yang bingung tidak bisa berucap banyak. Hanya satu kata itu yang bisa ia sebut. Dengan mata yang masih menatap oma Rita, Jaka pun berusaha untuk menahan rasa penasarannya itu dengan sebaik mungkin.
Lalu, oma Rita yang sebelumnya diam. Kini langsung angkat bicara kembali.
"Jaka, selidiki tentang golongan darah langka yang Ros punya. Aku ingin tahu tentang darah langka itu. Dan, selidiki juga rumah sakit tempat Ros di ambil darahnya waktu itu. Aku ingin tahu semuanya dengan lengkap."
Jaka semakin bingung. Tapi tidak tahu bagaimana untuk meminta penjelasan. Karena yang ia tahu hanya mendengarkan penjelasan secara langsung, bukan meminta. Karena bagaimanapun, oma Rita adalah atasan yang sangat ia hormati. Sebab itu, ia tidak bisa bertanya. Melainkan, hanya bisa langsung menjalankan apa yang oma Rita katakan.
"Baik, nyonya. Akan saya lakukan apa yang nyonya katakan."
Jaka pun pamit untuk meninggalkan ruangan oma Rita. Setelah kepergian Jaka, oma Rita masih tetap melihat vidio yang sebelumnya sangat mengusik perhatian dan rasa penasaran dari seorang oma Rita yang penuh kasih.
"Darah langka. Tidak mungkin. Aku yakin itu tidak mungkin."
....
__ADS_1
Eva yang terbukti tidak mengalami gangguan jiwa pun dibebaskan. Beruntung, keluarga Eva bisa membuktikan kalau anak mereka sama sekali tidak mengalami gangguan jiwa.
Tapi, akibat berita yang sedang beredar di media sosial, papa Eva di berhentikan kerja oleh majikannya. Karena itu, ekonomi keluarga sedang sangat buruk. Eva yang sudah menjadi istri sah Dewa, langsung mereka kirimkan ke rumah Dewa setelah berhasil mereka bebaskan.
Saat Eva datang, keluarga Dewa baru juga kembali dari rumah sakit. Mama Dewa yang baru sembuh, langsung drop kembali saat melihat wajah Eva. Beruntung, kali ini tidak sampai pingsan. Orang tua itu hanya langsung terduduk saja ketika melihat wajah menantu buruk akhlaknya itu.
"Untuk apa kalian datang ke sini? Rumah ini tidak menerima kedatangan tamu seperti kalian. Terutama dia!" Dewa bicara sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah Eva.
Tentu saja papa Eva langsung melayangkan sebuah pukulan ke wajah Dewa. Buk! Pukulan itu mengenai sasaran dengan sangat baik. Dewa pun terhuyung akibat pukulan tersebut.
"Dewa!" Mama Dewa yang melihat hal itu langsung bangun dengan cepat. Berlari dengan langkah besar untuk mendekati anaknya.
"Lancang! Pria tidak tahu malu kamu! Tidak punya pendidikan! Bisa-bisanya kamu langsung memukul anakku."
"Anak mu yang tidak punya perasaan. Dia pantas menerima pukulan dariku yang sudah resmi menjadi papa mertuanya sekarang."
"Hei pria tua! Kamu tidak usah mengaku-ngaku anakku sebagai menantu mu. Anak kita tidak jadi menikah. Karena anakmu adalah pembohong besar yang sudah membohongi dan membuat malu kami sekeluarga."
"Apa kamu bilang? Pernikahan antara Dewa dan Eva sudah resmi digelar. Mereka sudah sah secara agama juga hukum. Meskipun resepsi pernikahan berantakan, tapi akad nikahnya sudah selesai. Jadi, mereka tetap sah sebagai pasangan suami istri."
"Tidak! Aku tidak akan mengakui dia sebagai istri Dewa. Meskipun ijab kabulnya sudah selesai, tapi dia tetap tidak diakui sebagai istri Dewa."
