Maxon Wu Si Tabib Ajaib

Maxon Wu Si Tabib Ajaib
Bab 42 Aula Bela Diri Taiyi, Ahli Ilmu Bela Diri


__ADS_3

Tekanannya itu tidak menggunakan reikinya, tapi energinya pas sekali, kaki pria paruh baya itu langsung kesakitan dan ia pun kehilangan keseimbangannya, "brak" terjatuh ke belakang.


Para murid di sana pun tercengang, hanya dalam satu serangan saja langsung bisa menjatuhkan Pemilik Aula?


Pria paruh baya itu juga tercengang, ia bangkit berdiri lagi, dan berkata, "Hebat! Ayo bertarung lagi!"


Maxon menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, bagian tubuh bawahmu tidak stabil, ilmu bela diri dasarmu tidak kau latih dengan baik."


Pria paruh baya itu merasa sangat terhina, "Waktu aku muda aku telah berlatih horse stance selama tujuh tahun, kau bilang bagian tubuh bawahku tidak stabil? Kau terlalu meremehkanku!"


Maxon segera berkata, "Jangan marah, maksudku, cara latihanmu yang bermasalah."


Pria paruh baya itu berkata dingin, "Tutup mulutmu! Mana mungkin cara latihan Silat Taiyi ku bermasalah!"


Tidak bisa berkata apa-apa lagi, Maxon pun menaikkan pundaknya, "Baiklah kalau begitu, nanti aku akan menyerang bagian bawah tubuhmu, kau rasakan saja sendiri."


Pria paruh baya itu berteriak, lalu memberikan sebuah tendangannya, ia terlihat sangat pandai dalam menggunakan kakinya untuk menyerang. Tapi, baru saja kakinya ia layangkan setengah, Maxon langsung mendekatinya dengan cepat, lalu mendorongnya dengan pelan, pria paruh baya itu langsung terpental beberapa meter ke belakang, dan terjatuh lagi


Para murid tidak ada yang berani melihatnya, banyak sekali yang menundukkan kepala mereka. Meraka rasa, Pemilik Aula benar-benar bukan tandingan orang itu!


Pria paruh baya itu tidak menyerah dan menyerang untuk yang ketiga kalinya. Kali ini, Maxon banya menariknya dengan tangannya saja, lalu ia pun terjatuh untuk yang ketiga kalinya.


la masih ingin bertarung, Maxon mengerutkan alisnya, "Cukup!"


Pria paruh baya itu menghentikan langkahnya, lalu berkata dingin, "Silat Taiyi tidak boleh dihina!"


Maxon tertawa, "Kapan aku menghinamu? Aku hanya kebetulan lewat saja, lalu melihat Aula Bela Diri ini dan ingin melihat-lihat, siapa tahu begitu aku masuk, kau langsung ingin menantangku. Aku berkata bahwa cara latihanmu tidak benar, bagian bawah tubuhmu tidak stabil, aku mengatakan apa yang sebenarnya saja, kenapa jadi menghinamu?"


Mendengar perkataan Maxon, pria paruh baya itu tercengang, dan bertanya, "Kau bukan orang dari Tommy Hou?"


"Tommy Hou apanya, namaku Maxon Wu." kata Maxon, la pun mengerti ternyata mereka salah sangka.


Pria paruh baya itu tampak malu, lalu segera meminta maaf, "Maaf! Kukira Anda adalah Tommy Hou yang datang untuk mengusir kami dari aula ini, oleh karena itu perkataanku sedikit kasar."


Maxon mengangguk, "Ternyata begitu, aku yang tidak mengatakannya dengan jelas tadi."


Pria paruh baya itu sangat berhati besar, setalah semua kesalahpahaman terbongkar, ia langsung bersikap dengan sangat sopan terhadap Maxon, dan mengajaknya untuk minum teh di ruangan minum teh sebelah.


