Maxon Wu Si Tabib Ajaib

Maxon Wu Si Tabib Ajaib
Bab 19 Menembus Pandang Wanita Cantik Lantai Atas


__ADS_3

"Apa aku bisa bertemu pasiennya?" tanyanya langsung


Agung Ren tersenyum dan berkata, "Tuan Wu, putriku tidak bersedia menemui dokter, aku juga tidak berdaya terhadapnya. Jadi, aku ingin Tuan Wu memakal identitas palsu dan bertemu dengan putriku dalam bentuk pembicaraan bisnis."


Alis Maxon Wu mengkerut dan merasa masalah ini sangat merepotkan.


Melihat dia sepertinya tidak sabar, Agung Ren buru-buru berkata, "Tidak perduli berhasil atau tidak, aku akan membayar 300 ribu yuan sebagai imbalan. Jika Tuan Wu bisa menyembuhkan putriku, Tentu saja aku akan berterima kasih dengan imbalan lain."


Uang 300 ribu yuan tidak sedikit, jadi Maxon Wu tidak perhitungan dengannya mengingat uang sebanyak itu,lalu berkata, "Kalau begitu, Tuan Ren atur dulu. Aku akan menunggu kabar dari anda."


"Terima kasih banyak." Agung Ren segera berkata lagi, "Aku sudah mengatur kamar untuk Tuan Wu dan aku akan minta orang untuk membawa anda ke sana untuk beristirahat."


Maxon Wu bangkit dan pergi, seorang pelayan membawanya ke sebuah kamar di lantai sepuluh. Hotel Tianlong ini adalah hotel mewah lima bintang. Maxon Wu tinggal di kamar suite, lingkungannya bagus, ada jendela besar dari lantai sampai ke langit- langit, sehingga bisa melihat pemandangan luar.


Baru saja duduk, Maxon Wu mendengar ada suara dari langit atas, dahinya mengernyit, apa yang dilakukan orang lantai atas?


Dia mengangkat kepalanya, matanya langsung menembus melalui plafon, kemudian dia melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih.


Seorang wanita cantik dengan bentuk tubuh luar biasa, mengenakan ****** ***** putih pucat dan bra hitam, dan sedang melakukan gerakan sulit di atas matras yoga.


Kulitnya sangat putih, dan kakinya yang panjang membutakan mata Maxon Wu. Sepasang bukit di depan dada, setidaknya adalah E-cup, menopang dengan dua bentuk yang indah.


Maxon Wu tidak menyentuh wanita selama dua tahun, dan matanya bersinar sekali melihat pemandangan ini. Dia langsung berbaring di atas sofa dan menatap lurus ke arah wanita lantai atas.


Penglihatan lebih lanjut, dia melihat pemandangan di bawah pakaian wanita itu yang membuatnya tidak bisa menahan diri dan menelan ludah.


"Besar sekali! Sangat putih!"


Dia merasa lubang hidungnya gatal, dan ketika menyentuhnya, telapak tangannya penuh darah, tenyata dia mimisan.


"Astaga!"


Dia segera mengambil tisu untuk menyeka darahnya, tapi matanya tidak terlepas dari wanita cantik di lantai atas meski untuk sesaat.


"Cukup beruntung akhir-akhir ini, yang kutemui semuanya adalah wanita cantik." gumamnya.


Tiba-tiba dia memiliki idea untuk berbuat jahil, matanya menyipit, dan ada tangan yang tak terlihat sedang menekan lembut dada kiri wanita itu.


"Um."


Wanita itu mengerang pelan, wajahnya bingung, Maxon Wu menekannya dengan sangat ringan, dan dia pikir itu hanya perasaannya saja.


Setelah menekannya, Maxon Wu merasa sedikit pusing. Dia menggunakan kemampuan khusus mata dimensinya, yang dia sebut "Penglihatan". Penglihatan semacam ini sangat lemah, dan butuh setengah hari untuk berehat setelah menggunakannya sekali. Dia pernah melakukan percobaan di penjara, saat ini penglihatannya bisa mengangkat benda seberat setengah kilo, kemudian bertahan sekitar lima detik.


Dia masih ingin lanjut menjahili wanita cantik itu, tapi ponselnya berdering dan Marisa Wei yang menelepon. Marisa Wei yang di ujung sana berkata dengan cemas, "Tuan Wu, kakekku kritis lagi!"


