Maxon Wu Si Tabib Ajaib

Maxon Wu Si Tabib Ajaib
Bab 41 Angin Dan Badai Dalam Pertandingan


__ADS_3

Mobil melaju selama satu jam lebih, Guru Zhao menerima sebuah telepon, setelah mendengarnya sejenak, wajahnya pun berubah, katanya "Mana mungkin! Jelas jelas kita sudah dagter, bahkan nomor ujian kalian juga sudah diberikan kepadaku, mana mungkin tidak terdaftar?"


Orang di seberang telepon pun menjawab, "Kalau begitu kami juga tidak tahu, yang jelas kami menemukan bahwa pendaftaran kalian tidak berhasil, tidak dapat mengikuti ujian kali ini.


Wajah Guru Zhao tampak sangat panik, lalu berkata, "Pak, coba periksalah lagi, apakah ada kesalahan."


"Tidak mungkin, tidak mungkin salah." katanya, lalu langsung menutup teleponnya


Maxon bertanya, "Guru Zhao, ada apa?"


Guru Zhao tersenyum pahit, "Entah apa yang terjadi, kantor persiapan perlombaan meneleponku, katanya kita tidak berhasil daftar, tidak dapat mengikuti ujian kali ini."


Maxon mengerutkan alisnya. "Tidak terdaftar? Tidak mungkin, aku sudah memeriksanya di situs resmi dan tertulis pendaftaran berhasil."


"Aku juga bingung, memang sudah berhasil." Guru Zhao hanya menghela nafasnya saja, ia sangat mengharapkan ujian kali ini, karena jika Nelly dapat memperoleh nilai yang bagus, ia juga akan merasa sangat bangga.


Garry bertanya, "Bos, apa kita masih pergi?"


"Pergi!"


Maxon berkata dingin, "Adikku harus ikut ujian ini!"


la menelepon Anderson, dan menceritakan masalah ini. Anderson memiliki banyak koneksi, sepuluh menit kemudian ia langsung memberikan balasan.


"Maxon, aku sudah menyelidikinya. Ada seorang karyawan kantor yang mengganti informasi pendaftaran, aku sudah menyuruh mereka untuk memperbaikinya."


Maxon, "Sengaja menggantinya?"


"Aku sudah sedang menyelidiki penyebabnya, nanti aku akan memberitahumu. Oh ya, Maxon, kalau kau datang ke Ibukota Provinsi, carilah aku, aku sangat merindukanmu."


Maxon, "Baik, aku pasti akan pergi menemui Kak Anderson."


Setelah telepon itu mati, tatapan mata Guru Zhao pun sedikit berubah, siapa sebenarnya Maxon ini, dalam satu telepon saja, ia sudah dapat mengetahui semuanya!


Sepuluh menit kemudian, telepon Guru Zhao berdering, orang tersebut memberitahu bahwa memang merekalah yang salah, Nelly sudah berhasil terdaftar, dapat mengikuti ujian itu, dan meminta maaf padanya terus-menerus.


Hati Guru Zhao sangat terkejut, la mematikan teleponnya, dan tidak dapat duduk dengan tenang lagi.


Nelly penasaran, "Kak, apa kau ingin pergi menemui teman?"


Maxon mengangguk, "Seseorang bernama Anderson Li, dia adalah orang yang cukup memiliki kekuatan di Ibukota Provinsi. Kebetulan ada yang ingin kubicarakan dengannya, nanti aku akan membawamu juga."


Nelly, "Baik."


Mendengar nama Anderson Li, Guru Zhao pun gemetaran, adik iparnya bekerja di ibukota, tidak jarang ia menyebut nama Anderson Li itu, ternyata dia adalah teman Maxon?


