
Alex POV
"Bagaimana rasanya?"
Hah, hei Alex!!!
Masih bisa kau tersenyum setelah mencuri ciuman pertama seorang gadis? Yang fatalnya adalah sahabatmu sendiri?
Demi apapun aku tidak bermaksud melakukan itu, tapi naluriku yang menuntunku.
Bibir cherrynya itu membuatku selalu mabuk, sudah sejak?
Ah aku tidak tau sudah sejak kapan. Intinya aku ingin merasakannya sendiri.
Selama ini aku bisa menahannya, kenapa sekarang tidak?
Dasar Alex bodoh!
Lihat! Wajah Efira sangat menggemaskan saat sedang melongo begitu.
Bagaimana aku menjelaskannya?
"Maafkan aku" Aku berucap demikian saat aku tak kunjung mendapatkan suara dari Efira.
"A-aku masuk d-dulu" Efira langsung beranjak.
Apa dia sedang menghindariku?
"Apa kau menghindariku?" Ucapku yang langsung menadapat sahutan darinya.
"Anniyo"
Efira membalikkan badan dan langsung mengatakannya dengan cepat. Aku tersenyum lagi kali ini, dia sedang salah tingkah?
__ADS_1
"Kalau begitu duduklah kembali"
"A-aku kedinginan" Titahnya beralasan.
"Pakai jaketku bodoh, memangnya siapa yang akan membiarkanmu kedinginan?"
Aku melepas jaketku, melemparkannya kepada Efira. Gadis itu dengan sigap menangkapnya, mari kita lihat alasan apalagi yang akan dia buat.
"T-tapi aku-"
"Jika kau banyak bicara lagi, aku akan menciummu beratus-ratus kali" Aku memotong pembicaraannya dengan sebuah ancaman?
Apa-apaan mulutku ini? Itu spontan, hanya untuk menggodanya.
"Baiklah, kau memang menyebalkan" Ucap Efira lalu duduk kembali disampingku.
"Apa kau marah?" Tanyaku, aku tidak memandang wajahnya, bulan dan bintang sedang menjadi titik fokus mataku.
Kenapa berhenti?
"Lalu?" Tanyaku.
"Kau ini bodoh atau gimana, aku tidak pernah marah denganmu. Kau itu curang, kenapa kau selalu bisa membuatku tidak marah sebesar apapun kesalahanmu padaku?"
Hening. Aku masih mencerna kata-katanya dengan baik.
"Aku merasa tidak punya harga diri" Lanjutnya.
Aku? Tentu saja aku terkejut dengan pernyataannya. Apa itu? Tidak seperti itu konsepnya, disini kan aku yang salah, kenapa jadi dia yang begitu?
"Maafkan aku, setidaknya berjanjilah jika kau hanya akan melakukannya denganku"
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Ah, tidak apa-apa. Kau benar, ini sangat dingin. Ayo masuk saja" Ucapku beranjak, tidak lupa membawa tangannya bersamaku dan juga piring pudding itu?
Puddingnya masih tersisa banyak, apa kalian mau? Aku sudah kenyang.
Sudah merasakannya langsung dari gua manis milik sahabatku, Efira.
ehehehe, aku bercanda. Tapi, itu memang sangat lezat saat kau menikmatinya dengan cara yang berbeda.
Alex POV End
...***...
Efira masih termangu di kamarnya, hanya membolak balikkan badan dikasur. Tidak tenang?
Bisa dikatakan seperti itu. Gadis itu terus memikirkan ciuman pertamanya ditambah dengan penuturan Alex yang menurutnya sangat melantur tadi.
'setidaknya berjanjilah jika kau hanya akan melakukannya denganku?'
Lelucon macam apa itu-pikir Efira. Gadis itu berfikir keras. Pasalnya Alex memang suka bertingkah aneh akhir-akhir ini.
Perhatian-perhatian sahabatnya itu semakin hari semakin tidak terkendali. Anggap saja mungkin mereka memang terjebak dalam Friendzone.
Sedangkan
Dikamar Alex?
Lelaki itu juga sama, tidak bisa memejamkan matanya.
Melamun, tanpa siapapun tau apa yang dipikirkan.
"Ya Tuhan, aku ingin sekali mengatakannya. Kenapa sulit sekali?" Alex mengacak rambutnya frustasi, lelaki itu mamandang langit-langit kamarnya, sesekali menghela nafasnya, lalu memejamkan mata, berharap kantuknya datang.
Sia-sia saja, baik Alex maupun Efira tidak ada yang dapat tidur tenang malam itu, terjaga hingga pagi hampir menyapa.
__ADS_1