Setelah saling berkenalan, pria paruh baya itu bernama Yonathan Guo, Pemilik Aula dari Aula Bela Diri ini, seorang guru bela diri tua yang mengajar Silat Taiyi, sudah berlatih ilmu bela diri ini selama hampir tiga puluh tahun.


Beberapa hari yang lalu, ada seorang guru silat yang datang dari luar kota ke Ibukota Provinsi, namanya Tommy Hou, kemampuannya sangat kuat, ia menantang tujuh aula bela diri lain secara berturut-turut, dan hari ini, adalah hari di mana dia datang untuk menantang Aula Bela Diri Taiyi ini. Kebetulan Maxon datang, hal ini membuat mereka salah paham, oleh karena itu begitu Maxon datang, mereka langsung bersikap sangat sinis padanya.


Setelah mendengarnya, Maxon pun tak tahan untuk berkata, "Aku memang datang bukan pada waktunya."


Yonathan berkata, "Kalau bukan hari ini, aku pasti akan menyambut Adik Wu dengan baik. Tapi hari ini aku harus menyambut seorang musuh besar, oleh karena itu aku hanya dapat mengundangmu untuk minum teh saja di sini."


Maxon, "Adikku sedang ujian di seberang, aku juga tidak bisa berlama-lama di sini, sebentar lagi aku akan pergi."


Tiba tiba, terdengar suara dari luar, sebuah suara yang sangat sombong terdengar, "Siapa yang bernama Yonathan Guo, keluarlah untuk menerima tinjuanku!"


Yonathan segera bangkit berdiri, dan berjalan keluar, Maxon ikut di belakangnya, ia ingin melihat keributan itu.


Di lobby, berdirilah seorang pria muda, umurnya sekitar dua puluhan tahun, tingginya 180cm, wajahnya kotak, alisnya tebal, lengannya sangat panjang sampai ke lututnya, lengannya jauh lebih kekar dari orang biasa, kedua kakinya sangat besar, pundaknya juga sangat lebar.


Melihat wajah itu, Maxon tampak sedikit terkejut, orang seperti ini tertulis di Kitab Medis, mereka adalah para ahli bela diri sejak lahir, bisa-bisanya ia bertemu dengan orang seperti ini dengan mata kepalanya sendiri!


Pria muda itu adalah Tommy Hou yang datang untuk menggusur aula ini, wajahnya tampak sangat dingin dan sombong, seolah tidak menganggap orang-orang di hadapannya itu.

__ADS_1


Yonathan berteriak keras, "Yonathan Guo di sini!"


Tommy tertawa dingin, "Kau adalah Yonathan Guo? Asalkan kau dapat menangkap pukulanku, aku akan melepaskan Aula Bela Diri Taiyi kalian, tapi kalau tidak bisa, hehe! Keluarlah dari Ibukota Provinsi ini!"


Yonathan tertawa dingin, "Besar juga bualanmu!"


Tommy menyipitkan matanya, "Sebenarnya aku hanya ingin mengalahkanmu, tapi kau telah membuatku marah, aku memutuskan aku ingin menghancurkanmu!"


"Tak perlu membual, ayo!" Yonathan tak takut sedikit pun, ia berteriak keras, lalu melayangkan tendangannya lagi.


Begitu ia menyerang, Maxon pun menggeleng-gelengkan kepalanya, la tahu bahwa Yonathan pasti akan kalah. Ternyata benar, gerakan Tommy secepat kilat ia menendang Yonathan lalu Yonathan pun terpental ke belakang.


Yonathan kesakitan, kakinya terasa sangat menyengat.


Tommy sama sekali tidak melepaskannya, ia melayang di atas udara, memutar badannya 360 derajat, lalu kaki kanannya pun menginjak Yonathan yang ada di atas lantai dengan keras.


Kalau Yonathan terkena injakannya itu, kalau tidak mati ya cacat.


"Cukup!"


