Melody From Pshycopath

Melody From Pshycopath
Jadi rebutan


__ADS_3

"Begini" Efira menjelaskan sesuatu dari tabletnya kepada Alex. Lelaki itu menyimak dengan seksama. Hal itu bertujuan agar Alex juga dapat membantu gadis itu nantinya. Sebenarnya mereka satu kesatuan dalam bekerja, saling berhubungan.


"Bagaimana jika kau menambahkan sebuah pot bunga disini, aku rasa itu akan menambah kesan asri di ruangan itu"


Ucap Alex, sesekali menggambar sesuatu di kertasnya. Efira hanya menganggukkan kepalanya, merasa setuju dengan pendapat sahabatnya itu.


"Aku sangat terbantu dengan kehadiranmu"


Rungunya menangkap suara takjub milik Efira, lelaki itu hanya tersenyum memandang gadis kecilnya.


Angin menghembus pelan, melambaikan anak rambut Efira, tentu saja hal itu menambah aura kecantikannya.


Alex saja tidak berkedip melihatnya, tuan Rian juga begitu. Memandang gadis itu penuh puja dari kejauhan. Efira tengah duduk disalah satu bangku taman perusahaan, bersama dengan Alex tentunya. Sedangkan tuan Rian, hanya mampu memandang gadis itu dari jauh, pintu penghubung taman dengan perusahaan.


"Hei, sudah waktunya pulang, ayo pulang" Ucap Efira membuang segala atensi Alex. Gadis itu memasukkan gadgetnya kedalam tas, dan membawa beberapa dokumen yang ia bawa tadi.


"Ayo" Ajak Alex, menggandeng tangan Efira, bersiap beranjak dari bangku taman.


"Tidak bersamaku?" Suara seseorang yang tidak jauh dari mereka, membuat mereka mengurungkan niat untuk beranjak.

__ADS_1


"Oh, tidak tuan. Aku bersama Alex" Ucap Efira. Biasanya juga dia tidak pernah bersama dengan tuan Rian kan?


"Memangnya kau akan pulang naik apa dengan pengusaha miskin ini?" Tuan Rian sudah terpancing emosinya, menatap bahkan mengatai Alex dengan sinis.


"Sudahlah, pulang bersamaku. Oke?" Lanjut tuan Rian, menarik tangan Efira yang sedang memegang dokumen, membuat semua dokumen itu berserakan di tanah.


Efira menatap malang dokumen-dokumennya, tidak ada yang berniat menolong dokumen itu. Kedua tangannya sudah digenggam oleh dua orang yang berbeda. Otaknya berdenyut menghadapi situasi semacam ini.


Apa-apaan ini? - Batin Efira.


"Aku atau dia?" Tanya Alex kepada Efira, tatapannya memang hangat, sayangnya itu terlalu kaku menurut Efira.


"Tidak ada pilihan, kau harus pulang bersamaku" Ucap tuan Alex dengan kekeh, memaksakan kehendaknya disana.


"Kau pikir kau siapa?" Tentu saja tuan Rian tidak setenang Alex dalam menghadapi hal seperti ini. Emosinya mengalahkan segalanya.


"Aku? Kau lupa? Aku rekan hidupnya" Ucap Alex tenang, tapi tatapannya itu seperti siap membunuh saja.


Mendengar pernyataan Alex, tuan Rian terkekeh pelan, meremehkan mungkin?

__ADS_1


"Lebih tepatnya teman masa kecilnya" Sarkas tuan Rian. Tentu saja hal itu tidak membuat Alex tersulut emosi, lelaki itu hanya tersenyum sinis.


"Berhenti!" Teriak Efira. Gadis itu sudah kesal merasakan aura dingin diantara mereka, tuan Rian mungkin akan langsung diam, sedangkan Alex tidak, mengenal gadis itu lebih lama membuatnya lebih berani.


"Ya, baiklah baiklah. Aku tidak mau diam" Alex bersemangat untuk menggoda gadis itu.


"Alex!!!" Teriak Efira kesal. Tentu saja hal itu membuat Alex gemas sendiri. Mengundangnya untuk tertawa.


"Ahahaha. Ayo pulang" Ajak Alex, lalu memunguti dokumen Efira yang berserakan.


Melihat hal itu, tuan Rian menggenggam erat tangannya sendiri.


"Pulang denganku Efira" Ucap tuan Rian.


Ya, tapi bukan Efira namanya jika tidak menolak tuan Rian. Pada dasarnya, Efira tidak suka dengan kehadiran kliennya itu.


"Tidak tuan, aku bersama Alex. Aku satu alamat dengannya?"


"Maksudmu?" Tanya tuan Rian, memastikan pertanyaan di otaknya.

__ADS_1


"Aku satu kamar dengan Efira" Ucap Alex percaya diri, menunjukkan smirk atas kemenangannya mengisi tuan Rian.


"Ayo" Ucap Alex, menggandeng Efira meninggalkan klien mereka disana.


__ADS_2