
Alex Pov
Aku terus memikirkan perkataan Efira pagi tadi, saat dimana aku dan dirinya bertemu dengan tuan Rian di perusahaan.
Apa tadi katanya?
Cemburu?
Apa benar aku cemburu?
Bagaimana bisa aku cemburu, kalau jatuh cinta saja aku tidak pernah punya waktu. Aku mana tau tentang hal yang seperti ini.
Aku berdiri di balkon kamar hotel Efira, mencoba bertanya kepada bintang, tentang bagaimana sebenarnya hatiku.
Pun mengadu pada bulan, kenapa sesak sekali rasanya melihat dia bersama orang lain.
Aku ingin menghajar tuan Rian akan sikapnya tadi. Ternyata kurang ajar juga lelaki itu, mentang-mentang dia berkuasa di negeri ini begitu? Segala mengatakan perusahaanku miskin. Dia saja yang tidak tau kemampuanku bersama Efira.
Baiklah, kembali pada permasalahan hati, aku bingung. Aku mengatakan semuanya kepada bulan.
Bagaimana jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya saat berada didekatnya.
Bagaimana hatiku berdenyut setiap kali mengingatnya.
Bagaimana aku tak bisa fokus tanpa mendengar atau melihatnya.
Rasanya seperti aku kekurangan separuh dari diriku saat jauh dari dirinya.
Bukankah itu terlalu berlebihan?
Akupun juga tidak ingin merasakan itu, tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku.
Aku ingin sekali melindunginya seperti seorang kakak melindungi adiknya?
Ah tidak!!!
__ADS_1
Tidak seperti itu konsepnya.
Aku terlalu berlebihan jika menganggapnya sahabat atau bahkan adikku.
Tidak ingin ada seorang lelaki pun menyentuhnya?
Aih, posesif sekali aku ini.
Hari sudah semakin larut, aku sendiri juga terlarut pada pikiranku. Seketika bayangan-bayangan kebersamaan ku bersamanya bermunculan. Seolah menertawakanku yang tidak mengerti apa-apa.
"Jangan dekat-dekat dengan seorang lelaki manapun"
"Hm"
"Jangan mudah berkenalan dengan orang asing, seperti apapun orang itu"
"Hm"
"Jangan lupakan makanmu"
"Iya"
Cih, apa itu? Pesan-pesanku seperti seorang kekasih saat dia akan berangkat kemari.
"Kenapa tidak bilang jika kau sudah memiliki kekasih?"
"Privasi tuan Rian, kenapa? Kau mau menjadi kekasihnya?"
"Mungkin"
"Tidak bersamaku?"
"Oh, tidak tuan. Aku bersama Alex"
"Memangnya kau akan pulang naik apa dengan pengusaha miskin ini?"
__ADS_1
"Sudahlah, pulang bersamaku. Oke?"
"Aku atau dia?"
"Tidak ada pilihan, kau harus pulang bersamaku"
"Jangan memaksanya tuan Rian, lagipula kenapa kau sangat egois? Dia selalu menolakmu! Tapi, kau selalu mengganggunya. Asal kau tau, itu menyusahkannya"
"Kau pikir kau siapa?"
"Aku? Kau lupa? Aku rekan hidupnya"
"Lebih tepatnya teman masa kecilnya"
Semua adegan antara aku, Efira dan juga tuan Rian teeputar begitu saja, seperti kaset rusak didalam memori. Sial, bagaimana ini?
Bagaimana jika Efira menyukai lelaki itu?
Aku bahkan sudah tau dari tatapannya, lelaki itu menyukai Efira.
Aku kesal, sangat kesal.
Aku bahkan mengepalkan jemariku saat mengingatnya.
Apa aku benar-benar cemburu?
Apa aku sedang terjebak friendzone?
Aku harus bagaimana?
Ya tentu saja aku harus menyadari perasaan apa ini. Aku sudah dibuat gundah gulana begini, mana bisa diam saja dengan kenyataan yang terus menamparku seperti ini.
Aku masuk kedalam kamar, menutup pintu balkon lalu menutup gordennya. Beranjak ke kasur, menemukan gadis kecilku sudah tertidur disana, aku menyelinap masuk kedalam selimutnya. Kami bahkan masih berbagi ranjang.
Aku memeluknya lalu mengecup keningnya. Percayalah, untuk mengecup keningnya, adalah suatu kejadian reflek tidak terduga. Aku juga terkejut sesaat setelah melakukannya barusan.
__ADS_1
"Selamat malam" Ucapku sebagai penutup hari ini.
Alex Pov End