Maxon Wu Si Tabib Ajaib

Maxon Wu Si Tabib Ajaib
Bab 47 Tergila gila


__ADS_3

Sekitar seminggu yang lalu, Jemima tiba-tiba tidak nafsu makan, setiap hari ia mengunci dirinya dalam ruang baca, terkadang ia juga tidak tidur di malam hari. Awalnya, Jeffrey tidak memedulikannya, ia hanya mengira bahwa Jemima tidak nafsu makan biasa saja, lagipula dia adalah seorang God Realm Master, ia dapat langsung melihat apakah tubuh seseorang sedang bermasalah atau tidak, tubuh Jemima tampak sangat sehat.


Setelah tiga berlalu, semangat Jemima tiba-tiba berkurang, tatapan matanya kosong, pasti ada masalah pada tubuhnya. ia segera mengundang banyak sekali dokter ternama untuk memeriksanya, tapi sama sekali tidak ada hasilnya.


Melihat kesehatan Jemima yang semakin memburuk, tubuhnya juga mulai mengurus, Jeffrey pun sangat khawatir. Sampai kemarin lusa, ia mendengar bahwa penyakit ayahnya diobati oleh seorang Tabib Ajaib muda, oleh karena itu ia pun mengundang Maxon untuk memeriksa Jemima.


Oleh karena itu, di dini hari, ia meminta nomor Maxon dari adiknya, Erickson Xu, dan meneleponnya untuk datang kemari.


Mendengar penjelasannya itu, Maxon berpikir sejenak, lalu bertanya, "Dia mana dia sekarang?"


Jeffrey menunjuk ke ruang baca, "Masih di ruang baca, aku benar-benar pusing."


Yang dapat membuat seorang God Realm Master pusing, itu artinya masalahnya sangat parah.


Maxon, "Apa aku boleh masuk?"


Jeffrey mengangguk, ia berjalan ke pintu ruang baca, lalu mengetuk pintunya dan berkata, "Jemima, Papa membawa seorang teman, ia ingin bertemu denganmu."


Beberapa saat kemudian, terdengar sebuah suara yang sangat lemah, "Masuklah."


Jeffrey membuka pintu, Maxon pun melihat ruang baca yang dekorasinya sangat kuno ini, keempat dindingnya penuh dengan gambar dan kaligrafi orang ternama.


Di belakang meja baca, duduklah seorang gadis berumur lima enam belas tahunan, wajahnya sangat cantik, rambutnya panjang, matanya besar.


Ada orang yang masuk, tapi ia juga tidak melihatnya, semua konsentrasinya terarah pada sebuah buku kuno yang ada di atas meja.


Jeffrey berkata, "Sejak kecil Jemima suka mengoleksi buku kuno, semua ini aku yang mencarikannya untuknya."


Maxon menatap Jemima, menurut pengelihatannya sebagai seorang dokter, tubuhnya sehat, namun jiwanya tampak sangat bermasalah. Kalau dibiarkan seperti ini terus, lama-kelamaan nyawanya juga akan terancam.


Sekian banyak kasus kedokteran terbesit di dalam kepala Maxon, seketika ia pun menemukan kasus yang serupa dengan kejadian ini.


ia tersenyum, berjalan ke arah meja, lalu membaca buku kuno di atas meja itu, ia berkata, "Jemima, kau sedang membaca buku apa?"


Jemima menutup buku itu, lalu berkata pelan, "Buku dari seorang penulis di Dinasti Ming, buku ini adalah buku tulisan tangannya, di dunia hanya ada satu."


Maxon mengangguk, "Kalau begitu dia pasti adalah seorang penulis yang sangat hebat."


"Tentu saja, saat umur tiga tahun ia sudah menulis puisi, empat tahun tulisan tangannya sudah jauh lebih baik dari gurunya, sepuluh tahun mendapat sarjana, lima belas tahun menjadi Juran. Sayang, tubuhnya tidak begitu baik, ia meninggal pada usia enam belas tahun, kalau tidak, yang akan ada di peringkat pertama saat ujian pasti adalah dia."


