Melody From Pshycopath

Melody From Pshycopath
Cemburu?


__ADS_3

"Alex" Panggil seseorang, wanita itu melambaikan tangannya menyapa Alex yang duduk bersama Efira.


Siapapun tau, wanita itu adalah salah satu model terkenal di Amerika, namanya Lyona, kebetulan dia bekerja sama dengan agensi majalah milik Alex.


Dan hari ini, wanita itu di undang pada acara peresmian. Ralat! Semua model dari agensi Alex di undang di acara tersebut.


Efira sudah memasang wajah masamnya ketika dengan santai Alex malah membalas lambaian tangan Lyona, bersama dengan aksi menghampiri wanita tersebut tanpa Efira, meninggalkan sahabatnya itu dalam kesendirian dan kekesalan?


Cipika-cikipiki? - Efira membelalakkan matanya melihat pemandangan amazing dihadapannya. Apa perlu seperti itu? Memangnya mereka sedekat itu?


"Kenapa panas sekali ruangan ini?" Gumam Efira, mengipas-ngipaskan kedua tangannya di depan wajah.


Gadis itu terus memperhatikan gerak gerik Alex, mulai dari Alex yang kelewat perhatian, mengantarkan Lyona sampai di tempat sajian makanan, belum lagi mengambilkan minuman, lalu?


"Efira" Sapa Devan, lelaki kepercayaan Alex dalam pembangunan proyek perusahaan Harrykiel company.


Tentu saja Devan sangat tampan, terkesan lebih tampan daripada Alex. Devan adalah orang asal New York, mereka bertemu beberapa tahun silam dalam sebuah project perusahaan besar di New York, hidungnya mancung, alisnya menawan, rambutnya mullet sana sini dengan potongan undercut melelehkan jiwa raga, rahangnya pun sangat tegas, tubuhnya? Dia tinggi dan atletis. Sudah! Jangan di teruskan, nanti jatuh hati.


"Iya?" Jawab Efira.


"Boleh aku duduk disini?"


Sopan sekali, Efira mempersilahkan Devan untuk segera duduk, menggeser bokongnya sedikit menjauh.


"Jadi, ada apa?" Tanya gadis itu, setelah dilihatnya Devan sudah mendaratkan bokongnya ke sofa dengan selamat.


"Hanya ingin menemanimu, bukankah aku baik?" Devan terkekeh sendiri dengan kalimat yang ia ucapkan.


Tentu saja kekehan itu menular kepada Efira. Bagaimana tidak? Devan sangat manis. Mereka pun akhirnya larut dalam percakapan seru disana, terlihat sangat akrab, bahkan candaan sesekali melingkupi mereka. Tanpa sadar, sepasang mata Alex sudah memperhatikan mereka sejak tadi.


Alex POV

__ADS_1


Aku sedang bersama Lyona sekarang, menemaninya berbincang. Tamu jauhku ini sangat asik di ajak bicara.


Aku tidak meninggalkan Efira sendirian dengan benar, sesekali aku meliriknya meskipun dia tidak tau. Aku bahkan tau saat dia menggerutu kesal disana, hal itu membuat bibirku terangkat. Lucu sekali.


Sampai disaat Devan dengan santainya menghampiri Efira, bercanda tawa disana, bahkan lelaki itu duduk di samping Efira.


Cih, apa-apaan itu? Lihat! Efira tertawa lepas. Selucu itu kah wajah Devan? Wajah Devan seperti badut?


Hahaha, sial! Sayangnya tidak. Dia sangat tampan jika dibandingkan dengan orang lokal. Lelaki New York itu bisa merebut hati gadis manapun dengan wajahnya, bahkan hanya dari melihat bayangannya, aku yakin itu.


Apa yang terbakar didalam diriku? Rasanya panas! - Batinku.


Niat hati ingin membuat Efira kesal, malah aku sendiri yang kesal. Sekarang aku tau, apa itu 'karma is real'.


Setengah jam bukanlah waktu yang sebentar, setelah urusanku dengan Lyona selesai, aku langsung menghampiri meja sahabatku itu.


"Ekhem, apa aku mengganggu?" Tanyaku.


Apa yang lebih menyakitkan dari ini?


"Acara hampir selesai, ayo pulang" Ucapku, sedangkan Efira hanya diam, tidak menyahut sama sekali.


"Efira? Do you hear me?" Aku masih terlihat sabar menghadapi sahabatku ini, manikku menatapnya lembut.


"Aku tuli, pulang saja! Aku akan pulang dengan Devan, iya kan Devan?"


Bagus Efira, bahkan Devan hanya nyengir kuda disana, aku tau, Devan sudah berniat untuk pergi. Tapi, ucapan gadis itu menghentikan niatnya.


Sial, aku semakin kesal.


"Tidak! Memangnya tadi kau berangkat dengan siapa? Dia atau aku?" Tanyaku.

__ADS_1


"Aku tadi terbang"


Lihat! Gadis ini sungguh!


"Baiklah, kau tidak mau diajak dengan cara halus ya"


Aku langsung menariknya berdiri, lalu kugendong sahabatku ini ala bridal style. Tidak peduli dengan orang-orang yang memperhatikan kami. Aku hanya terus membawa gadis ini sampai rumahnya dengan selamat.


Sesampainya di mobil, aku langsung menghempaskan tubuhnya sedikit kasar di kursi.


"Aw" Tentu saja dia mengaduh. Lalu apa peduliku?


"Seharusnya aku yang marah, bukan kau!" Ucapku ketika aku sudah mendaratkan bokongku di kursi kemudi.


"Hei apa maksudmu?"


"Kenapa dekat-dekat dengan Devan?"


"Kenapa dekat-dekat dengan Lyona?"


Bagus, aku menarik sedikit ujung bibirku, hanya sedikit.


"Jadi kau cemburu? Lalu membalas perlakuanku begitu?" Tentu saja, aku sedang menggoda gadis kecil ini. Wajahnya bahkan sudah se-merah tomat karena ucapanku.


"Aku? Cemburu? Cih" Balasnya ketus.


"Jika kau dekat-dekat lagi dengan Devan, akan kucium kau di depannya"


"Memangnya kau siapa?"


"Aku? Alex" Jawabku tenang, melajukan mobilku dengan santai. Sebenarnya aku tau kemana arah pembicaraan ini, tapi aku tidak ingin memperpanjang apapun, sejatinya aku dan dia memang hanya sejemang sahabat rasa saudara.

__ADS_1


__ADS_2