
Greg memaksa gadis lemah itu bangun dari pengaruh obat bius yang diberikan oleh orangnya tadi.
Setelah kejadian Aleycia menyerangnya lalu pergi begitu saja, membuat Greg murka dan mengerahkan anak buahnya untuk mencari Aleycia.
Sebenarnya adalah, sejak keluar dari club, Aleycia terus diawasi oleh anak buah Greg dan setelah gadis itu lengah, sebuah kesempatan yang baik untuk orang-orang Greg bergerak. Lalu membawa gadis itu ke mobil tuan mereka.
Aleycia segera tersadar saat Greg menyiramnya dengan segelas air, gadis itu langsung diseret paksa keluar dari mobil mewah milik Greg Alexander.
"Kau mau membawaku kemana ha?" Teriak Aleycia setelah berhasil mengumpulkan seluruh nyawanya.
"Ke nerakamu" Jawab Greg, lelaki itu terus menyeret Aleycia yang sudah terseok-seok sampai di depan pintu mansion.
Pintu mansion otomatis terbuka hanya dengan sidik jari dari Greg. Mansion itu sudah di setting sedemikian rupa untuk kenyamanan tuannya.
Nuansa modern tercipta hanya dari ruang tamu. Di dominasi warna putih dan abu-abu, tatanan sofa ruang tamu yang ringkas dengan dua buah anak tangga di sisi kanan dan kirinya, serta dinding kaca yang langsung menyuguhkan pemandangan di luar mansion.
Saat pintu terbuka sepenuhnya, pelayan-pelayan di rumah itu sudah berjejer rapi menyambut tuan besar mansion tersebut.
Namun, mereka di buat terkejut dengan kedatangan gadis mungil dan manis yang terlihat kacau di genggaman tuan mereka.
Greg menatap Aleycia tajam sebelum dia melempar gadis itu di depan pelayan-pelayannya.
"Bawa gadis kurang ajar ini ke ruang bawah tanah" Dua bodyguard langsung tanggap menyeret Aleycia ke ruangan yang di tunjuk oleh tuan mereka.
Ruang gelap, dimana kenangan-kenangan hasil karya Greg Alexander tersimpan disana.
__ADS_1
"Lepaskan aku. Aku tidak mau. Kalian tidak akan selamat jika mencari uang dengan cara menyiksa seperti ini" Ucap Aleycia, gadis itu sudah setengah mati ketakutan. Membayangkan hal-hal buruk terjadi padanya.
Tidak ada jawaban dari kedua bodyguard yang membawanya. Kedua lelaki itu hanya fokus pada jalan mereka.
Hingga sampai pada sebuah pintu hitam nan megah berwarna hitam dan berornamen klasik. Memang indah jika di pandang di saat tidak dalam kondisi seperti Aleycia.
Gadis itu di bawa masuk dengan paksa, memborgol kaki Aleycia pada sebuah batu semen besar. Tangannya juga di borgol.
Aleycia seperti mendapat sebuah kasus pembunuhan seperti di film yang sering dia tonton.
Apa setelah ini aku akan menjadi budak? Batin gadis itu.
"K-kenapa kalian mengikatku begini?" Ucapnya.
Hening
"Apa kalian bisu ha?"
Aleycia mulai frustasi dengan kejadia yang menimpa dirinya. Namun lagi-lagi gadis itu tidak mendapatkan jawaban apapun. Hanya keheningan yang terjadi.
Setelah selesai dengan tugasnya, dua bodyguard itu keluar tanpa mengucap sepatah katapun.
"Hey, mau kemana kalian? Lepaskan aku"
Aleycia terus berteriak di ruang gelap itu. Dia menangis sejadi-jadinya disana.
__ADS_1
Dia mengingat bagaimana kedua orang tuanya meregang nyawa. Apa nasibnya akan sama seperti kedua orang tuanya?
Mati di tangan seorang pshycopath?
Dia terus menggerakkan tubuhnya, berharap ikatan tangannya melonggar.
Sekali lagi, itu hanya akan berakhir sia-sia.
Aleycia menatap sekitar, berharap ada sebuah celah untuknya dapat meminta pertolongan.
Nihil.
Bukan sebuah celah atau sebuah pertolongan yang ia dapatkan. Malah sebuah harapan yang perlahan pupus dan sebuah keputusasaan.
Dia melihat banyak potongan tubuh manusia di sekitarnya.
Sekali lagi, potongan tubuh.
Itu disusun rapi, seolah itu adalah barang berharga.
Aleycia bergetar dibuatnya. Tubuhnya kaku menatap banyaknya bukti pembunuhan disana.
Dan di pojok lainnya, berbagai senjata tergantung rapi. Bau anyir memenuhi ruangan itu.
Harapannya untuk hidup hanya 0.1%.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mati konyol disini, aku harus keluar dari sini" Aleycia bermonolog, memikirkan cara untuk lepas dari jeratan nerakanya.