Saat Jemima berbicara, Maxon membuka Eye of Dimension-nya, ia melirik ke arah buku kuno itu, namun tidak melihat ada yang aneh, dari mana masalahnya itu berasal?


Ia berpikir sejenak, lalu sebuah kasus pun terbesit di kepalanya, seorang wanita, setelah melihat gambar dari seorang pelukis, ia tidak bisa melupakannya, menjadi tak nafsu makan, situasinya mirip dengan Jemima.


Ia tersenyum, "Kalau begitu kita tidak akan mengganggumu."


Ia memberi isyarat pada Jeffrey bahwa mereka bisa keluar sekarang, lalu menutup pintu ruang baca itu lagi.


Jeffrey segera bertanya, "Tuan, apa Anda melihat sesuatu?"


Maxon mengangguk, "Ada sedikit petunjuk, tapi masih tidak bisa dipastikan."


Ia mengambil sebuah kursi, dan duduk di depan pintu, lalu menyuruh Jeffrey untuk tidak berbicara.


Jeffrey kebingungan, dalam hati ia berpikir cara pengobatan macam apa ini? Tapi ia tetap berdiam diri di samping, tidak bergerak atau pun berbicara.


Setelah kurang lebih setengah jam, Maxon merasa suasana dalam ruang baca itu sudah tenang, ia pun membuka Eye of Dimension-nya untuk melihat keadaan Jemima.


Kali ini, ia melihat Jemima seperti bermimpi namun juga tidak bermimpi seperti terbangun namun juga tertidur, kedua matanya setengah tertutup, wajahnya tersenyum dengan lembut.


Ia melihat dalam mimpi Jemima itu, ia sedang bermain-main dengan seorang pemuda yang tampan, sangat romantis sekali. Ini adalah salah satu kemampuan lain dari Eye of Dimension-nya, melihat mimpi orang lain!


"Ternyata benar." Mata Maxon pun bersinar terang.

__ADS_1


Jeffrey segera bertanya, "Tuan, apa yang ternyata benar?"


Maxon tersenyum dan berkata, "Penyakit putrimu, aku bisa menyembuhkannya."


Jemima setengah bermimpi dan setengah terbangun, seketika ia pun melompat terkejut, dan langsung terbangun. Maxon maju ke depan dan menekan kening Jemima dengan satu jarinya, di saat bersamaan ia menggerak-gerakkan tangannya sambil membaca mantra.


Kedua mata Jemima pun mulai mengantuk, sekitar setengah menit kemudian, ia pun terhipnotis oleh Maxon. Teknik hipnotis ini biasa digunakan oleh dokter untuk mengobati penyakit psikologis, efeknya sangat bagus.


Setelah Jemima dihipnotis, Maxon berbisik di telinganya, lalu menjentikkan jarinya, "Bangun!"


Jemima langsung membuka kedua mata besarnya, lalu mengerutkan alisnya dengan kebingungan, "Lapar sekali!"


Jeffrey terkejut dan sangat gembira, "Bagus kalau lapar, kau ingin makan apa, Papa akan membuatkannya sendiri untukmu."


Jemima berkata, "Aku ingin makan banyak, makan di luar saja."


"Baik, baik, makan di luar." Jeffrey tersenyum lebar, ia tahu putrinya sudah kembali.


Jeffrey mengajak Maxon untuk ikut pergi, tapi Maxon menolaknya dengan sopan, ia masih harus mencari Jayden.


Saat sang sopir sedang menyiapkan mobil, Jeffrey bertanya dengan pelan, "Tuan Wu, apa putriku sudah benar-benar sembuh?"


Maxon mengangguk, "Sudah, bahkan ia sudah lupa pada penulis itu. Oh ya, buku kuno di atas meja itu, simpanlah saja, jangan sampai ia melihatnya lagi."


Jeffrey segera megnangguk, "Tuan benar-benar Tabib Ajaib, saya sangat kagum!"