Sebuah suara dingin terdengar, Maxon tiba-tiba muncul di belakang Tommy, menarik sabuknya dengan keras, Tommy pun langsung tertarik ke belakang.


la terkejut, tangan kanannya ia kibaskan seperti cambuk, tanpa menoleh ke belakang, ia langsung memukul pelipis Maxon dengan tepat, serangan buta seperti ini adalah reaksi refleks dari latihan selama berkali-kali, sangat kuat dan cepat.


Lengan Maxon ia lemparkan juga, dan mengenai lengan Tommy, kedua lengan saling bertabrakan, seperti dua buah cambuk yang saling menyambuk satu sama lain.


"Plak!"


Sebuah keras terdengar, lengan Tommy terasa sangat sakit, wajahnya pun memucat.


Tommy marah besar, ia masih ingin melawan, namun ia merasa ada sebuah telapak tangan yang menekan kepalanya, dan mengalirkan reiki. Seketika, Tommy langsung berkeringat dingin, dan tak berani berkutik sedikit pun.


Maxon berkata pelan, "Kalau kau ingin menggusur aula ini, gusur saja, kenapa kau harus melukai orang lain? Sekarang ini adalah kehidupan


berhukum, apa kau tidak tahu?"


Sekujur tubuh Tommy membeku, dengan muram ia berkata, "Teman, siapa kau?"


Maxon menarik tangannya kembali, lalu mundur beberapa langkah dan berkata pelan, "Aku hanya orang lewat saja, aku hanya tidak suka melihatmu menyerang dengan tujuan ingin membunuh orang seperti ini. Bukankah kau sangat pandai bertarung? Ayo, aku akan berdiri diam di sini, menyambut seranganmu dengan satu tangan, serang saja aku."


Tommy yang marah pun melompat, tatapan matanya penuh dengan cahaya kemarahan, "Berdiri diam, dan menyambut seranganku dengan satu tangan? Kalau pun kau adalah orang hebat alam Qi, kau terlalu meremehkanku!"


Tadi begitu Maxon menyerangnya, ia sudah merasakannya, Maxon pasti adalah seorang orang hebat alam Qi. Tapi memangnya kenapa? Sebagai seorang yang ahli dalam bela diri, ia memiliki kepercayaan diri untuk mengalahkan orang hebat alam Qi yang hanya menggunakan satu tangannya!


Maxon, "Kau boleh mencoba!"


Tommy mundur belasan meter, lalu mengambil ancang-ancang, dan melompat dengan kuat, tubuhnya pun melaju dengan pesat seperti bom, dan mengarahkan kakinya untuk menendang Maxon.


Tendangan itu kekuatannya sangat maksimal, benar-benar seperti seekor badak yang menyerang kemari, membuat orang ketakutan.


Yonathan pun tak tahan untuk berteriak, "Hati-hati!"


Maxon tertawa dingin, di sela-sela nafasnya, reikinya melonjak ke atas, la mengulurkan tangannya, tubuh Tommy pun langsung terlempar setengah meter dan melewatinya begitu saja.


Serangan itu benar-benar sangat ajaib, seolah-olah Tommy adalah sebuah boneka balon yang sama sekali tidak memiliki berat, hanya menggesernya sedikit saja, tubuhnya langsung terpental setengah meter.


Tommy sangat terkejut melihat dirinya tidak dapat menendang Maxon, dan kehilangan targetnya. Di saat bersamaan, lengan Maxon ia tebaskan seperti cambuk, dan ia arahkan ke pinggang atas Tommy.

__ADS_1


"Brak!"


Tommy terkena pukulan keras, dan terjatuh keras ke lantai, organ dalamnya terluka, ia langsung muntah darah, seketika tidak dapat bergerak.


Maxon menatapnya dari atas, dan berkata dingin, "Hanya dengan bela dirimu yang sedikit seperti ini saja, masih berani menggusur aula lain, siapa yang memberimu kepercayaan diri itu?"


