Melody From Pshycopath

Melody From Pshycopath
First Day


__ADS_3

Efira POV


Aku mengeluarkan mobilku dari garasi, dengan semangat penuh. Aku menginjak pedal gas, melajukan mobil putih ini santai menuju perusahaan.


Ini hari pertamaku kan?


Aku tidak bersama Alex, lelaki itu menyebalkan sekali sejak semalam. Aku ingin pergi sendiri, biar saja jika dia berpikir aku kekanakan.


Hanya 25 menit perjalanan sampai akhirnya aku bisa sampai di parkiran perusahaan. Aku mengambil tasku lalu melangkahkan kaki ke dalam perusahaan.


Tidak ada yang istimewa, seluruh karyawan menunduk hormat. Sebenarnya ini tidak perlu, kenapa mereka tidak menyapaku saja?


Pagi Efira, begitu misalnya. Itu akan lebih menyenangkan kan?


Lagipula umurku dan mereka tidak jauh berbeda, tidak jarang pula ada yang umurnya lebih tua daripada aku.


"Selamat pagi Mira" Sapaku saat aku sudah berada di depan ruanganku, dia sudah duduk manis di balik mejanya.


Ah tidak, saat aku datang dia malah berdiri menunduk memberi hormat. Ah, ini terlalu berlebihan.


"Tidak, jangan lakukan itu! Kau hanya perlu menyapaku. Selamat pagi! Begitu akan lebih baik daripada kau menunduk hormat. Aku seperti petinggi perusahaan saja" Ucapku lalu tersenyum manis.Aku berniat mengajaknya untuk lebih dekat sebagai seorang teman. Tapi, apa?


"Anda memang petinggi perusahaan nona"


Cara bicaranya saja se-kaku itu, aku memutar bola mataku jengah. Ini pilihan Alex, lelaki itu yang memilihkan sekretaris ini untukku. Aku akan protes nanti, kenapa sekretarisnya lebih baik daripada sekretarisku. Kalian tau siapa sekretaris Alex?


"Selamat pagi, nona Efira" Sapa seseorang. Ini sekretaris Alex. Namanya Devan.


Kalian ingat Devan?


Seharusnya dia menjadi sekretarisku saja, mungkin akan terlihat lebih hidup suasananya daripada harus bersama gadis es ini.


"Ya, selamat pagi kembali Devan. Kau baru datang?" Tanyaku.

__ADS_1


"Iya, kau juga?" Tanya Devan.


"Hmm" Aku bergumam sambil menganggukkan kepala.


"Baiklah, selamat bekerja. Aku ke mejaku dulu" Ucapnya, tentu saja aku mengangguk paham.


"Selamat bekerja kembali"


Devan berlalu meninggalkanku dengan senyuman, begitu juga aku. Bahkan arah mataku terus tertuju padanya.


"Ekhem" Sampai suara itu mengagetkanku. Ini dia bintang kita hari ini.


Alex!


Lelaki itu menatapku datar, tapi aku tidak peduli, menoleh padanya hanya sebuah ke-refleks-an. Aku langsung berlalu meninggalkannya, mungkin pergi ke ruanganku akan lebih menenangkan.


Efira POV end


...***...


Alex POV


"Selamat bekerja kembali"


Aku bahkan mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Aku cemburu? Tidak!


Aku kesal, pertama gadis itu tidak ada dirumah saat aku menjemputnya, ternyata dia sudah berangkat dulu dengan mobilnya. Kedua, aku tau gadis itu tidak memakan sarapannya dengan baik, aku tidak bisa membiarkannya kelaparan sebelum bekerja kan? Lalu ketiga?


Melihatnya dengan Devan? Sepertinya baru semalam aku memperingatkannya untuk tidak dekat-dekat dengan Devan. Kenapa pagi ini dia malah terlihat lebih dekat dengan lelaki itu?


"Ekhem"


Aku sengaja berdehem, ingin tau saja reaksinya saat melihatku menatapnya sedatar ini. Dia memang langsung melihatku, tapi sepersekian detik selanjutnya, dia memilih mengabaikanku dan pergi ke ruangannya.

__ADS_1


Hal apa yang lebih sial dari ini?


Atau yang lebih sial adalah melihat Devan tersenyum senang pagi ini? Lihat! Lelaki itu mengembangkan senyumnya sampai tidak sadar akan kehadiranku.


Argh!


Pagi yang menyebalkan, aku masuk ke dalam ruangan tanpa menyapa Devan. Lelaki itu sudah sakit jiwa!


BRUAK!!!


Aku sangat yakin Devan terlonjak kaget di luar sana atau bahkan jantungnya sudah merosot ke kaki.


Biar saja! Biar tau rasa!


Aku sengaja melakukannya. Aku kesal! Sangat kesal!


Jadi, pintu itu adalah pelampiasanku.


"Setidaknya makan sarapanmu dengan benar" Aku meletakkan kotak makan di hadapannya, dihadapan Efira lebih tepatnya.


Sebenarnya dia sangat tau akan kehadiranku, tapi sungguh dia tidak ingin melihatku?


Dia hanya menatap datar kotak makan yang aku berikan padanya.


"Apa begitu cemburunya kau semalam?" Tanyaku mengeluarkan smirk.


Aku tidak tahan dengan kebungkamannya. Semalam saat aku mengantarnya pulang, dia keluar dari mobil tanpa sepatah katapun, lalu hari ini juga bertemu tanpa sepatah katapun. Aku ini lelaki, aku bahkan tidak pernah memiliki kekasih.


Bagaimana aku harus bersikap dengannya? Dia bahkan hanya diam sekarang, hilang sudah Efira yang cerewet.


Sebenarnya aku ingin melanjutkan membahas masalah ini tapi jam kerja kami sudah di depan mata.


"Pekerjaan tetap saja pekerjaan, setidaknya bersikaplah profesional nanti" Ucapku lalu meninggalkan gadis itu di ruangannya.

__ADS_1


Alex POV end


__ADS_2