Melody From Pshycopath

Melody From Pshycopath
With Devan


__ADS_3

Alex, lelaki itu sedang memijat pelan pelipisnya. Baru saja dia keluar bersama Efira dari ruang meeting. Tidak ada yang salah dengan hasil meetingnya, tidak ada yang istimewa juga dari sikap keduanya, tetap bersikap profesional.


Sayangnya, Alex sangat di bingungkan dengan tingkah sahabatnya itu. Kenapa harus marah selama ini?


Itu yang terjadi di pikirannya.


Bahkan setelah keluar, mereka tidak bertegur sapa. Efira langsung meluncur begitu saja tanpa melihat wajah Alex, tapi tetap tersenyum pada sekretaris Alex.


Devan memang mempesona bukan?


Tentu saja Alex dibuat gemas sendiri dengan sahabatnya itu.


Tuk


Tuk


Tuk


Kali ini ketukan jari Alex bertemu dengan meja kerjanya, seiring dengan petikan jarum jam. Terlihat sangat gelisah, bukan seperti Alex yang biasanya terlihat tenang.


"Ah, akhirnya" Lelaki itu langsung berlalu setelah melihat detik jam tangannya sudah menunjukkan jam makan siang.


Menoleh kesana-kemari, mencari keberadaan seseorang?

__ADS_1


Atau?


"Devan" Panggil Efira, gadis itu sudah ada di hadapan sekretarisnya.


Hari apa yang lebih sial dari hari itu untuk Alex?


"Ayo makan bersama?"


Devan melirik sebentar kearah bosnya. Sangat tau, ada rasa sungkan disana. Tapi, akhirnya juga lelaki itu mengiyakan ajakan Efira.


Hahahah, Alex menertawai dirinya sendiri. Lelaki itu bisa-bisanya sangat gelisah karena seorang Efira sejak tadi. Tapi apa? Gadis itu terlihat sangat baik-baik saja, bahkan dia sendiri yang mendatangi Devan, mengajak makan siang bersama.


"Kau tau? Aku sangat sial bertemu denganmu hari ini" Ucap Alex, rasanya kobaran api di dalam dirinya sudah tidak bisa di redupkan lagi. Nyala kemarahan terlihat jelas dimatanya saat menatap Efira. Dia pergi meninggalkan rekan beserta sekretarisnya disana, di depan ruangannya.


Mira melihat kejadian itu dari jauh hanya menatap miris kepada kedua bosnya. Semalam saja sebelum berangkat ke acara peresmian mereka terlihat sangat manis.


Alex masuk kedalam kamar mandi ruangannya, lebih tepatnya menyapa wajahnya pada cermin wastafel. Lelaki itu membasuh wajah, setidaknya meredakan api yang ada didalam dirinya.


"Sial, seharusnya aku mengatakannya lebih dulu. Kenapa jadi seperti ini sekarang?" Ucap Alex pada dirinya sendiri.


Sekelebat bayangan detik-detik Efira bersama Devan terus berputar di otaknya.


Geram, satu kata itu yang menguasai dirinya saat ini. Lelaki itu mengeraskan rahangnya, lalu menonjok cermin dihadapannya hingga tidak berbentuk.

__ADS_1


"Aku tidak merasa sakit, hatiku jauh lebih sakit" Alex bermonolog, memperhatikan dirinya sendiri di cermin rusak itu.


...***...


"Nona" Panggil Devan, mereka (Devan dan Efira) sudah berada di salah satu cafe terdekat dari perusahaan.


"Hm?"


"Kau tau? Sebuah masalah seharusnya di selesaikan dengan kepala dingin. Jika kau terus menghindar dari masalah, bukannya selesai masalahmu akan semakin rumit" Ucap Devan, lelaki itu tau bahwa bos wanitanya sedang tidak dalam mood yang baik.


"Maksudmu?"


"Aku tau, kau tidak nyaman dengan kehadiran model itu disekitar Alex. Tapi, kau tidak bisa dibutakan cemburu seperti ini. Kau harus ingat, Alex dan dirimu hanya 'sahabat' kalian tidak memiliki hubungan khusus dimana kalian bisa saling cemburu. Sebagai seorang sahabat kau perlu mendukungnya dan memberikan dia masukan jika dia salah. Berbeda cerita jika kau adalah kekasihnya, kau punya hak untuk bersikap sedingin ini jika dia bersama dengan wanita lain"


Kata-kata itu sangat sampai pada relung Efira, terbukti dari tingkah gadis itu yang sudah mulai memerah. Menahan tangis?


"Hahaha, kau benar. Aku hanya sahabatnya. Ya, aku tau posisiku. Terimakasih sudah mengingatkanku" Efira bahkan sudah mengeluarkan buliran bening dari matanya.


"Menangislah" Ucap Devan, lelaki itu memberikan sapu tangannya, memperhatikan Efira menangis semakin sesenggukan di hadapannya.


"Aku tau kau mencintainya, begitu pula sebaliknya. Tapi, kalian hanya tidak saling menyadari. Efira, minta maaflah padanya, kau salah jika kau bersikap seperti ini. Diapun sama sakitnya jika melihatmu bersamaku"


"Lalu kenapa kau mau kuajak kemari?"

__ADS_1


"Karena aku tau, kau butuh seorang teman" Lagi-lagi Devan sangat mengerti keadaannya. Gadis itu lalu menghapus air matanya dan tersenyum.


"Aku akan menemuinya nanti, ayo makan" Ucap Efira, bersiap menyantap hidangan di hadapannya.


__ADS_2