Maxon Wu Si Tabib Ajaib

Maxon Wu Si Tabib Ajaib
Bab 104 Membandingi Nilai Pelajaran Dengan Nelly Wu?


__ADS_3

Fendy Wu merasa agak terkejut, "Kakek, Anda benar-benar meminumnya?"


Louis Wu melototi cucunya itu, "Apa yang kamu tahu! Ini adalah Maotai tiga puluh tahun yang sesungguhnya!"


Fendy Wu terkejut. Ia juga buru-buru menuangkan segelas untuk dirinya, dan meneguknya, sehingga memunculkan aroma fermentasi yang kuat.


Usai meminum segelas minuman keras itu, ia menatap Maxon Wu bertanya, "Minuman keras ini asli? Kamu menghabiskan sembilan puluh ribu untuk satu dus ini?"


Maxon Wu berujar santai, "Aku kurang kenal akan minuman keras. Jika Kakek bilang ini asli, berarti asli."


Jonathan Wu mereka juga sibuk menuangkan segelas untuk sendiri. Mereka semua sering minum minuman keras, tapi mereka tidak dapat membedakan minuman keras ini asli atau bukan, dan hanya merasa sangat enak.


Makanan-makanan dihidangkan, dan mereka semua juga mulai makan-makan.


Nyonya Besar terus membiarkan cucu kandungnya mengambil makanan, tapi malah tidak peduli akan Maxon Wu dan Nelly Wu sama sekali, seperti mereka adalah orang asing di sana.


Maxon Wu tidak makan banyak, apalagi Nelly Wu dan Lenny Zhang yang tidak menggerakan sumpit mereka sama sekali.


Tiba-tiba Johnny Wu pun berkata, "Ayah, hasil ujian bulanan Aisley sudah keluar dalam beberapa hari ini, dan ia berada di dalam peringkat empat ratus besar untuk satu distrik!"


Louis Wu tertawa berkata, "Benarkah? Aisley memang sudah pintar sejak kecil. Jika peringkatnya berada dalam empat ratus besar, seharusnya ia bisa memasuki universitas yang baik, bukan?"


Johnny Wu berujar dengan sangat bangga, "Tentu saja! Bisa berada di dalam peringkat empat ratus besar, berarti ia bisa daftar ke jurusan yang baik!"


Selesai berkata, ia melirik ke arah Maxon Wu sekilas, "Oh iya, aku ingat Nelly juga sudah masuk sekolah menengah atas kelas dua, bukan? Apakah nilainya baik-baik saja?"


Maxon Wu berkata, "Benar, Paman Keempat. Sebentar lagi Nelly sudah mau sekolah menengah atas kelas tiga. Nilainya cukup baik, bahkan kemarin-kemarin ia juga memperoleh peringkat pertama seprovinsi untuk kompetisi matematika nasional. Universitas Huaqing, Universitas Tianjing juga mendatangkan panggilan, dan berharap Nelly bisa melanjutkan pendidikannya di universitas mereka, bahkan mereka juga bilang kalau kita tidak perlu membayar uang kuliahnya. Tapi aku tidak menerima ajakan mereka semua, lagi pula Nelly masih ada pilihan yang semakin baik, dan aku memutuskan untuk membiarkannya kuliah di luar negeri."


Satu tempat itu menghening. Peringkat pertama seprovinsi? Benar atau bohong?


Aisley Wu langsung mengeluarkan ponsel dan menelusuri berita itu. Nyatanya, ia langsung menemukan nilai-nilai kompetisi matematika nasional tahun ini, dan nama 'Nelly Wu' juga tertulis di peringkat pertama dengan jelas.


Johnny Wu merasa harga dirinya agak tidak dijaga dan merasa tidak senang, lalu berkata, "Untuk apa seorang wanita mempelajari matematika? Tidak berguna! Wanita itu seharusnya mempelajari puisi, menyanyi, memainkan alat musik dan melukis. Bahkan Aisley kita sudah mencapai piano tingkat kelima, dan pandai dalam bermain biola, serta menari."


Maxon Wu mengangguk, "Apa yang dikatakan Paman Keempat benar, jadi aku juga mencarikan guru les private untuk Nelly. Untungnya ia sangat pintar, sekarang pianonya sudah mencapai tingkat kesepuluh, biolanya sudah mencapai tingkat kesepuluh, dan juga kemampuan menarinya yang mencapai tingkat kesepuluh. Bahkan kemampuan kaligrafinya juga cukup baik, dan sekarang ini ia tengah mempelajari belajar bahasa luar negeri."