Mobil pun akhirnya sampai di dalam ibukota, dan berhenti di depan pintu Sekolah Menengah Eksperimental Ibukota Provinsi. Garry pergi untuk memarkirkan mobil, Maxon dan Guru Zhao menemani Nelly untuk melihat lokasi ujiannya. Waktu ujiannya adalah pukul sembilan pagi sampai sebelas setengah masih ada satu jam lebih lagi.


Sekolah itu sudah menyediakan tempat untuk menunggu, para siswa yang sangat pandai matematika dari seluruh Provinsi K berkumpul di sana. Tentu saja, yang datang bersama dengan mereka ada juga orang tua dan guru-guru mereka, orang-orang di sana tidak sedikit juga.


Baru saja Maxon dan yang lainnya duduk, ia langsung melihat Rose Wang dan ayahnya berjalan memasuki lobby, dan duduk di tempat yang tak jauh dari sana.


Guru Zhao juga melihatnya, lalu berkata bingung. "Eh, Rose Wang kan tidak daftar, untuk apa dia datang kemari?"


Tiba-tiba, Anderson meneleponnya, katanya seseorang bernama Johnson Wang menyogok karyawan di kantor, dan mendaftarkan putrinya sendiri, Rose Wang. Dengan kata lain, Rose lah yang merebut posisi Nelly, tak heran jika Rose datang untuk ikut ujian.


Setelah Maxon mendengarnya, wajahnya tampak sangat muram, sial, menyebalkan sekali!


la bangkit berdiri berjalan ke arah Rose dan keluarganya. Begitu melihat Maxon, Rose menyapanya dengan santal, "Kakak Nelly, mana Nelly?"


Pria paruh baya di belakangnya melihat ke arah Maxon sejenak, tidak berkata apa-apa.

__ADS_1


Maxon berkata dengan pelan, "Apa kau tidak mendapat pemberitahuan? Kualifikasi ujianmu telah dibatalkan."


"Bicara apa kau!" Pria itu pun akhirnya bangkit berdiri, wajahnya tampak sangat marah.


Maxon menatapnya, "Kau adalah Johnson Wang? Kaulah yang telah menyogok karyawan kantor dan menghapus pendaftaran adikku, dan menggantinya dengan nama Rose Wang, putrimu?"


Pria paruh baya itu adalah ayah Rose, Johnson Wang memiliki bisnis barang bangunan, wajahnya berubah dan berteriak, "Kenapa kau bisa tahu?


Maxon tertawa dingin, "Jika kau tidak ingin orang lain mengetahui perbuatanmu, jangan lakukan perbuatan itu. Kalian sekeluarga boleh pergi dari Ibukota Provinsi sekarang!"


Rose terkejut dan marah, wajah kecilnya tampak sangat kesal, "Bisa-bisanya kau membatalkan pendaftaranku, kenapa? Papa, cepat pikirkan cara!"


Rose pun panik dan menghentakkan kakinya.


Johnson segera menenangkan dirinya, ia menatap Maxon dan berkata, "Hei, kau bisa mengetahui kebenaran ini secepat ini, seharusnya kau juga memiliki koneksi yang cukup. Masalah ini, memang salahku, bagaimana kalau kita lupakan saja semuanya?"


"Lupakan saja? Apa aku harus menuruti perkataanmu?" Maxon menatapnya, "Aku tidak punya dendam apapun denganmu, adikmu yang menyuruh orang untuk menghadang adikku terlebih dahulu, hari ini dia ingin menggantikan ujiannya, berani sekali kau."


Wajah Johnson berubah muram. "Anak muda, apa kau kira aku takut padamu? Aku, Johnson Wang, juga mengenal banyak orang besar di luar sana, sebaiknya kau menerimanya saja, jangan membuat masalah untuk dirimu sendiri."


Maxon menganggukkan kepalanya, "Sepertinya kalau aku tidak memberimu pelajaran, kau akan terus menindasku seperti ini!"


la langsung menelepon temannya yang bekerja di pusat informasi, "Bantu aku untuk menyelidiki Johnson Wang, orang Kabupaten Mingyang, putrinya bernama Rose Wang, bersekolah di SMA 1. Oke, baik."


