
"Lah, tapi sikapnya itu sama saja mengubah keberuntunganku menjadi tidak beruntung. Karena aku jadi tidak bisa memiliki cucu hingga usia sudah sangat tua seperti sekarang."
Ketika papa Rahan sibuk dengan kebahagiaannya, mama Rahan malah sedang sangat gundah saat ini. Dia yang kini sedang bicara dengan Winsty di taman belakang, terlihat sangat tidak baik-baik saja.
"Tante tidak bisa bantu kamu, Win. Kamu tahu sendiri bagaimana Rahan, bukan? Dia keras. Sangat amat keras sehingga tante sebagai mama saja tidak bisa mengatur hidupnya."
"Tapi aku sudah lama bersabar, tante. Lihat! Apa imbalan dari kesabaran yang aku miliki. Bukannya mendapatkan kak Rahan, aku malah punya saingan sekarang."
"Dari dulu juga kamu punya saingan, Win. Tapi kamu biasa saja, bukan? Kenapa sekarang kamu malah seperti kucing yang kebakaran ekornya sih? Saat mendengar kabar Rahan datang membawa buket bunga buat cucu angkat si Rita itu, kamu kelihatan begitu gelisah."
"Bagaimana tidak gelisah, tante? Kan tante sendiri yang bilang kalau hal yang berhubungan dengan orang tua itu akan sangat membahagiakan bagi Rahan. Lah sekarang, perempuan itu datang dari oma Rita, bukan?"
Mama Rahan terdiam. Sebenarnya, dia tidak peduli dengan siapa yang akan menikah dengan Rahan. Janji, Rahan bahagia dan bisa memberikan ia cucu seperti yang papa Rahan harapkan sebelumnya.
Tapi saat ingat akan oma Rita, perasaan tidak nyaman langsung bangkit dalan hatinya. Oma Rita. Nama itu sungguh sangat membuat jengkel hati mama Rahan. Alasannya sudah sangat jelas, karena Rahan lebih bahagia saat bersama dengan orang yang tidak ada ikatan keluarga sedikitpun dari pada dengan keluarga, bahkan mama kandungnya sendiri. Karena itulah, perasaan cemburu pada oma Rita selalu ada dalam hati mama Rahan.
Ditambah, ada minyak pasang yang terus saja mencipratkan kayu yang sedang terbakar. Karena itu, api yang sudah membakar kayu, malah semakin membesar lagi dan lagi.
"Tante. Apa tante tidak merasakan sedikitpun rasa takut jika kak Rahan bersama dengan perempuan itu? Dia adalah cucu angkat oma Rita. Orangnya oma Rita yang mungkin akan merebut kak Rahan sepenuhnya dari tante dan juga keluarga Brawijaya."
"Tante ingatkan bagaimana pengaruh oma Rita buat kak Rahan?"
__ADS_1
Wajah tidak nyaman pun semakin terlihat jelas di wajah mama Rahan. Sangking tidak nyamannya dia, dia pun langsung bangun dari duduknya.
"Tentu saja aku ingat. Karena aku ingat sebesar apa pengaruh Rita buat Rahan, karena itu aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang."
Suasana pun langsung berubah hening. Ucapan mama Rahan membuat Winsty ikut terdiam. Karena memang, oma Rita adalah orang yang paling dekat dengan Rahan. Lebih dekat dari pada mamanya sendiri.
Itu semua berawal dari kekacauan yang menimpa keluarga Brawijaya saat Rahan menginjak usia lima tahun. Ketika itu, Rahan diculik oleh saingan bisnis keluarga tersebut. Dia disekap di sebuah gudang.
Lalu, entah bagaimana caranya, Tuhan bisa mempertemukan Rahan dengan oma Rita saat itu. Yang jelas, oma Rita adalah malaikat penyelamat bagi Rahan kecil yang malang.
Namun, tidak sampai di situ saja. Kekacauan di keluarga Brawijaya masih belum usai ternyata. Mama Rahan yang tidak biasa hidup susah, sontak jadi sangat gundah saat krisis ekonomi melanda keluarga Brawijaya.