Maxon berkata, "Jangan panggil aku Tabib Ajaib. Tuan Ketiga, kalau tidak ada masalah lain, aku pamit dulu."


Jeffrey tersenyum dan berkata, "Kau sudah menyelamatkan Jemima, aku sangat berterima kasih. Kalau kau tidak keberatan, kau boleh memanggilku Kakak Ketiga."


Maxon tersenyum dan berakata, "Baik! Kakak Ketiga Xu."


Jeffrey pun merasa tenang, ia tersenyum dan berkata, "Baik! Kalau Adik ada waktu malam ini, aku akan mencarimu untuk minum-minum."


Setelah berpamitan, sang sopir pun membawa Maxon pergi ke tempat Jayden.


Sekarang Keluarga Lu sudah bisa dibilang konglomerat di Yunjing, tempat tinggalnya tentu saja tidak menyedihkan, terletak di sebuah kompleks vila.


Mobil berhenti di depan vila taman bunga, di depan pintu berdirilah seorang pengurus rumah, dia disuruh oleh Jayden untuk menunggu Maxon.


Begitu Maxon turun, sang pengurus rumah pun menyambutnya dan bertanya sambil tersenyum,"Tuan Muda Wu?"


Maxon mengangguk, "Jayden tidak ada di rumah?"


Pengurus rumah segera menjawab, "Tuan Muda kami sedang keluar rumah, katanya sebentar lagi akan kembali, ia menyuruhku untuk menunggu Tuan Muda Wu di sini."


Katanya sambil mengundang Maxon masuk ke dalam rumah. Begitu pintu dibuka, sebuah suara musik yang gila pun terdengar keras, orang-orang di ruang tamu setidaknya adalah puluhan, pria dan wanita, ada beberapa orang yang merupakan teman kampus Maxon.


Tak jauh dari pintu itu, ada empat orang gadis yang sedang duduk dan mengobrol melihat kedatangan Maxon, dari keempat gadis itu ada satu yang rupanya sangat cantik, rambutnya panjang dan ikal, mengenakan sebuah rok kulit hitam terang, singlet hitam, dan anting-anting yang panjang, eyeshadow-nya berwarna ungu.


"Eh? Sepertinya itu Maxon Wu?" kata seorang gadis berambut pendek yang agak gemuk.


Gadis berambut panjang lainnya, "Ya, itu Maxon Wu, bukankah dia masuk penjara? Kenapa dia bisa muncul di sini?"


"Ingin menyapanya?" tanya gadis pendek satunya.


Gadis gemuk pun segera menggelengkan kepalanya, "Tidak, orang yang pernah masuk penjara itu sangat menakutkan, kita harus jaga jarak dengannya." Lalu, mereka pun membuang muka mereka, berpura-pura tidak melihat.


Namun gadis berambut ikal itu malah bangkit berdiri, dan berjalan ke sana sambil tersenyum, "Maxon Wu!"


Maxon melihat gadis itu dan langsung mengenalinya. Namanya Winter Su, dulu dia adalah gadis yang paling cantik di kelasnya, tapi menurut gosip kehidupan pribadinya sangat kacau, sering sekali pergi dengan para pria. Namun sebenarnya, para laki-laki tetap saja menganggapnya sebagai kekasih dalam mimpi mereka, namun sedikit sekali orang yang berani menembaknya.


"Winter Su, lama tak bertemu." kata Maxon.

__ADS_1


Winter memandangi Maxon, mengenakan pakaian santai yang sederhana, gayanya masih sama seperti yang dulu. Tapi semangatnya agak sedikit berubah, sepertinya jauh lebih percaya diri.


"Kapan kau bebas?" tanyanya, sama sekali tidak menghindari topik pembicaraan bahwa Maxon pernah mendekam di penjara.


"Belum lama ini." Maxon juga tidak merasa tidak enak.


Winter tersenyum, lalu berkata, "Duduklah di sini."


Ia membawa Maxon duduk di sudut yang tidak ada orangnya, lalu memberinya sepuntung rokok, Maxon menerimanya, dalam hati ia merasa bingung. Waktu sekolah dulu, Winter tidak pernah menghiraukannya, tapi kenapa hari ini dia malah menariknya ke sini?