Maxon Wu terkejut dan bertanya, "Apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Dokter bilang tumornya telah pecah dan ada perdarahan intraknial yang luas, sekarang mereka sedang melakukan pertolongan."


Reaksi pertama Maxon Wu adalah ini tidak mungkin. Dia telah melihat kondisi tumor sebelumnya, dan tidak akan sampai pecah, terlebih lagi tidak akan terjadi perdarahan yang luas. Apa yang terjadi?


Menyelamatkan orang lebih penting, dia segera berkata, "Kirimkan aku alamat, aku langsung ke sana."


Dia berbicara sambil berjalan, setelah tiba di lobi hotel, ada seorang yang mendekat dan bertanya, "Tuan Wu, apakah anda mahu pergi?"


Maxon Wu mengangguk, "Kamu orangnya Tuan Ren?"


"Iya, Tuan Ren sudah berpesan, anda bisa mencariku bila ada masalah." ujar orang ini sambil tersenyum.


"Carikan mobil untuk mengantar aku ke rumah sakit." kata Maxon Wu.


Orang itu tidak banyak bertanya, dia segera meminta manajer hotel untuk menyiapkan mobil khusus hotel dan mengantar Maxon Wu menuju Rumah Sakit Anhe Kota Hai.


Setengah jam kemudian, Maxon Wu telah sampai di rumah sakit.


Di luar ruang gawat darurat, mata Marisa Wei merah. Ketika melihat Maxon Wu, dia seperti telah bertemu penyelamat dan segera berkata, "Tuan Wu, tolong selamatkan kakekku."


Baru selesai bicara, pintu ruang gawat darurat didorong terbuka, dan seorang dokter keluar. Dia bersimbah keringat dan tampak sangat lelah.


"Dokter, apakah kakekku baik-baik sapa?" tanya Marisa Wei dengan cepat.


Dokter menggeleng, "Kondisinya tidak optimis, perdarahan intraknial yang luas. Sekarang kondisinya hanya stabil sementara, tapi tidak berani menjamin mampu bertahan sampai malam ini. Aku sekarang akan memeriksa pasien, setelah itu aku akan memberi keterangan untukmu."


Marisa Wei kehilangan akal untuk beberapa saat. Ketika hendak mendorong pintu untuk melihat pasien, dia dihalang oleh perawat di dalam, "Sekarang belum boleh dijenguk, sila tunggu di luar."


Maxon Wu berdiri di pintu dan melihat ke dalam. Dia menemukan Zebe Feng terbaring di atas meja operasi, ada lubang di kepalanya, dan selang-selang memenuhi tubuhnya. Kondisinya terlihat tidak optimis.


Dia melihat tubuh Zebe Feng dengan mata demensinya untuk mencari penyebabnya. Begitu dilihat, dia menemukan ada zat beracun dalam darahnya! Mata demensinya bisa membedakan berbagai sifat obat, dan dia langsung menyimpulkan bahwa itu adalah racun. Racun inilah yang menyebabkan Zebe Feng mengalami perdarahan intraknial.


Hatinya tersentak, lalu menarik Marisa Wei ke samping dan berkata, "Aku akan memberimu resep, dan segera minta orang menggodok obatnya. Selain itu, aku harus masuk ke dalam, kalau tidak aku tidak bisa menyelamatkan kakekmu."


Marisa Wei yakin dengan kemampuan medis Maxon Wu, dia mengangguk penuh semangat, "Baik, aku akan berbicara dengan dokter!"


Tapi ketika dia baru saja hendak ke ruangan kantor dokter, seorang pria paruh baya datang dan bertanya, "Marisa, mau ke mana?"


Pria paruh baya ini mengenakan setelan pakaian senilai ratusan ribu dan jam tangan seharga jutaan yang terkenal di pergelangan tangannya, terlihat jelas memiliki sifat sedikit jahat dan membuat orang merasa tidak nyaman.


Marisa Wei segera berkata, "Paman, ini adalah tabib ajaib Wu, dialah yang menyelamatkan kakek di kereta cepat. Aku mau bicara dengan dokter, agar mengizinkan tabib Wu melihat kondisi kakek."


"Omong kosong!" pria paruh baya menjadi marah, "Marisa, umurmu tidak muda lagi, kenapa masih kekanak-kanakan? Kata-kata dokter keliling kamu juga percaya. Seandainya terjadi sesuatu di tubuh kakekmu kerana omong kosongmu, apa kamu mampu memikul tanggungjawab ini?"


Marisa Wei sangat cemas, "Paman, tabib Wu ini benar-benar hebat...."


