
"Kau mencari ini?" Tuan Rian mengeluarkan sebuah kunci yang memiliki gantungan kunci logo perusahaan Brianjaya Group. Setelah berhasil menetralkan rasa sakit pada pangkal pahanya, lelaki itu bangkit untuk kembali meraih Efira.
"Buka pintu ini" Perintah Efira. Gadis itu menggedor pintunya sangat kasar.
"Kau pikir aku bodoh?" Smirk keluar di wajah tuan Rian. Sangat menyeramkan, mungkin amarahnya sudah memuncak atau egonya yang memang tidak bisa kalah.
"Kemarilah sayang, sebelum aku menarikmu dengan paksa"
Tatapan itu, tatapan lapar seorang singa jantan kepada singa betina. Efira sudah hampir menangis saat itu juga karena tidak kunjung mendapat jalan keluar.
Gadis itu terus memundurkan langkahnya, mencari apapun yang bisa ia gunakan untuk melindungi dirinya.
Nihil, mungkin banyak barang disana. Tapi, tidak ada satupun yang bisa digunakan, hanya tumpukan kertas dan tumbukan buku. Itu tidak berguna. Sejenis tanaman hias, atau pot hias mungkin tidak ada disana
Intinya ruangan itu sangat monoton. Seperti perpustakaan.
Tuan Rian semakin lama semakin mendekat, melangkahkan kakinya kepada mangsa di depan mata. Sampai pada akhirnya, Efira sudah tidak menemukan jalan lagi, gadis itu sudah sangat ketakutan.
"Tidak, jangan mendekat"
Tap
Tap
Tap
Dimana tuan Rian tetap melangkahkan kakinya, tidak ingin peduli dengan apapun yang dikatakan Efira.
"Jangan menyentuhku"
__ADS_1
Tepat setelah Efira mengatakan kalimat itu, lengannya ditarik paksa kedalam sebuah ruangan?
Pintu yang selama ini dianggap adalah pintu kamar mandi ternyata adalah pintu menuju sebuah kamar.
Tuan Rian mendorong Efira kasar diatas kasur, merangkak diatas gadis itu. Matanya sudah sangat gelap, menunjukkan sisi brutalnya disana.
Aku menyesal tidak menuruti Alex - Batin Efira, setitik air mata sudah timbul di pucuk matanya. Menggambarkan rasa sedih disana.
Pikirannya sudah membumbung tinggi kemana dirinya tadi sempat dicegah oleh Alex.
Flashback On
"Izinlah dulu. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu" Alex berkata sambil melihat Efira yang baru saja keluar dari kamar mandi, sudah mengenakan setelan formalnya.
"Tidak, aku ingin segera pulang, ingin segera menyelesaikan ini" Ucap Efira sambil memperbaiki ikat pinggangnya, berjalan pelan menuju meja riasnya.
"Karena ingin pulang atau karena tuan Rian?"
"Kau memang sangat mengerti aku. Keduanya adalah alasan yang tepat"
"Besok saja masuk lagi, aku akan mengosongkan diri besok"
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Diam saja disini"
"Tidak mau, aku tidak mau mati kutu menunggumu. Lebih baik aku berangkat bekerja kan?"
"Yasudah jika kau memaksa. Makan dulu sarapanmu, aku sudah memesankannya untukmu" Ucap Alex memandang makanan yang sudah ia pesan saat Efira mandi tadi. Hal itu ia lakukan sudah sejak dia tau bahwa Efira melewatkan sarapannya saat tidak bersamanya. Nakal sekali memang.
__ADS_1
"Baiklah, ayo makan bersama" Jawab Efira.
Mereka makan dengan tenang, bahkan terkadang terselip tawa diantara mereka. Kesan menghidupkan suasana sangat terasa. Sampai pada menit ke 10, mereka menyelesaikan acara makannya.
Efira segera mengambil tas dan juga beberapa dokumennya.
"Aku berangkat dulu ya"
Ucapan lembut Efira menyapa rungu sahabatnya, lelaki itu hanya tersenyum mengangguk.
"Jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu dekat-dekat dengan orang itu" Ucap Alex memberi wejangan pada sahabatnya.
"Siap pabos"
Gadis itu mengangkat tangannya, melambangkan tanda hormat kepada Alex dengan senyuman lebarnya.
"Hati-hati"
Langkahnya membawa lelaki itu untuk mendekati Efira lalu mencium keningnya.
Jangan tanyakan bagaimana keadaan mereka. Seperti biasa saja, jantung mereka berdetak sangat cepat.
Flashback Off
Aku mohon tolong aku
Siapapun tolong aku
Aku takut
__ADS_1
Isi hati Efira berkata, bibirnya sudah bergetar tidak sanggup mengatakan apapun.