"Teman lama, nanti apa kau bisa membantuku?" tanyanya.


Maxon tersenyum dan berkata, "Boleh, apa yang perlu kulakukan?"


Winter, "Apa kau masih ingat Stanley Ding?"


Maxon berpikir sejenak, lalu berkata, "Ingat, anak konglomerat di kelas kita kan, keluarganya cukup kaya."


Winter, "Benar, dia. Belakangan ini si brengsek itu sedang mengejarku, aku benar-benar muak. Kalau nanti ia kemari, aku akan mengatakan bahwa kau adalah pacarku. Kau pernah mendekam di penjara, seharusnya ia pasti akan ketakutan."


Maxon tercengang, ternyata, dia ingin dirinya berpura-pura menjadi pacarnya! ia ingin memanfaatkan dirinya yang pernah mendekam di penjara ini untuk menakut-nakuti Stanley.


"Tidak perlu kan?" katanya, "Kalau tidak suka ya tolak saja."


Winter, "Bukankah kita akan segera lulus, dia itu sama seperti koyo sialan yang tidak bisa lepas. Kumohon, setelah itu aku akan menraktirmu minum-minum."


Maxon berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya, "Baiklah."


Winter tersenyum, "Baik sekali!"


Tiba-tiba, tiga orang pria berjalan kemari dan duduk di depan mereka. Dari ketiga orang ini, Maxon mengenali salah satunya, dia adalah teman sekelasnya, Xeno Wang.


Di kampus, temannya tidak sedikit, namun musuhnya hanya satu, yaitu si Xeno Wang ini. Dulu mereka berdua sama-sama mengejar Laurel Sun, dan pada akhirnya Maxon yang menang.


Sejak saat itu, Xeno ini sangat membencinya, sering sekali menyebarkan gosip tak benar tentangnya, hari ini bilang dia mencuri, besok bilang dia mengintip toilet wanita.


Setelah beberapa kali, Maxon tidak tahan lagi, dan mencarinya untuk berkelahi, ia memukuli Xeno habis-habisan, dan sejak saat itu, barulah Xeno tidak berani macam-macam lagi.


"Huh, bukankah ini si narapidana, Maxon Wu? Kapan kau bebas?" tanya Xeno dengan keras, sengaja agar orang-orang seisi ruang tamu itu mendengarnya.


Mendengar teriakan itu, orang-orang pun segera melihat ke arah mereka.


"Ya, itu Maxon, kenapa dia ada di sini? Bukankah dia dipenjara?"


"Mungkin sudah keluar."


"Tuan Muda Lu ini bagaimana sih, kenapa dia mengundang orang seperti ini untuk datang."


Orang-orang mulai berbisik, mereka semua menatap Maxon dengan tatapan yang aneh, sangat menghindarinya dan berjaga-jaga darinya.


Maxon mengerti, Xeno ini datang untuk mencari masalah, tapi dirinya sekarang bukanlah mahasiswa polos yang dulu lagi, ia berkata pelan, "Xeno Wang, aku tidak akrab denganmu, jadi tidak perlu menyapaku."


Xeno berkata dingin, "Menyapamu? Mimpi kau, aku datang untuk berbicara dengan si cantik Winter, kau menghalangiku!"


Baru saja Winter meminta bantuan dari Maxon, melihat Xeno ini datang untuk mencari masalah dengan Maxon, Winter pun segera memeluk lengan Maxon, dan berkata, "Xeno, Maxon sekarang adalah pacarku, jangan ganggu dia."


Wajah Xeno langsung berubah, mereka akan segera lulus, sekarang ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk mengejar Winter, dan Winter sepertinya juga cukup tertarik dengannya, siapa sangka Maxon akan mencegatnya di jalan seperti ini tiba-tiba, dan merusak hal baiknya!


Bersambung......


Jangan lupa like dan komen....


Sekian terima kasih

__ADS_1


__ADS_2