
Tepat pukul 19.00, kedua orang tua Alex datang, anggap saja itu adalah acara perayaan kedatangan Alex dan juga Efira.
"Ayo silahkan dimakan. Efira yang memasak ini semua" Ucap ibu Efira, wanita paruh baya itu sedang menuangkan nasi untuk suaminya.
"Hebat ya, sudah siap jadi istri" Jawab ibu Alex. Tentu saja Efira dibuat bersemu dengan ucapan tersebut.
Entah apa yang membuat pipinya memanas dan menjadi merah begitu. Padahal hanya sebuah pujian kecil dari ibu Alex.
"Menjadi istri? Pacar saja dia tidak punya" Ucap Alex menimpali perkataan ibunya.
Oke, mood Efira tiba-tiba merosot jatuh. Pada nyatanya, Alex memang sangat menyebalkan.
Ayah dan ibu Efira hanya tersenyum melihat Alex menggoda putri mereka.
"Kau sendiri memangnya punya pacar?" Ucap ayah Alex. Telak sudah, Alex juga masih jomblo kan?
Efira yang awalnya menekuk wajah, kini sudah tertawa bahagia melihat wajah linglung sahabatnya.
"Apa kau" Alex menunjukkan garpunya didepan wajah Efira.
"Apa?" Jawab Efira melotot, garpunya pun menunjuk diwajah Alex.
Orang tua mereka hanya mampu geleng-geleng kepala. Kelakuan anak mereka memang tidak pernah berubah sejak dulu.
"Kalian sudah cukup matang untuk menikah, usia kalian sudah tidak lagi muda, sudah dewasa. Segeralah menikah, kami ingin menggendong cucu" Ucap ayah Alex, lelaki paruh baya itu mengatakan kalimat yang sedikit ambigu mungkin?
__ADS_1
"Kami pasti akan menikah. Tunggu sebentar lagi ayah" Jawab Alex.
"Aku menjadi ambigu" Ucap Efira santai, mengambil piring Alex dan mengambilkan lelaki itu nasi beserta lauk pauknya. Alex hanya diam saja, sudah biasa untuk mereka hidup berdua begitu, saling perhatian satu sama lain.
"Ehehehe, sudahlah ayo makan. Tidak baik berbicara di depan makanan seperti ini" Jawab Alex, tidak memberi penjelasan apapun.
"Enak" Ucap ibu Efira. Wanita paruh baya itu baru pertama kali merasakan masakan putrinya. Sebab saat Efira sekolah, yang memasak adalah dirinya sendiri. Tidak mengizinkan Efira menginjak dapur, fokus saja dengan belajar. Begitu pikirnya, lalu sekarang?
Efira bahkan lebih pandai memasak daripada dirinya sendiri.
"Tunggu, aku punya dessert" Ucap Efira, kembali ke dapur. Melihat hasil puddingnya yang sudah jadi. Gadis itu menumpahkannya pada sebuah piring lebar. Memotongnya hingga beberapa bagian, lalu di tata pada piring saji.
"Taraaa, ini namanya pudding strawberry milk. Efira membuatnya dengan lapisan pudding susu dan juga pudding jus strawberry" Ucap Efira sambil meletakkan piring itu di meja.
Mereka langsung menyerbu makanan tersebut, merasakan sensasi manis dari susu dan segar dari strawberrynya, kecuali Alex. Lelaki itu hanya mengatakan 'sebentar lagi' tanpa memakannya sampai pudding itu tersisa separuh porsi.
Sedangkan Alex dan Efira?
Alex hanya melihat Efira yang sedang membereskan meja makan. Memandang Efira dengan segala pikirannya yang bingung.
"Apa lihat-lihat?" Ketus gadis itu, merasa risih saat mata Alex menjadikannya objek.
"Tidak apa-apa. Apa sudah selesai?" Tanya Alex.
"Sudah"
__ADS_1
"Ayo ke taman belakang rumah, aku ingin memakan pudding ini bersamamu" Ajak Alex, mengambil piring pudding dimeja, lalu menarik tangan Efira.
"Cih" Efira berdecih awalnya, namun akhirnya ikut terseret juga.
Sebentar saja, mereka sudah sampai di belakang rumah.
"Ayo, cepat makan puddingnya. Habiskan!" Ucap Efira, duduk disamping sahabatnya itu.
Hm
Alex bergumam ringan, memasukkan pudding tersebut kedalam mulutnya.
"Bagaimana rasanya" Tanya Efira.
Alex mengeluarkan senyum mautnya, lalu memasukkan satu bagian kecil pudding kemulutnya.
Cup
Dibawah sinar bulan dan taburan bintang, pudding itu pindah kedalam mulut Efira. Bahkan Alex ******* sedikit bibir Efira, menunggu gadis itu menelan puddingnya dengan baik.
Efira?
Kaget!
Bahkan puddingnya tertelan utuh-utuh. Beruntungnya Alex sudah memperkirakan hal itu, sehingga Efira tidak tersedak.
__ADS_1
"A-Alex?" Efira sangat gugup saat mengatakan itu.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Alex, tersenyum. Lelaki itu juga gugup sebenarnya.