Johnson tercengang sejenak, ia menyuruh orang untuk menyelidikinya? Apa otaknya bermasalah? Apa dia kira ini film? Hanya dengan sebuah telepon saja sudah bisa mendapatkan informasi?


Ia pun tak tahan untuk bertahan dingin, "Anak muda, jangan berlagak di hadapanku, kuberitahu kau, aku Johnson Wang......"


Baru saja ia membual sejenak, orang tersebut menelepon Maxon kembali, Maxon langsung menyalakan loudspeakernya, "Sudah kuselidiki, Johnson Wang ini adalah adik ipar dari Wakil Direktur Departemen Konstruksi Kabupaten, dengan relasinya itu ia dapat memperoleh cukup banyak pesanan barang bangunan, beberapa tahun ini memperoleh cukup banyak penghasilan."


Maxon, "Sudah cukup." Lalu ia mematikan teleponnya.


Maxon menatapnya, dan berkata, "Berlututlah dan minta maaf padaku sekarang, lalu tampar mulutmu sendiri sepuluh kali, aku dapat memilih untuk memaafkanmu."


Hati Johnson pun panik, permintaan yang memalukan seperti ini, tentu saja ia tidak akan menyetujuinya, ia berkata, "Anak muda, jangan menggertak orang......"


Maxon tersenyum, dan mulai menelepon untuk yang kedua kalinya, kali ini ia menelepon Walikota, Bobi Zhu.


Di dalam telepon, Bobi tampak sangat terkejut, "Maxon, ada apa? Apa Stella baik-baik saja?"


Maxon, "Paman, Stella baik-baik saja, kesehatannya juga sudah pulih dengan baik. Oh ya, aku ingin bertanya satu hal, apakah di Kabupaten Mingyang ada sebuah Departemen Konstruksi?"


Bobi menjawab, "Benar, di setiap kabupaten pasti ada, bereka bertanggung jawab untuk membangun bagunan publik."


Maxon, "Wakil Direktur


Departemen Konstruksi Kabupaten, dia menyerahkan sebagian besar proyeknya pada kakak iparnya, dan bermain KKN. Kurasa Paman perlu untuk menyelidikinya."


Mendengar kabar itu, Bobi pun segera berkata, "Ada hal seperti itu? Aku akan segera menyelidiki hal ini, setelah itu aku akan memberitahumu hasil penyelidikanku."


"Baik Paman, tidak ada hal lain lagi, kumatikan ya."


Setelah telepon itu dimatikan, wajah Johnson tampak sangat pucat, ia bertanya, "Kau telepon dengan siapa?"


Maxon, "Bukan siapa-siapa, hanya Walikota Yunding, Bobi Zhu, saja, seharusnya kau tahu."


Brak


Johnson pun melemas dan terjatuh ke lantai, dengan gemetaran ia berkata, "Anak muda, maaf, aku salah, mohon maafkan aku."


Dia berlutut di atas lantai, dan memohon maaf.

__ADS_1


Maxon tertawa dingin, "Aku sudah memberimu kesempatan, tetapi kau tidak memanfaatkannya dengan baik, sudah terlambat untuk berlutut sekarang!"


Lalu, Maxon pun berbalik dan pergi.


Rose berteriak, "Kembali kau!"


Maxon berhenti, menatap gadis itu dan berkata dingin, "Apa lagi yang ingin kau katakan?"


Dengan marah Rose berkata, "Jangan mengancamku, aku tidak takut......"


"Plak"


Johonson menampar wajah Rose, lalu berkata dengan marah, "Kau masih berani memberiku masalah? Tutup mulutmu!"


Rose tercengang, sejak kecil sampai sekarang, ini pertama kalinya ayahnya menamparnya, air matanya pun menetes dengan deras ke bawah.