"Cukup!" pria paruh baya menyelanya, "Pokoknya, cepat suruh dia pergi, di sini hanya butuh dokter profesional!"

__ADS_1


Maxon Wu melihat pamannya Marisa Wei dan menemukan emosi kebencian dari kedalaman matanya. Mereka tidak saling mengenal, tapi mengapa dia membenci dirinya?


Marisa Wei merasa canggung, di segera meminta maaf pada Maxon Wu, "Tuan Wu, benar-benar maaf."


"Tidak apa-apa." Maxon Wu berkata santai, "Kerana aku tidak disambut di sini, jadi mohon diri dulu."


Setelah itu, dia berbalik dan berjalan keluar. Marisa Wei buru-buru mengejarnya.


Maxon Wu berbelok ke tengah koridor, dan berkata dengan suara rendah, "Kamu pikirkan cara untuk membuat paman dan perawat pergi, lalu aku akan masuk dan melihat sebentar. Menurut pengamatanku, kakekmu kemungkinan telah keracunan."


Keracunan? Marisa Wei terkejut dan tenggelam dalam renungan, kemudian dia mengangguk, "Baik! Aku akan melakukannya! Mohon bantuannya, Tuan Wu!"


Setelah Marisa Wei pergi, Maxon Wu menunggu beberapa saat. Saat ini dia mengerti, masalah keracunan Zebe Feng tidak sesederhana, tapi hal ini tidak ada hubungannya dengan dia. Dia cukup menyelamatkan orang saja.


Setelah menunggu seminit, dia berjalan keluar dari koridor. Seperti yang diharapkan, tidak ada orang di koridor. Bayangannya melintas dan dia sudah mendorong pintu ruang gawat darurat.


Zebe Feng terbaring di atas meja operasi, tubuhnya dipenuhi dengan selang, dan sekarat.


Dia meliriknya dan sedikit berpikir, kemudian mengeluarkan belasan jarum emas, menusuk kepalanya secara berurutan, sekaligus menyalurkan energi murni ke dalam tubuhnya untuk mengintensifkan daya hidupnya.


Kira-kira setengah jam kemudian, dia mendengar langkah kaki dan menoleh untuk melihat, tenyata adalah Marisa Wei, yang membawa semangkuk obat godok di tangannya.


Maxon Wu segera membuka pintu dan menerima obat tersebut, lalu berkata, "Jaga di luar."


Marisa Wei mengangguk dan benar-


benar menjaga di luar pintu. Jika perawat kembali, dia akan menghentikannya untuk memberi waktu pada Maxon Wu.


Dia dalam ruang gawat darurat, setelah memastikan tidak ada masalah pada obat godok tersebut, dia langsung meminumkannya pada Zebe Feng. Zebe Feng yang sekarang tidak mampu menelan sama sekali, namun ini tidak menyulitkan dia. Dia menyalurkan obat itu dengan reiki dan prosesnya sangat lancar.


Dengan obat herbal dan efek ajaib dari jarum akupuntur, Zebe Feng perlahan-lahan sedar kembali, dia membuka matanya dan melihat Maxon Wu, lalu berkata, "Anak muda, kamu yang menyelamatkan aku lagi?"


Maxon Wu memandangnya, "Tuan, ada orang yang meracunimu, dan aku sudah menawarnya. Tapi kondisi sekarang masih belum optimis, kamu perlu menyesuaikan diri untuk sementara waktu."


Ada orang yang meracuninya?


Rasa terkejut bercampur dengan kemarahan terbesit di mata pria tua, dia menutup mata dan berpikir sesaat, lalu berkata, "Terima kasih, ini kedua kalinya kamu menyelamatkan aku. Tolong panggilkan Marisa ke sini, ada yang ingin kubicarakan padanya."


Maxon Wu mengangguk. Dia mendorong pintu dan menepuk pundak Marisa Wei agar dia masuk. Dia tidak ingin terlibat dan hanya menunggu di luar.


Tidak lama kemudian, pamannya Marisa Wei muncul lagi, Begitu melihat Maxon Wu, dia tiba-tiba sangat marah, "Kenapa kamu masih di sini? Cepat pergi! Kalau tidak, aku akan lapor polisi!"


"Tidak perlu!" Maxon Wu berkata dengan tenang, "Tuan Besar Feng sudah sadar."


Bersambung......


Jangan lupa like dan komen....

__ADS_1


Sekian terima kasih


__ADS_2