Mawar Putih Berubah Merah

Mawar Putih Berubah Merah
*Episode 43


__ADS_3

Kedua penjaga malah membius Winsty dan mama Rahan secara diam-diam hingga keduanya ikut pingsan. Rahan yang sebelumnya berpura- pura pingsan, tentu saja langsung bangun.


"Semua sesuai dengan yang tuan muda katakan, tuan. Sekarang, tinggal perintah selanjutnya saja lagi," ucap salah satu pengawal bayaran.


Rahan tersenyum lebar. "Perempuan itu aku berikan pada kalian. Terserah mau kalian apakan perempuan itu. Pokoknya, sesuka hati kalian saja."


Dua pria yang tentunya sangat paham dengan apa yang Rahan katakan, sontak langsung mengukir senyum. Bagaimana tidak? Sudah menerima uang banyak, mereka juga langsung dapat bonus lagi. Tentu saja kedua pria itu sangat bahagia.


"Baik, tuan muda. Kami akan membawa perempuan ini pergi. Terima kasih banyak atas kerja sama yang sangat menguntungkan ini."


"Hm. Sama-sama. Untuk perempuan itu, kalian tidak perlu takut untuk melakukan apa saja. Karena perbuatan kalian, aku lindungi."


Makin lebar pula senyum dua pria yang saat ini bersiap-siap untuk beranjak meninggalkan Rahan. Ruang tengah kediaman utama Brawijaya kini terlihat cukup memprihatinkan. Semua yang ada di ruang tersebut pingsan. Hanya Rahan yang masih terjaga.


"Sekarang, yang bisa aku lakukan hanyalah kembali ke posisi sebelumnya. Pura-pura pingsan sama seperti yang lain." Rahan bicara pada dirinya sendiri sambil melihat sekeliling.


"Huh ... entah sampai kapan mereka akan tertidur seperti ini. Yang jelas, ini akan menghabiskan banyak waktu. Dan tentunya, ini akan sangat tidak nyaman buat aku." Rahan berucap lagi sambil mengambil posisi duduk ke sofa yang sebelumnya menjadi tempat duduknya.


Sementara itu, Winsty di bawa ke hotel oleh kedua pria bayaran Rahan. Atas kata-kata yang Rahan ucapkan sebelumnya, mereka pun berniat untuk menikmati Winsty sepuasnya.


Dan, niat itupun langsung terlaksana.


Winsty menghabiskan malam panjang bersama dua pria sekaligus. Pria yang tidak ia kenali sama sekali. Dan, tidak pula ia tahu apa kedudukan dari kedua pria tersebut.


Saat malam panjang itu berlalu, Winsty masih setengah sadar. Hingga akhirnya, dia juga di tinggalkan begitu saja di kamar tersebut setelah di jadikan mainan oleh kedua pria yang tidak ia kenali.


Alangkah terkejutnya dia saat ia membuka mata, lalu mengingat apa yang sudah ia lalui tadi malam. Winsty yang terkejut pun langsung menjerit histeris.


"Ada apaan sih?"


"Iya. Apa sih yang sudah terjadi? Kenapa perempuan itu kelihatan sangat syok?"

__ADS_1


"Nggak tahu. Kayaknya, dia baru aja di tipu deh."


"Hah? Kok bisa? Di tipu atau sengaja di tinggal pacarnya?"


"Gak tahu juga. Yang jelas, dia seperti di manfaatin gitu."


Begitulah omongan para pengunjung hotel yang terpanggil akibat teriakan histeris dari Winsty. Ada banyak pendapat yang sedang bergulir. Seperti, ada yang kasihan. Tapi, ada pula yang cuek dan malah menyalahkan dirinya.


Namanya juga manusia. Ada banyak pikiran tersendiri yang akan bermain jika melihat seseorang yang sedang dalam masalah.


Pihak hotel pun langsung menenangkan Winsty. Setelah berhasil, Winsty malah langsung meninggalkan hotel dengan wajah yang masih terlihat sangat emosi.


Bagaimana tidak? Rekaman cctv hotel yang seharusnya bisa terlihat dengan baik, eh ... malah tidak ada satupun yang bisa ia jadikan bukti atas apa yang susah ia terima. Karena, tidak ada satupun cctv yang memperlihatkan kedatangan dirinya. Karena itu, dia tidak bisa melakukan apapun atas apa yang sudah ia terima.


