Melody From Pshycopath

Melody From Pshycopath
Damai


__ADS_3

Efira POV


Aku berjalan menyusuri lorong menuju ruanganku, tentu saja bersama dengan Devan. Suara sepatuku yang bertemu dengan lantai, menggema disana.


Cklek


Aku membuka ruangan Alex, menunjukkan senyum sumringahku. Tapi, yang kulihat malah?


"What are you doing?" Tanyaku.


Hening.


Tidak ada jawaban.


Lelaki itu hanya memandangku sedikit tajam?


Tidak, itu sangat tajam. Tangannya dipenuhi darah. apa yang sudah di lakukan?


"What happened?" Tanyaku lagi, aku bahkan buru-buru menghampirinya. Tapi, apa yang malah kudapat?


"Ini masih jam istirahat, pergilah"


Apa aku di usir? Apa bedebah ini mengusirku?


Aku ingin mencakar wajahnya. Sungguh.


"Tapi..."


"Kau tau aku tidak suka penolakan"


Bahkan ucapanku dipotong dengan seenak dagunya sendiri.


"Shireo,let me help you!" Tolakku, lalu berlari mencari kotak P3K.


*Shireo (Bahasa Korea) : Tidak mau


Entah apa yang sudah si bodoh ini lakukan hingga tangannya berlumuran darah begitu.


"Kemarikan tanganmu" Ucapku.


Tidak ada respon.


Aish, lelaki ini.

__ADS_1


Aku menarik tangannya mendekat, lalu fokus mengobati lukanya. Banyak sekali serpihan kaca yang menancap di tangannya.


"Apa tidak sakit?" Tanyaku.


"Hatiku jauh lebih sakit"


Bodoh, jawaban macam apa yang dia katakan?


"Bagaimana kau mendapat luka ini?" Tanyaku sambil mengobati lukanya.


"Katakan apa maumu?"


Aku tersenyum, sedikit menghela nafas atas jawabannya. Mengalihkan pembicaraan hm?


"Aku? Aku mau menemuimu. Apa salah?"


"Cih, kencan saja dengan Devan. Aku tidak peduli"


What the hell?


Bicara melantur apa orang ini? Aku bahkan tertawa mendengarnya.


"Bedebah ini, kau cemburu ha?" Ucapku sedikit meninggikan suara di awal kalimat.


"Tidak" Jawabnya singkat.


"Aw. Pelan-pelan"


Apa terlalu keras? Aku akhirnya membalut lukanya dengan penuh perasaan.


"Mian" Ucapku, suaraku terdengar sangat lirih.


*Mian (Bahasa Korea) : Maaf


Sial, apa aku gugup?


"Ne?" Jawabnya.


*Ne? (Bahasa Korea) : Ya?


Aku semakin tergagap, aku harus mengatakan apa? Aku harus mulai dari mana?


Tanganku masih fokus membalut lukanya, hanya saja bola mataku berlarian ke kanan dan ke kiri, bingung. Hingga di putaran perban terakhir, aku menghela nafas berat.

__ADS_1


"Maafkan aku, tidak seharusnya aku memperlakukan mu dengan buruk. Itu hanya masalah sepele. Tapi, aku terlalu berlebihan menanggapinya" Akhirnya aku memiliki keberanian.


"Cemburu itu buta Efira. Lupakan saja. Pergilah ke ruanganmu, sudah masuk jam kerja" Ucapnya mengelus rambutku.


"Jadi? Apa kau memaafkan ku?" Ujarku memastikan dengan baik bahwa dia sudah tidak mempermasalahkannya.


"Aku tidak bisa marah denganmu"


Aish, ini mengharukan. Aku ingin memeluknya.


"Mendekatlah"


Apa?


"Kemari hm" Kali ini ucapannya diikuti tindakan mengambil tanganku pelan, tentu saja aku mengikuti kata hatiku. Aku menggeser dudukku lebih dekat dengannya.


Lalu?


Grep


Aigooo


*Aigo (Bahasa Korea) : Astaga.


Dia memelukku lebih dulu, bayanganku menjadi kenyataan. Apa dia bisa membaca pikiranku?


Hal itu membuat wajahku memanas. Mungkin sekarang sudah semerah tomat.


Katakan saja aku berlebihan, aku sering berpelukan dengannya sebelum ini. Tapi, kali ini situasinya berbeda. Saat ini aku melihatnya sebagai seorang lelaki, bukan sebagai sahabat.


"Sudah cukup. Detak jantungmu sangat terdengar. Aku takut dia lepas"


Sialan, lelaki ini benar-benar merusak suasana.


Tentu saja hal itu membuatku langsung mendorongnya, beranjak pergi adalah pilihan paling tepat. Aku membencinya.


Aku menutup pintu ruanganku sedikit keras, bersandar pada daun pintu dan memegang dadaku.


Ah tidak, lebih tepatnya jantungku.


Jantungku.


Jantungku mau meledak.

__ADS_1


Efira POV End


Sedangkan diruangan sebelah, Alex tengah duduk di kursi kebesarannya. Meneliti perban yang di lilitkan oleh sahabatnya. Tersenyum sendiri disana. Lelaki itu juga sama gilanya dengan Efira.


__ADS_2