Johnson segera berjalan ke arah Maxon dengan cepat, dengan gemetaran ia berkata, "Adik Wu, aku benar-benar bersalah, beri aku kesempatan lagi"


Maxon berkata pelan, "Pergi dari kota ini terlebih dahulu, tunggu sampai perasaanku senang nanti, aku akan mempertimbangkan untuk memaafkanmu."


"Baik, baik." la segera menarik istrinya yang tercengang itu dengan Rose, dan segera meninggalkan sekolah. Maxon berkata seperti itu, berarti ia masih memiliki kesempatan.


Semua kejadian yang terjadi di sana itu dilihat sepenuhnya oleh Nelly, setelah Maxon kembali ke arah mereka, ia berkata, "Kak, apa yang terjadi, kenapa ayah Rose berlutut padamu?"


Maxon tidak ingin mempengaruhi perasaannya untuk ujian, "Tidak apa apa, dia sendiri yang aneh."


Lalu, ujian pertama pun dimulai Nelly memasuki ruang ujian.


Waktu ujian dua jam itu terasa sangat lama, Maxon sangat bosan, la bertanya pada Guru Zhao apakah dia ingin berkeliling atau tidak, tapi Guru Zhao ingin tetap tinggal di tempat.


Maxon tidak memaksanya dan berjalan keluar sekolah sendirian.


Di seberang sekolah, ada sebuah "Aula Bela Diri Taiyi", melihat papan nama aula bela diri itu, ia pun ingin melihat seperti apa aula itu. Bagaimanapun, dia adalah orang hebat alam Qi, rasa penasarannya sangat besar.


Pintu aula itu terbuka, setelah masuk ke dalam, ia melihat sebuah lorong, di sebelah kiri lorong tersebut ada sebuah pintu.


Maxon membuka pintu itu dan melihat sebuah ruangan bela diri yang snagat besar, puluhan orang yang sedang mengenakan pakaian latihan berwarna putih sedang duduk dengan rapi di atas lantai, lalu melihat ke arahnya bersamaan.


Di antara mereka, duduklah seorang pra paruh baya yang tubuhnya sangat kekar, kedua tangannya sangat besar, juga sedang memandanginya


"Teman, akhirnya kau datang juga!" Pria paruh baya itu bangkit berdiri, tingginya setidaknya ada 195 cm, sangat tinggi dan kekar, alisnya tebal seperti pedang.


Maxon tercengang, ia menunjuk dirinya sendiri dan berkata, "Kau berbicara denganku?"


Pria paruh baya itu berjalan tiga langkah ke depan, dan berkata, "Sudah lama mendengar nama besarmu, namun tak disangka kau semuda ini."


Maxon sangat bingung, dia sedang berbicara dengan dirinya? Kenapa dia tidak mengenalnya?


Pria itu melanjutkan, "Karena kau sudah datang, tidak perlu berkata apa-apa lagi, silakan!"


Seketika ia langsung membuat ancang-ancang, begitu melihatnya hendak menyerang. Maxon pun dalam hati berkata, apakah orang-orang yang bisa bela diri ini sangat impulsif semua seperti ini? Aku hanya datang ke aula bela din kalian untuk melihat-lihat saja. tapi kau langsung ingin bertarung denganku?


Tapi Maxon juga tidak takut, ia melepaskan sepatunya dan berkata, "Baiklah, kita bertanding secukupnya saja."


Pria paruh baya itu menghela nafas sejenak, lalu memberikan tendangan sambil menyerongkan tubuhnya, kecepatannya sangat cepat, kekuatannya juga sangat besar. Tapi, di mata Maxon, gerakan itu terlalu lambat. Maxon mundur ke belakang sedikit lalu menekan telapak kaki pria itu dengan jarinya.


Bersambung......


Jangan lupa like dan komen....


Sekian terima kasih

__ADS_1


__ADS_2