Mawar Putih Berubah Merah

Mawar Putih Berubah Merah
*Episode 32


__ADS_3

"Mau bicara apa? Katakan saja langsung di sini! Aku ada banyak kerjaan yang harus aku selesaikan." Rahan menjawab dengan nada sinis, tanpa melihat ke arah sang mama sama sekali.


"Apa pekerjaan lebih penting dari pada mamamu ini, Rahan? Setiap hari, kamu hanya sibuk di rumah belakang. Kamu hanya datang ke rumah utama dua kali dalam satu minggu. Apa itu masih tidak cukup untuk kamu menghindari keluargamu?"


Sang mama bicara dengan nada sedih. Tak lupa, air mata pun jatuh secara perlahan. Air mata ini bukan tipuan. Melainkan, memang saat ini, mama Rahan sedang terluka akibat ulah anaknya yang tidak mengganggap ada dirinya.


Papa Rahan yang sejak tadi hanya terdiam, kini langsung bangun dari duduknya. Ia yang awalnya tidak ingin ikut campur, tapi karena suasana yang tidak baik-baik saja mengharuskan dirinya menjadi penengah untuk istri dan anaknya yang sama-sama memiliki watak keras kepala.


"Rahan, mama kamu benar. Sediakan waktumu sekarang untuk ngobrol dengan mama dan papa di ruang keluarga. Kita ini satu keluarga, nak. Tolong jangan terus-terusan membuat jarak yang besar antara kita."


"Untuk mama pula, jangan terlalu mendalami perasaan. Anak kita sudah dewasa, Ma. Dia juga punya banyak kesibukan sendiri sekarang."


Ucapan itu membuat mama Rahan langsung menatap tajam suaminya. "Papa bilang apa? Mama terlalu mendalami perasaan? Mama ini seorang ibu, Pa. Mama yang melahirkan anak mama. Tapi ... setelah dewasa, anak mama itu malah tidak ingat dengan mamanya."


"Coba banyangkan bagaimana perasaan papa jika papa ada diposisi mama! Apa papa akan diam saja?"


Perkataan itu membuat papa Rahan lupa akan keberadaan anaknya. Dia pun langsung menyanggah apa yang istrinya katakan.


"Semua itu bukan tanpa alasan, kan Ma? Kesalahan terbesar ada pada mama. Jika saja mama tidak bersikap ceroboh, maka mama tidak akan kehilangan anak mama."


"Papa!" Mama Rahan langsung angkat suara tinggi karena ucapan suaminya barusan.


Jawab menjawab kata membuat Rahan tidak kuat untuk bertahan lagi. Dia yang awalnya diam, kini langsung angkat bicara.


"Sudah, cukup. Kalian ingin berdebat? Maka aku akan kembali sekarang."

__ADS_1


Seketika, ucapan itu menyadarkan kedua orang tua Rahan, jika anak mereka masih ada di tengah-tengah mereka saat ini. Karena itu, sang mama bergerak cepat saat Rahan ingin melangkah.


"Tunggu, Rahan!" Mama Rahan berucap sambil memegang lengan anaknya.


"Kesalahan mama memang besar bagi kamu. Tapi bagaimanapun, mama adalah mama kamu, Nak. Apa mama tetap tidak bisa mendapatkan maaf dari kamu setelah sekian lama semuanya berlalu?"


Rahan tidak menjawab. Dia hanya terdiam sambil melirik sang mama dengan lirikan kecil. Lalu, dia menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan nya secara perlahan.


Ini bukan yang pertama kali kejadian itu ia alami. Bahkan, sudah cukup sering pertunjukan ini ia lalui. Karena itu, Rahan memilih untuk bersama kedua orang tuanya hanya dua kali dalam satu minggu. Selebihnya, ia lalui sendirian di rumah belakang.


"Lupakan, Mama. Jika kalian ingin bicara dengan aku, maka aku akan ikuti apa yang kalian inginkan. Kita bicara di ruang keluarga sekarang juga. Tapi tolong, jangan membahas hal yang tidak ingin aku bahas. Karena aku tidak suka akan hal itu."