Sejak berlatih bela diri, Tommy tidak pernah kalah, hari ini ja dikalahkan oleh Maxon, ia sangat terkejut dan marah, ia pun berteriak "Kau adalah orang hebat alam Qi, mengalahkanku juga tidak ada hebatnya! Cepat atau lambat aku, Tommy Hou, pasti akan kalah denganmu!"


"Aku akan menunggumu setiap


saat." kata Maxon.


Yonathan bangkit berdiri dan maju ke depan, lalu mengepalkan kedua tangannya menjadi satu, "Guru Wu, terima kasih!"


Maxon melambai-lambaikan tangannya, "Tidak perlu sungkan. Hari ini aku terlihat seperti sedang memberinya pelajaran, tetapi sebenarnya aku sedang menyelamatkan nyawanya. Dia dapat bersikap sombong seperti saat ini, karena belum pernah bertemu dengan orang hebat alam Qi, kalau tidak sejak awal dia pasti sudah dipukuli orang lain sampai mati."


Tommy bangkit berdiri perlahan-lahan, lalu berkata pada Maxon sambil menggertakkan giginya, "Apa kau berani memberitahuku, siapa namamu?"


Maxon berkata pelan, "Namaku Maxon Wu, tinggal di Kabupaten Mingyang kau dapat mencariku untuk balas dendam kapan saja."


Tommy berkata, "Aku pasti akan membalasmu!" Lalu, sambil memegangi perutnya, Tommy pun pergi dengan terpincang-pincang.


Maxon berkata di belakang, "Kau sudah terluka, jangan makan selama tiga hari kau akan pulih dengan sendirinya."


Tommy tidak membalasnya, berjalan keluar dari aula perlahan-lahan.


Yonathan berkata, "Guru Wu, anjing liar itu tidak tahu diri, untuk apa kau memberitahunya?"


Maxon berkata pelan, "Dia adalah ahli bela diri yang sangat langka, sayang kalau dia hancur."


Yonathan berkata dengan terkejut, "Ahli bela diri? Kalau begitu Guru Wu melepaskannya begitu saja, kalau suatu han nanti dia bertambah hebat, dan mencari Anda untuk balas dendam bukankah......"


Maxon berkata pelan, "Kalau dia takut bertambah kuat, dia tidak akan melawan."


Yonathan segera berkata, "Benar benar, Guru Wu adalah orang hebat alam Qi, orang hebat seperti Anda ini sangat jarang sekali."


Ia berkata pada para murid bela diri di sana, "Kenapa masih diam saja? Cepat beri hormat pada Guru Wu!"


Para murid pun segera bangkit berdiri dan member Maxon hormat, ada beberapa yang langsung ingin menanyakan masalah ilmu bela diri Tapi, Maxon tidak punya waktu untuk tetap tinggal di sana, ia berkata, "Teman-teman, adikku sedang ujian, aku harus pergi sekarang Aku akan tinggal di Ibukota Provinsi selama beberapa hari, lain hari aku akan datang untuk menjumpai kalian lagi"


Yonathan berkata, "Masalah Guru Wu adalah masalah kami juga, kami akan menunggu bersama."


Maxon tidak bisa berkata apa-apa, dalam hati berkata, untuk apa kalian pergi? la segera berkata, "Tidak perlu, lain kali aku pasti akan datang lagi."


Setelah itu barulah Yonathan menyerah, tapi ia tetap ingin mengantarkan Maxon sampai ke depan pintu sekolah, setelah itu barulah ia pergi.


Sesampainya di sekolah, Maxon menunggu kurang dari setengah jam, lalu Nelly pun keluar.


la bertanya dengan bingung, "Bukankah masih ada setengah jam? Kenapa kau keluar lebih awal?"


Nelly berkata sambil tersenyum, "Aku sudah menyelesaikan semua pertanyaannya, karena merasa terlalu bosan, aku mengumpulkannya terlebih dahulu."


Bersambung......


Jangan lupa like dan komen....


Sekian terima kasih

__ADS_1


__ADS_2