
Pagi hari, dikamar hotel Efira. Terdengar suara gaduh disana, dimana Efira sibuk bersiap-siap bersama Alex yang tengah merengek minta ikut bekerja.
"Ayolah Efira, aku mau ikut" Ucap Alex, dirinya sedang tengkurap di kasur king size hotel. Memandang Efira dengan tatapan bak anak anjing kelaparan, memelas.
"Diam saja disini, biar aku bekerja. Lagipula mana ada kau bekerja. Tidak ada sangkut pautnya dengan bidangmu" Ucap Efira, berdiri di depan meja rias. Sibuk menggunakan lipbalmnya.
"Aku bisa membantu apapun, anggap saja aku asisten pribadimu" Jawab Alex, masih dengan posisi yang sama.
"Aish. Aku bilang tidak!!" Ucap Efira lalu beranjak, menggunakan sepatunya, bersiap untuk berangkat. Belum sempat dirinya membuka kenop pintu. Sahabatnya itu, Alex, tidak segan sekali mencegahnya dengan cara memeluk dirinya erat.
"Tidak boleh, kau tidak boleh pergi" Alex berucap dengan nada ketusnya. Kesal karena tidak diperbolehkan ikut bekerja.
"Lepaskan aku" Efira sudah memberontak, menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri, berharap sebuah keajaiban berpihak padanya.
"Tidak mau, ayolaaah. Aku kemari untuk dirimu, kalau aku kau tinggal. Sia-sia saja aku kemari"
Hening, gadis itu tidak menjawab. Menatap datar kenop pintu di genggamannya. Kesal! Satu kata yang mewakilinya pagi ini.
Bagaimana tidak? Gadis itu bahkan harus kembali berebut kamar mandi dengan Alex tadi pagi, dan lagi-lagi harus melewati adu mulut dulu.
Masa tenangnya di Jepang sudah berakhir malam itu, malam dimana Alex tiba-tiba datang mengetuk pintu kamarnya, dan berkahir harus berbagi ranjang hingga hari ini.
"Efira" Bisik Alex, tepat di telinga kanan gadis itu. Mencari sebuah jawaban atas pernyataannya tadi.
"Baiklah-baiklah, sana cepat siap-siap" Ucap Efira pasrah.
"Yeay" Alex berteriak kesenangan, seperti menemukan titik bahagianya karena yang dia inginkan terkabul. Berlari tunggang langgang, mengambil setelan formalnya dan segera bersiap.
__ADS_1
"Kau tidak sarapan?" Tanya lelaki itu, memberikan dasinya pada Efira. Bermaksud meminta bantuan menyimpulkan dasinya.
"Tidak" Jawab Efira, lalu mengambil kain panjang itu dari tangan sahabatnya.
"Wah gila, jadi selama satu bulan kau selalu melewatkan sarapanmu? Juga melewatkan makan malammu?"
"Bukan urusanmu" Efira menjawabnya dengan ketus.
"Urusanku"
"Kenapa?"
"Karena aku menyayangimu"
Deg
"Maksudku, aku tidak mau kau sakit. Jika kau sakit kau tidak bisa bekerja dengan baik kan?" Lanjut Alex. Berniat mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi canggung.
"Akh, jangan dicekik" Teriak Alex saat Efira sengaja menarik simpul dasi itu keatas dengan sangat keras.
"Ehehehe, maafkan aku. Itu sengaja" Gadis itu menunjukkan cengirannya, kembali merapikan dasi tersebut.
"Selesai, ayo berangkat" Ucap Efira saat dirasa simpulan dasinya sudah sempurna.
...***...
"Pagi Efira" Ucap seseorang itu dari belakang Efira. Tentu saja baik Efira maupun Alex segera menolehkan kepala mereka, melihat sumber suara.
__ADS_1
"Selamat pagi tuan Rian" Jawab Efira sedikit ketus mungkin? Tanpa senyum menyimpil di antara kalimatnya.
"Ini?" Tanya tuan Rian mengalihkan pandangannya kepada Alex. Mungkin bingung dengan kehadiran orang lain bersama Efira.
"Alex, Alexander Harrison" Ucap Alex dingin. Menatap tuan Rian dengan tajam.
"Ah, rekan Efira ya?" Tuan Rian tersenyum.
Cih, palsu - Batin Alex.
"Hm, rekan hidupnya" Jawab Alex sinis, menguji kesabaran kliennya mungkin?
"Kenapa tidak bilang jika kau sudah memiliki kekasih?" Tuan Alex mengajukan pertanyaannya pada Efira, memandang gadis itu dalam.
"Privasi tuan Rian, kenapa? Kau mau menjadi kekasihnya?" Bagus, Alex bahkan menyela ucapan tuan Rian sebelum Efira sanggup membalas pertanyaan tersebut.
"Mungkin"
Lihat! Mendengar jawaban tuan Rian, Alex sudah mengeraskan rahangnya. Ya, meskipun air mukanya terlihat tenang.
Kenapa dadaku sesak sekali? - Batin Alex.
"Bermimpilah" Sahabat Efira itu sudah mengeluarkan smirk andalannya, segera setelah itu akhirnya tuan Rian memilih pergi, tidak menanggapi lelaki itu.
"Apa kau cemburu?" Tanya Efira menggoda sahabat lelakinya, menunjukkan senyum jahil disana.
"Dadaku sesak, aku tidak cemburu!" Ucap Alex tanpa melihat Efira.
__ADS_1