Dampak kegundahan itupun membuat Rahan kecil yang menjadi pelampiasan. Sang mama mengabaikannya akibat kegundahan juga rasa takut akan hidup susah. Dia yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari sang mama, eh, malah diabaikan pasca trauma berat yang ia alami.
Begitulah pada akhirnya, semua kembali normal. Rahan kecil pun beranjak dewasa dan bisa terlepas dari semua masalah hanya karena bantuan, kasih sayang, juga semua perhatian tulus yang oma Rita berikan. Karena itu, Rahan lebih menganggap oma Rita sebagai keluarga dari pada mamanya sendiri.
"Tante." Sebuah panggilan yang disertai dengan sentuhan langsung menyadarkan mama Rahan dari lamunannya akan masa lalu.
"Ah, iy-- iya, Win. Ada apa?"
"Tante kok malah melamun sih? Padahal ada aku yang saat ini sedang mengajak tante bicara."
__ADS_1
"Maafkan tante, Winsty. Ada hal yang tante pikirkan tadi. Ah, iya. Sampai di mana pokok pembahasan kita tadi?"
Winsty tidak langsung menjawab. Dia malah menatap kesal ke arah mama Rahan. Namun, sebisa mungkin apa yang saat ini ia rasakan, dia sembunyikan dari lawan bicaranya sekarang.
'Andai aku tidak butuh kamu, perempuan tua. Maka tidak akan pernah mau aku mengajak kau bicara. Karena bicara dengan kamu juga tidak akan mendapat hasil yang memuaskan. Tapi bagaimana pun, aku harus bersabar. Setidaknya, aku punya sedikit pelindung saat hujan badai tiba.' Winsty berkata dalam hati sambil meredakan emosinya.
"Tante ih ... kita sedang bahas soal kak Rahan, lho ... tan. Tante sih, pakai melamun segala," ucap Winsty sebisa mungkin memperlihatkan perilaku manjanya pada mama Rahan.
"Ah! Ya Tuhan .... " Mama Rahan berucap sambil memegang tulang hidungnya dengan satu tangan. "Kepala tante tiba-tiba pusing. Nanti kita bahas lagi ya, Win. Untuk sekarang, kamu sabar dulu. Nanti tante pikirkan bagaimana cara agar Rahan bisa memilih kamu."
Sebenarnya, Winsty sangat kesal dengan apa yang baru mama Rahan katakan. Tapi sebisa mungkin ia melebarkan rasa sabar yang sebenarnya tidak ada sama sekali dalam dirinya.
"Tante beneran ya? Cari cara yang paling bagus buat aku. Soalnya, hanya tante yang bisa aku andalkan untuk bisa berada di sisi kak Rahan. Tante gak mau, kan? Kalo nanti kak Rahan malah menikah dengan perempuan janda itu. Mana dia cucu dari oma Rita lagi. Posisi tante sebagai mama pasti akan langsung lenyap setelah pernikahan itu terjadi."
Mama Rahan langsung menatap lekat Winsty.
"Tidak akan aku biarkan hal itu terjadi."
....
Usai makan malam, mama Rahan langsung angkat bicara. "Rahan, mama ingin bicara. Luangkan waktu mu sejenak buat mama sekarang. Kita akan bicara di ruang tamu."
__ADS_1
Ucapan itu langsung menghentikan gerakan Rahan yang baru saja bangun dari duduknya. Kebetulan, malam ini dia makan malam di rumah. Kesempatan langka itu tidak akan mamanya sia-siakan. Karena Rahan biasanya lebih suka makan sendirian di tempatnya dibandingkan makan bersama dengan keluarga di rumah utama keluarga Brawijaya.
"Mau bicara apa? Katakan saja langsung di sini! Aku ada banyak kerjaan yang harus aku selesaikan." Rahan menjawab dengan nada sinis, tanpa melihat ke arah sang mama sama sekali.