__ADS_1


Maxon Wu tidak sedang membual. Sejak kecerdasan Nelly Wu dikembangkan, ia pun meminta bantuan Stella Zhu, mencarikan guru les untuk meningkatkan kemampuan Nelly Wu secara menyeluruh.


Dan Aisley Wu pun memandang Nelly Wu kagum, sembari berkata, "Kak Nelly, bagaimana kamu mengerjakan ujiannya? Bisa-bisanya Kak Nelly menjadi peringkat pertama seprovinsi! Kalau begitu, apakah Kakak benar-benar tidak mau daftar ke Universitas Tianjing dan Universitas Huaqing?"


Nelly Wu berkata, "Aku masih belum memikirkannya dengan baik. Aku ingin memikirkannya lagi setelah ikut serta Kompetisi Matematika Olympics kelas tiga nanti."


Aisley Wu berujar, "Kakak begitu hebat, Kakak pasti bisa mendapatkan penghargaan."


Nelly Wu berkata, "Aku pernah melakukan beberapa set soal internasional, seharusnya aku bisa mendapatkan penghargaan."


Juan Wu pun terbatuk pelan, dan mengalihkan topik pembicaraan yang membuat mereka tertekan ini, "Maxon, apakah dekat-dekat ini kamu sudah mulai bekerja?"


Maxon Wu membalas datar, "Aku belum ada pekerjaan resmi, dan hanya melakukan beberapa bisnis."


"Oh? Kamu mulai berbisnis?" Juan Wu mulai tertarik, "Bisnis apa?"


"Aku menginvestasi ke sebuah perusahaan farmasi dan sebuah proyek perumahan. Hingga sekarang ini, aku masih belum menghasilkan uang sama sekali." Semua yang ia katakan itu benar.


Juan Wu terkekeh singkat, "Perumahan? Kamu sedang kerja paruh waktu di pembangunan kali?"


Maxon Wu hanya tertawa, tidak mengelaknya, dan hanya berkata, "Baik-baik saja mungkin, jika semuanya berjalan dengan lancar, seharusnya aku bisa memperoleh sedikit uang."


Sedangkan Louis Wu yang di sana terus menegukkan minuman keras. Minuman keras itu terlalu enak, dan ia pun tampak sedikit mabuk. la melirik Maxon Wu dari samping dan berkata, "Orang itu ya, harus percaya akan takdir. Terkadang, apa yang sudah ditakdirkan dalam hidup, pasti akan ada. Tapi apa yang tidak ditakdirkan dalam hidup, mau kamu terus mengharapkannya, kamu tidak akan bisa mendapatkannya. Kamu ini persis dengan Ayahmu, memiliki takdir hidup yang buruk. Dalam seumur hidup ini, kamu juga tidak usah berpikir untuk menjadi kaya lagi, dan jadilah orang biasa saja."


Maxon Wu tiba-tiba berkata, "Apa yang dikatakan Kakek benar. Aku tengah siap-siap menikah, tapi keluarga kita kebetulan tidak ada rumah yang cocok dipakai. Dengar-dengar, Kakek sini pernah membagi-bagi dua puluh dua rumah, bolehkah Anda memberiku satu rumah?"


Kelopak mata Louis Wu gemetar pelan. Ia langsung melupakan Maotai dan Teh Longjin yang diberikan Maxon Wu, serta membanting sumpit ke atas meja, "Kamu ini bodoh ya! Aku saja tidak cukup membagikan rumah-rumahku kepada cucuku, bagaimana mungkin ada rumah lebih untukmu? Lagi pula, bukankah kamu yang bilang kalau kamu sedang menginvestasi sebuah proyek perumahan? Mengapa kamu masih meminta rumah?"


Maxon Wu berujar datar, "Tapi aku ini tetaplah cucu Anda. Anda tidak boleh begitu tidak adil terhadap berbeda orang, bukan? Dan perumahan itu adalah milik Kakek dari keluarga Ibuku, bukanlah milikku."


Louis Wu marah besar, "Berani-beraninya kamu! Ayahmu itu diangkat olehku, tapi ia malah tidak membalas budi kepadaku, ia itu adalah anak yang tidak tahu berterima kasih! Aku sudah merawat seorang anak yang tidak tahu berterima kasih, dan sekarang aku harus merawatmu juga?"


Maxon Wu juga tidak marah, dan tertawa berkata, "Kakek, jika nanti hari aku sukses, bukankah aku akan berbakti kepada Anda seperti mereka semua? Sekalinya bisnis yang aku investasi menghasilkan uang, nominal itu bukanlah nominal yang kecil."


