
Musisi dunia itu masuk ke dalam club miliknya, salah satu club ternama di New York. Seperti biasa, jika ada waktu luang dia akan datang sendiri untuk mengontrol keadaan disana. Jika mungkin, waktunya habis oleh job dimana-mana maka, dia hanya akan menerima laporan email saja.
Saat itu, semua karyawan menunduk hormat padanya, wanita-wanita penggoda berlomba-lomba memperlihatkan kecantikan dan kemolekan tubuh mereka. Namun, mata Greg hanya tertuju pada seorang gadis yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Berada di Pantry menuangkan vodca untuk pelanggannya.
Gadis dengan rambut panjang berwarna blonde yang di biarkan terurai, gadis itu mengenakan seragam waiters di clubnya.
Pelayan baru. Pikir Greg Alexander.
Gadis itu hanya menunduk sekilas lalu, kembali melanjutkan pekerjaannya. Seperti biasa saja dengan kehadiran Greg yang notabennya adalah atasannya.
Greg mengerutkan kening, menunggu gadis itu menoleh dan kembali menunduk hormat padanya seperti pelayan yang lain. Namun, penilaiannya salah. Gadis itu malah melihatnya kembali dengan berani. Tidak ada ketakutan sedikitpun di matanya.
Apa dia tidak tau siapa aku? Pikir Greg.
"Aku mau gadis itu" Gumamnya pelan pada seorang waiters yang berada di dekatnya, tentu saja sambil menatap tajam pada gadis bermata kecoklatan disana.
Waiters itu mengikuti arah pandang tuannya. Matanya terbelalak setelah tau siapa yang diinginkan tuannya. Pasalnya, dia tidak pernah bermain dengan seorang gadis ataupun wanita apalagi seorang pelayan club.
"Tapi, dia pelayan tuan" Jelas pelayan itu.
"Aku tidak peduli, suruh dia menemuiku di lantai atas. Aku menunggunya SEKARANG" Ucap Greg menekankan sebuah kata di akhir kalimatnya lalu pergi menuju ruangan yang di sediakan khusus untuknya di club itu.
Beruntung sekali gadis itu, dapat menghabiskan malamnya dengan tuan Greg padahal, dia adalah pelayan baru disini. Jika saja bisa kugantikan, aku pasti sudah sangat bersemangat, berdandan cantik untuk tuan besarku itu, dan menjadi nyonya Alexander. Pikir pelayan itu dengan langkah menuju ke pantry.
...***...
Aku menegang saat mendengar jika aku di tunggu tuan Greg.
Tidak.
Apa yang dia maksud adalah Greg Alexander? Lelaki angkuh pemilik club ini?
Hah, tentu saja, Greg mana lagi jika bukan dia? Hanya dia yang mampu mempengaruhi dunia dengan reputasi dan segudang prestasi yang dimilikinya. Pikiranku terus berceloteh sendiri.
Aku segera bersiap, mengganti seragamku. Karena jam kerjaku memang sudah akan habis.
Aku menemuinya dengan sederhana, mengenakan kaos berwarna putih tulang dengan rambut yang sudah aku kepang dua, sedikit berantakan.
__ADS_1
Tapi, aku tau aku adalah gadis yang manis.
"Siapa namamu?"
Itu adalah suara Greg Alexander. Aku benar-benar merasakan aura dingin darinya, sangat dingin hingga tubuhku kaku rasanya.
"Aleycia Delwyn" Jawabku singkat.
"Temani aku malam ini, aku bayar berapapun yang kau inginkan"
Aku membelalakkan mata mendengar perkataannya. Tidak sopan sekali.
"Maaf tuan, saya..."
"Aku terbiasa mendapatkan apa yang aku inginkan" Selanya di tengah-tengah kalimatku. Sebenarnya lelaki ini memiliki etika yang baik atau tidak?
Jadi begini rupa seorang musisi dunia? Apa dia merasa bahwa semua wanita akan takluk padanya?
"Maka, saya yang pertama kali menolak anda" Kali ini aku menatapnya serius. Memangnya apa yang harus aku takutkan dari lelaki kurang ajar sepertinya?
Aku tidak peduli sekalipun dia menatapku dingin, tajam seperti mata elang.
"Sepertinya kau butuh sedikit pelajaran gadis manis" Dia berdiri dari duduknya, menarikku paksa ke dalam dekapannya.
Tentu saja aku segera melawan, sungguh selama ini tidak ada lelaki manapun yang berani menyentuhku. Aku tetap mencoba mendorong dada bidangnya yang aku tau sebenarnya itu akan sia-sia. Namun, apa salahnya mencoba?
"Jangan jadi gadis sok suci dihadapanku" Terangnya dingin.
"Lepaskan aku bajing*n" Umpatanku keluar meluncur begitu saja.
Jujur saja, aku mulai takut. Dan didalam ketakutanku, aku mencoba mencari cara agar dapat terlepas darinya. Lelaki itu mendekapku dengan satu tangannya, sedang tangan satunya meraih daguku, mendongakkan wajahku secara paksa, dan dengan kasarnya dia meraup bibirku.
Aku terus mengatupkan bibir, mencoba untuk tidak memberi ruang apapun disana. Namun, lama-lama aku tak bisa bernafas dengan baik, bibir bawahku di gigit olehnya. Aku merasakan aroma darah di mulutku.
Dia merenggut ciuman pertamaku.
Aku mulai meneteskan air mata. Sedang di tengah kekasarannya, aku melakukan hal yang sama, menggigit bibirnya dengan keras hingga berdarah. Saat itu juga dia melepas pagutan sekaligus dekapannya dariku. Menyentuh bibirnya yang berdarah sambil menatapku semakin tajam.
__ADS_1
Aku segera lari, bodohnya aku lari semakin ke dalam ruangan ini. Aku menatapnya takut, dia terus mendekat ke arahku.
"J-Jangan mendekat" Teriakku.
Jantungku berdetak sangat cepat, takut, panik, semua menjadi satu.
"Memangnya kenapa sayang?"
Dia semakin mendekatkan diri secara perlahan, cara mengintimidasi yang sangat baik. Aku mencari apapun yang dapat kugunakan untuk menjadi senjataku melawannya.
Tidak ada apapun.
Hanya sebuah buku tebal yang tergeletak di nakas. Baiklah, mari lakukan.
Bug
Tepat sekali, di kepalanya. Dia menggeram marah, menemukan kepalanya berdarah karena buku yang kulemparkan.
Aku tidak peduli, ini kesempatanku untuk lari sekencang mungkin. Pergi dari tempat terkutuk ini.
Hosh
Hosh
Nafasku tersengal-sengal. Aku sudah berada di sebuah jalanan sepi, langkahku mulai melemah. Hingga aku menyadari, bahwa aku sedang berada jauh dari tempatku. Aku menatap sekelilingku, tidak ada orang yang kutemui.
"Aku lelah" Aku terduduk lemas di pinggir jalan sambil memeluk lutuku, rasanya aku sudah selamat dari orang gila itu.
Tiba-tiba aku teringat tentang semua yang terjadi baru saja. Aku menangis dalam diam, hatiku bergetar takut jika mengingat hal itu.
Puk
Aku tersentak saat merasakan bahuku ditepuk seseorang.
Siapa? Pikirku.
Aku melirik ke bawah, dari ujung mataku terlihat sepatu pantofel pria berwarna hitam, aku menelan ludahku kasar sebelum mengikuti alur tubuhnya hingga ke atas.
__ADS_1
Semuanya hitam bahkan wajahnya ditutupi oleh masker dan kacamata hitam.
Lalu aku tidak mengingat apapun.