"Kenapa tidak? Kamu tidak bisa memutuskan hukum secara sepihak. Bagaimanapun kerasnya kamu tidak ingin mengakui, tapi kenyataan masih tidak akan berubah. Eva masih tetap menjadi istri Dewa sekalipun kamu tidak mengakuinya."
Percekcokan terus berlanjut. Hingga akhirnya, Dewa angkat bicara. "Aku akan menceraikan Eva karena dia sudah tidak murni lagi sebagai perempuan."
"Apa! Kamu gila ya?" Papa Eva kaget bukan kepalang. Sementara mama Dewa sangat bahagia. Sedangkan Eva sendiri, sangking kagetnya dia tidak bisa berkata satu patah katapun.
__ADS_1
"Tidak bisa. Kamu tidak bisa bercerai dengan Eva. Meskipun bisa, Eva tetap harus tinggal bersama kamu selama tiga bulan terlebih dahulu."
Dan pada akhirnya, kesepakatan pun dibuat. Eva tinggal bersama Dewa selama tiga bulan di rumah Dewa. Setelah itu, Dewa baru bisa memutuskan kembali keinginan yang sudah dia ucapkan. Mau merubah keputusan cerai, atau masih tetap dengan niat untuk bercerai dengan Eva.
....
"Jadi, bunga itu benar-benar Rahan berikan sendiri ke tangan Ros, pak sopir?"
"Iya, tuan besar. Tuan muda benar-benar menyampaikannya sendiri ke tangan nona Ros. Ini sungguh keajaiban. Benar 'kan, tuan besar?"
Papa Rahan yang saat ini sedang berdiri di depan jendela sampai melihat lurus ke depan, langsung menganggukkan kepala secara perlahan. Kemudian, orang tua itu lalu memutar tubuhnya setelah menganggukkan kepala dengan pelan.
"Ya. Kamu benar. Ini adalah sebuah keajaiban. Akhirnya, Rahan bisa hidup normal juga sekarang. Dan aku, aku akan bisa menimang cucu. Ah, bahagia sekali."
Orang tua itu malah tersenyum lebar sambil mengayunkan tangannya. Ia membuat gerakan layak seseorang yang sedang menggendong anak kecil. Dia begitu bahagia saat membayangkan dirinya yang sedang menggendong anak kecil. Impian yang masih belum terkabulkan. Padahal, usia sudah cukup tua.
"Oh iya, pak sopir. Katakan apa yang harus aku lakukan sekarang! Apa aku harus datang ke rumah Tante Rita sekarang juga? Supaya bisa langsung melamar cucu angkatnya itu."
"Ah jangan, tuan besar. Jangan lakukan itu. Karena jika tuan melakukan hal itu, maka tuan muda akan marah. Dan, sasaran kemarahan tuan muda yang paling utama pastilah saya, tuan. Karena hanya saya yang haru kalau tuan muda membeli, lalu menyerahkan sendiri bunga yang ia beli pada perempuan itu."
"Dan juga .... " Pak sopir itu kini langsung menundukkan kepalanya. "Tuan muda melarang saya bicara pada siapapun. Terutama, tuan besar dan nyonya."
"Tapi tuan besar, saya ingin membagikan kebahagiaan ini pada tuan besar. Karena itu, saya memberanikan diri untuk bicara," ucap pak sopir sambil mengangkat wajahnya kembali.
Papa Rahan langsung tersenyum. "Kamu yang terbaik. Tidak sia-sia aku mempekerjakan kamu selama ini. Untuk Rahan, kamu jangan takut. Meskipun dia sangat dingin dan galak. Tapi tetap saja, dia itu baik hati."
"Agh! Anak itu sama sekali tidak mirip dengan aku. Dia malah mirip dengan kakeknya yang sangat keras. Beruntung aku mirip mamaku. Jadi aku tidak terlihat menakutkan."
__ADS_1
"Lah, tapi sikapnya itu sama saja mengubah keberuntunganku menjadi tidak beruntung. Karena aku jadi tidak bisa memiliki cucu hingga usai sudah sangat tua seperti sekarang."