Louis Wu tertawa sinis, "Kamu bisa sukses? Untuk seseorang yang pernah dipenjara, belum tentu bisa meraih prestasi baik."

__ADS_1


Maxon Wu berkata, "Pepatah mengatakan, jangan memandang remeh pemuda yang tidak memiliki apapun. Sekarang aku belum sukses, belum tentu nanti hari aku tidak sukses."


Louis Wu terbahak-bahak kencang, sambil menggeleng kepala, "Mau kamu menjadi orang terkaya di dunia ini, kita juga tidak akan memakai uangmu sama sekali."


Maxon Wu mengedik alisnya pelan, "Bagus sekali, aku harap Kakek mengingat kata-kata Anda sendiri, bahwa kalian tidak akan memakai uangku sama sekali."


Louis Wu lagi-lagi meminum seteguk minuman keras itu, lalu mengumpat, "Dasar bocah, pantas aku kebingungan mengapa kamu rela membelikan Maotai dan Teh Longjin ini untukku, ternyata kamu menginginkan rumahku. Hehe, kamu lupakanlah pikiran itu! Aku akan membagi rumahku untuk cucu resmiku, dan tidak menyisakan sama sekali untukmu!"


Maxon Wu mengangkat gelas minumnya, dan menghabiskan isi di dalam sana. Kata-kata Louis Wu itu sepenuhnya membuat rencana dimana dirinya yang ingin berbaikan dengan keluarga ini padam.


Nyonya Besar itu juga melototi Maxon Wu, sambil menunjuknya berkata, "Bocah ini sama-sama tidak berguna dengan Ayahnya! Bisa-bisanya ia menginginkan rumah keluarga kita!"


Lenny Zhang akhirnya tidak dapat menahan diri lagi, "Ibu, meski Arnold bukan anak kandung Anda, tapi setidaknya kalian masih ada hubungan keluarga, bukan? Bolehkah Anda jangan mengatakan hal-hal yang melukai hati orang?"


Saat mengatakan itu, matanya telah berkaca-kaca. la tidak masalah jika Keluarga Wu mengatai dirinya. Tapi mereka sedang mengatai putranya sendiri, dan ia sungguh tidak kuat mendengarnya.


Nyonya Besar memutar bola matanya malas, "Kamu merasa sedih? Kita sudah merawat Arnold hingga besar, tapi apakah ia membalas budi kepada kita?"


Maxon Wu menurunkan gelas minumnya, dan berujar datar, "Apa yang dikatakan Nenek benar. Untuk budi kalian itu, Ayah memang harus membalasnya. Tapi, jujur saja, kalian sebenarnya tidak memperlakukan Ayah dengan baik, sama sekali tidak perhatian kepadanya. Apalagi, seiring usianya bertambah, ia pun mulai mencari kerja dan uang untuk membiayai kalian."


Nyonya Besar tertawa sinis, "Hei bocah, kalau kamu mau bicara seperti itu, maka aku akan menghitung-hitung untukmu. Sejak kecil, Ayahmu sudah tinggal dan berlangsung hidup di rumah kita. Dengan harga barang sekarang ini, ia bisa menghabiskan uangku sebanyak sekian ratus ribu RMB untuk setiap tahunnya, ia pun masih berutang sebanyak dua juta kepadaku!"


"Dua juta? Itu bukanlah nominal besar." Maxon Wu mengangguk, dan memanggil Garry Fang berkata, "Pergi tarik uang sebanyak dua juta kemari."


Garry Fang mengangguk dan berputar badan meninggalkan tempat.


Semua orang yang berada di tempat langsung tertawa. Fendy Wu pun berkata, "Sialan! Maxon Wu, kamu masih belum mau mengakhiri semua ini? Kamu ini sudah terbiasa pura-pura kaya ya? Dua juta lagi!"


Maxon Wu tidak menghiraukannya. la mengeluarkan Ganoderma Darah yang tidak diinginkan Louis Wu, menaruhnya ke dalam mangkok besar, lalu memakai Maotai merendamnya.


Setelah direndam beberapa menit, minuman keras ini tiba-tiba menjadi warna merah yang terlihat seperti darah. Dan hal yang paling aneh adalah minuman keras yang bagai darah ini bisa-bisanya mengeluarkan aroma yang berbeda.


Bersambung......


Jangan lupa like dan komen....

__ADS_1


Sekian terima kasih


__ADS_2