Karena ucapan Rahan barusan, mereka pun langsung menuju ruang keluarga bersama. Sementara itu, di sisi lain, tepatnya di ruang kerja oma Rita. Oma Rita baru saja menerima amplop coklat dari Jaka. Isi dari amplop coklat membuat mata oma Rita membelalak tak percaya.


"Apakah ini sungguh nyata, Jaka?"


"Baiklah. Aku percaya dari hasil ini."


"Oh ya, apakah kamu sudah melakukan penyelidikan lanjutan untuk orang tua Roslin? Apakah benar mereka sudah tidak ada? Atau, mungkin mereka masih hidup?"


"Sudah, nyonya. Hasilnya negatif. Orang tua nona Roslin tidak selamat setelah bencana itu melanda."


Oma Rita terdiam beberapa saat. "Baiklah, Jaka. Untuk semua hasil penyelidikan yang telah kita lakukan, tolong jangan sampai Roslin tahu dulu. Aku akan bicarakan padanya suatu hari nanti. Saat waktunya sudah tiba."


"Baik, nyonya. Jangan khawatir. Semua akan aman dan tidak akan bocor sedikitpun. Nyonya bisa mempercayai saya dengan baik."

__ADS_1


...


"Apa yang ingin kalian bicarakan?" Rahan langsung angkat bicara setelah beberapa detik bokongnya ia duduki di sofa ruang keluarga.


Mama dan papa Rahan tidak langsung menjawab. Keduanya malah langsung bertukar pandang. Seakan saling memberi kode satu sama lain untuk menyampaikan apa yang ingin mereka katakan pada anak satu-satunya yang selama ini lebih dekat dengan orang lain ketimbang keluarga sendiri.


"Baiklah, papa yang akan bicara duluan. Papa ingin tahu soal kabar burung yang saat ini beredar di media sosial, Rahan. Kamu memberikan bunga untuk cucu angkat nyonya Rita. Apakah itu benar?"


"Apakah itu penting, Pa?"


"Tentu saja penting, Rahan. Ini menyangkut masa depan keluarga kita."


"Jika yang papa maksud itu nama baik, maka papa tidak perlu cemas. Karena berita yang beredar sudah aku tekan dengan baik. Rumor itu sudah tidak ada lagi sekarang."


Ucapan itu langsung membuat papa Rahan mengusap kasar wajahnya. "Ya Tuhan ... kamu anak aku atau bukan sih? Kenapa hidupmu begitu serius sampai tidak ada rasa manisnya sama sekali?"


"Aku ini orang tua, Rahan. Semakin hari, aku semakin tua dan semakin lama, aku semakin tidak punya kesempatan untuk menimang cucu. Kamu paham atau tidak sih apa yang papamu ini inginkan?"


Belum sempat Rahan menjawab apa yang papanya katakan, sang mama yang sejak tadi diam pun angkat bicara. "Yang papa kamu katakan benar, Rahan. Kamu harus menikah secepatnya. Istrimu meninggal sudah sangat lama, bukan? Jadi, sudah seharusnya kamu menikah lagi."


"Jika kamu masih kesulitan untuk memilih calon istri yang cocok buat kamu, mama punya saran yang baik untuk ini. Ada Winsty yang mungkin sudah sangat mengerti bagaimana sikap kamu, Rahan."


Sontak saja, ucapan itu langsung membuat wajah kaget Rahan dan juga papanya langsung muncul. Sebenarnya, ini bukan yang pertama kali ucapan itu keluar dari mulut sang mama. Namun, itu masih menimbulkan rasa kaget juga bingung bagi keduanya. Karena kali ini, sang mama bisa-bisanya membahas soal gadis pilihannya, padahal sudah mendengar kabar soal Rahan yang sedang bersama dengan perempuan lain.


Seakan tidak merasakan apapun dari ekspresi yang anak dan suaminya berikan, mama Rahan kembali berucap. "Jadi, tidak akan sulit untuk kalian hidup bersama. Karena dia .... "

__ADS_1


"Cukup, Ma. Kenapa jadi membahas soal Winsty yang sama sekali tidak ada dalam pokok pembahasan kita sebelumnya? Mama gak bisa menarik kesimpulan, kalau saat ini, Rahan sudah punya tambatan hati yang mungkin akan segera ia nikahi?"


__ADS_2