Mau lapor polisi, dia tidak punya bukti. Bagaimana bisa polisi memproses laporan yang ia buat. Karena tidak ada satupun yang mencurigakan terjadi.


Sungguh luar biasa hebatnya dukungan Rahan untuk memberikan pelajaran pada Winsty. Tidak hanya membuat Winsty kehilangan mahkota yang paling berharga, Winsty juga dibuat tidak tahu siapa yang melakukannya. Benar-benar luar biasa rencana yang sudah Rahan susun.


"Mama nyari siapa?"


"Winsty, Rahan. Di mana Winsty? Bukannya dia ada di sini tadi malam. Tapi sekarang, dia malah tidak tahu ke mana perginya."


"Tidak perlu mama carikan. Dia juga pasti akan mencari mama nantinya," ucap Rahan sambil beranjak pergi.


Yang Rahan katakan itu sangat benar. Setelah keadaan kediaman kembali normal, tepatnya pada siang hari, Winsty datang ke kediaman Brawijaya dengan wajah masam.


"Winsty. Akhirnya kamu .... "


"Ini semua salah, tante. Gara-gara ulah tante, aku yang jadi korbannya." Winsty berucap dengan nada tinggi.


Hal tersebut langsung membuat mama Rahan bingung. Bagaimana tidak? Dia yang tidak tahu apa-apa, malah di serang secara tiba-tiba oleh Wibsty dengan amarah yang tinggi. Tentu saja ia langsung bingung karena hal tersebut.

__ADS_1


"Semua karena tante. Tante harus tanggung jawab sekarang! Rencana yang tante buat bukannya menguntungkan, tapi malah merugikan aku!"


Rumah kediaman Brawijaya seketika dalam keadaan panik kembali. Para pelayan berkumpul di bawah menyaksikan Winsty yang sedang marah-marah di lantai dua.


Sementara mama Rahan yang tidak terima, tentu ingin menjawab apa yang Winsty katakan. Tapi sayang, Winsty yang saat ini seperti sedang kerasukan setan malah langsung mendorong mama Rahan dengan keras sehingga membuat orang tua itu tergelincir dan ... jatuh dari tangga.


"Ya Tuhan! Nyonya!"


Para pelayan berteriak. Mereka ingin menolong tapi sudah terlambat. Tubuh mama Rahan jatuh dengan cepat berguling dari lantai atas ke lantai bawah.


Winsty yang sudah hilang akal, bukannya terkejut, tapi malah tersenyum puas. Hatinya merasa puas akan apa yang baru saja terjadi. Amarahnya yang sebelumnya membara, kini sudah tersalurkan.


Sebelumnya, dia menyalahkan mama Rahan atas kejadian buruk yang ia terima tadi malam.


"Semua ini karena wanita tua itu! Dia yang sudah menyebabkan aku di perlakukan buruk seperti ini. Tidak ...! Aku tidak akan terima begitu saja."


Karena perasaan itulah, dia seperti manusia yang punya gangguan mental sekarang. Bahkan, tidak punya rasa takut sedikitpun saat melakukan hal gila seperti barusan.


....


Pada akhirnya, Winsty di bawa ke kantor polisi akibat ulah yang sudah dia lakukan. Sementara mama Rahan, dia langsung di bawa ke rumah sakit. Nyawanya pun terselamatkan. Namun, dia mengalami koma akibat benturan keras yang sudah ia alami.


"Papa." Rahan berucap dengan penuh rasa bersalah.


"Jangan sedih, Rahan. Papa yakin jika mama kamu akan segera bagun."


Belum sempat Rahan menjawab, Ros dan oma Rita pun langsung menghampiri mereka berdua. Kedatangan Ros membuat Rahan merasa semangat hidupnya kembali pulih.


"Rahan. Yang sabar ya, Nak. Semua ini pasti akan segera berlalu," ucap oma Rita sambil menyentuh pundak Rahan.


"Ya, Rahan. Tenanglah! Mama mu pasti akan baik-baik aja." Ros berucap sambil menyentuh tangan Rahan.

__ADS_1


__ADS_2