
Begitulah akhirnya Ros bisa lepas dari perasaan tidak nyaman yang sedang tercipta. Dia pun memilih untuk kembali fokus dengan kenyataan hidup yang saat ini sedang ia tempuh. Dia harus bisa memberikan pelajaran berharga buat semua yang sudah menyakiti dirinya selama ini. Dengan begitu, dia baru bisa bernapas dengan tenang.
Sementara itu, Rahan yang saat ini sedang berada di dalam mobil, masih memikirkan apa yang ia dengar beberapa menit yang lalu. Entah kenapa, dia merasa tidak nyaman dengan apa yang ia dengar. Karena itu, dia memilih membatalkan niatnya untuk bertemu dengan Ros.
'Sebenarnya, apa yang aku pikirkan sampai aku jadi aneh begini? Aku hanya ingin bicara dengannya. Lalu apa masalahnya hati ini dengan kehidupan masa lalu yang sudah ia lewati?' Rahan bicara sendiri dalam hati sambil terus melihat ke arah luar mobil.
'Hah! Aku tidak boleh memikirkan hal yang tidak jelas. Masa lalu adalah masa lalu. Sedangkan masa depan, itu adalah hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan masa lalu.'
Karena pikiran itu, sebuah ide muncul dalan benak Rahan. 'Ros pasti sudah tahu kalau aku datang ke kantornya hari ini. Aku jadi merasa tidak enak hati karena pergi begitu saja sebelum bertemu dengannya. Mm ... karena itu, aku harus mengirim sesuatu sebagai bukti tanda maaf atas apa yang sudah aku lakukan."
"Pak sopir. Berhenti di depan toko bunga yang ada di persimpangan jalan ini ya."
"Baik, tuan muda."
Mobil pun melaju dengan kecepatan pelan hingga tiba di toko bunga yang Rahan katakan. Selanjutnya, pak sopir langsung menepikan mobil yang ia kendarai di pinggir jalan.
"Tuan muda mau saya belikan bunga apa? Cempaka, atau lili?"
__ADS_1
Rahan terdiam sesaat karena dua nama bunga yang baru saja sopirnya sebutkan. Yah, dua nama bunga itu adalah bunga kesukaan almarhumah istrinya yang sudah pergi meninggalkan Rahan buat selama-lamanya.
"Aku mau beli bunga mawar, pak sopir."
Tentu saja nama bunga itu terasa sangat asing bagi si sopir yang biasanya hanya membeli dua bunga ini selama ia kenal dengan Rahan. Sopir itupun langsung memperlihatkan wajah bingungnya pada Rahan yang masih duduk dengan manis di tempat duduknya.
"Tuan muda ... ingin bunga mawar? Apa ... saya tidak salah dengar, tuan muda?"
"Tidak, pak sopir. Bapak tidak salah dengar. Aku beneran ingin beli bunga mawar kali ini."
"Lho, bu-- buat siapa, tuan muda? Ah, maksud saya, maaf, biasanya, tuan muda tidak pernah membeli bunga lain selain dua macam bunga yang saya sebutkan sebelumnya, bukan? Jadi, saya merasa sedikit bingung karena kali ini, nama bunga yang ingin tuan muda beli sangatlah berbeda. Alias, tidak pernah tuan muda beli sebelumnya."
"Sekali lagi maaf tuan muda, karena bapak sudah sangat lancang menanyakan hal pribadi tuan muda. Tapi, bapak sungguh sangat penasaran. Karena biasanya, kita hanya membeli bunga cempaka atau lili saja saat ingin mendatangi makannya nona Raulin."
Rahan pun mengerti apa yang saat ini sopirnya rasakan. Karena memang, selama ini dia tidak pernah membeli bunga lain selain dua nama bunga yang sudah sopirnya sebutkan.
"Kita tidak ingin pergi ke makan sekarang, pak sopir. Aku beli bunga mawar untuk orang lain. Bukan untuk aku bawa ke makan Raulin."
__ADS_1
"Apa! Tuan muda mau beli bunga untuk perempuan lain?" Si sopir terlihat sangat kaget sekarang. Sangking kagetnya, dia bahkan lupa untuk menjaga nada bicaranya barusan. Dia malah seenaknya bicara dengan nada tinggi pada Rahan.
Sementara Rahan malah tidak menjawab apa yang sopirnya katakan. Beruntung, si sopir adalah orang yang sudah lama dekat dengan Rahan. Jadi, Rahan tidak ingin ambil pusing dengan apa yang baru saja sopir itu katakan. Sementara si sopir itu pula, dia memang agak sedikit berani saat bicara dengan Rahan walau tahu bagaimana sifat Rahan yang orang katakan sangat dingin juga menakutkan.
Tapi sebenarnya, Rahan tidaklah semenakutkan yang orang lain bayangkan. Karena pada kenyataannya, Rahan itu bisa bersikap sangat amat lembut dengan orang yang ia sukai. Seperti ... beberapa tahun yang lalu. Tepatnya, ketika sang istri masih hidup.
Rahan menikah dengan Raulin karena permintaan almarhumah omanya. Katanya, pernikahan Rahan juga tidak akan pernah terjadi jika Rahan sendiri tidak menginginkan. Karena Rahan adalah tipe pria yang tidak bisa dipaksakan. Apalagi untuk kehidupan pribadi. Dia tak akan pernah mau diatur oleh orang lain. Termasuk, keluarganya sendiri.
Rahan menikah karena ia jatuh cinta sebelumnya dengan perempuan yang bernama Raulin tersebut. Karena Raulin adalah perempuan yang sangat lemah lembut, penuh kasih sayang, dan juga sangat ceria. Kehadiran Raulin membuat kehidupan Rahan sangat berwarna.
Tapi, pernikahan hangat itu tidaklah bertahan lama. Raulin pun pergi setelah satu setengah tahun menjadi istri Rahan. Kepergian Raulin kembali membuat Rahan menjadi dingin dalam keluarga. Sampai detik ini, dia masih terlihat tidak bersemangat untuk bersikap hangat jika bersama keluarganya.
Tapi tidak dengan oma Rita. Rahan akan selalu bahagia jika bersama dengan oma Rita. Hingga akhirnya, ia bertemu Ros yang semakin menghangatkan hatinya. Entah karena Ros adalah bagian dari oma Rita, atau menang Ros mampu membangkitkan perasaan Rahan yang sudah mati. Yang jelas, Ros cukup mampu membuat hati Rahan terasa hangat kembali.
Karena Ros pula saat ini Rahan malah turun sendiri untuk membeli apa yang ia inginkan. Hal yang sebelumnya tidak pernah Rahan lakukan meskipun saat bersama Raulin dulu. Yaitu, turun dan masuk ke dalam toko bunga untuk memilih sendiri bunga yang ingin dia beli.
Pak sopir yang melihat hal itu bahkan berpikir kalau saat ini, dirinya sedang berada di alam mimpi. Karena Rahan yang tidak pernah memilih bunga sendiri, yang biasanya selalu meminta ia untuk membeli bunga yang ingin Rahan berikan pada orang lain, lah sekarang malah meninggalkan dia sendirian di dalam mobil.
__ADS_1
"Tuan muda sudah berubah sekarang ya? Atau ... aku saat ini hanya sedang bermimpi saja?"