
"Kau mau menunjukkan apa lagi?" Tanya Efira penasaran, tangannya terus ditarik secara halus oleh Alex.
"Katanya mau pulang?"
"Seharusnya kita mencari taxi, bodoh. Kenapa malah ke parkiran? Kau pikir ada apa di parkiran?" Ucap Efira, pasalnya gadis itu sudah sangat lelah sepertinya. Hingga membuatnya terus mengomel sepanjang jalan.
"Lihat!!!" Ucap Alex.
"A-apa?" Efira lagi-lagi dibuat tergagap oleh tingkah Alex. Lelaki itu memang tidak melakukan apapun saat ini.
Tapi, sesuatu di depan sana adalah tindakan Alex bukan?
"I-itu mi-milik si-si-siapa?" Tanya Efira lagi.
"Yang putih itu milikmu dan yang hitam itu milikku" Alex menunjuk benda berwarna putih itu, lalu beranjak menunjuk yang hitam.
"A-apa?"
__ADS_1
"Sepertinya aku akan segera mati karena jantungan" Lanjut Efira menatap sahabatnya, lelaki itu tersenyum tanpa dosa disana.
"Kau pikir berapa harga mobil itu? Buggati? Wah gila! Kau menghabiskan penghasilan kita?" Ucap Efira, gadis itu masih terkejut dengan apa yang ia lihat, tapi jiwa cerewetnya seperti lebih mendominasi.
"Nope! Itu reward dari tuan Piton" Jawab Alex, tentu saja hal itu membuat Efira kembali dibuat terkejut. Jantungnya sudah hampir lepas berkali-kali hari ini.
"Kenapa hari ini penuh dengan kejutan?" Tanya Efira.
"Karena kau pantas mendapatkannya" Jawab Alex santai, lalu berjalan lagi, melewati Efira begitu saja, tindakan itu tentu diikuti oleh Efira, gadis itu membuntuti kemana Alex pergi.
"Dan itu adalah mobil kita, benar-benar mobil kita" Ucap Alex, menunjukkan satu mobil berwarna gold, Efira sangat tau mobil itu. Itu adalah?
Alex hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan sahabatnya. Wajar saja, mereka baru saja menjadi triliuner. Membangun perusahaan, bahkan mengisi bangunan tersebut dengan furnitur-furnitur mewah dan fasilitas yang sangat memadai. Tidak sia-sia bukan hasil kerja keras mereka selama bertahun-tahun?
"Selain jantung, mataku juga hampir lepas berkali-kali" Ucap Efira sinis, sahabatnya terlalu mendadak memberinya kejutan.
"Yasudah ayo pulang" Alex lagi-lagi menarik tangan Efira pelan. Membawa gadis itu menuju mobil mereka, bahkan membukakan pintu untuk gadis itu.
"Kau yang akan mengendarainya?" Tanya Efira saat Alex sudah duduk di kursinya.
__ADS_1
"Tentu saja, menuturmu ini muat berapa orang?" Jawab Alex, membuat Efira memutar bola matanya jengah.
"Kau selalu mengesalkan" Ucap Efira.
Mereka sangat menikmati perjalanan, mobil itu membawa mereka pada tujuan mereka. Rumah! Rumah mereka tidak jauh di pedesaan tapi, masih cukup asri untuk disebut perkotaan.
Dua jam mereka melewati perjalanan, sesekali bercanda dan mengobrol disana, udara segar mulai terasa. Perkebunan-perkebunan mulai terlihat. Mereka sudah memasuki area rumah mereka.
Senang? Tentu saja! Sudah bertahun-tahun lamanya.
Rasanya sangat menyejukkan hati saat dapat pulang kerumah setelah sekian lama mengembara.
"Astaga Alex, aku pikir kita akan ke Amerika, aku senang sekali" Ucap Efira, menatap perkebunan di luar jendela sana.
"Amerika adalah tempat kita menempuh ilmu, dan akan selalu begitu. Sedangkan Indonesia, adalah rumah kita, tempat kita seharusnya pulang" Jawab Alex sambil tersenyum, masih fokus dengan setirnya.
"Aku tidak membawa oleh-oleh dari Amerika, dari Jepang juga tidak. Bagaimana ini?" Ucap Efira bingung, pasalnya mereka memang tidak pernah memikirkan itu selama diluar negeri, pokoknya mereka menempuh ilmu disana.
"Aku sudah membawanya di koperku" Jawab Alex, memberikan rasa tenang di relung sahabatnya, Efira.
"Sebenarnya tanpa oleh-oleh sebuah barangpun, kita sudah memberikan mereka yang terbaik Efira. Tidak sia-sia kita ke luar negeri untuk menempu ilmu. Kita pulang, membawa banyak prestasi. Bukankah itu saja sudah cukup?" Jelas Alex lagi, mencoba menyadarkan Efira, menunjukkan bahwa harta bukanlah satu-satunya pilihan untuk dibawa saat mereka kembali.
__ADS_1
Gadis itu mendengarkan Alex dengan seksama, menangkap semua hal bijak yang dikatakan oleh sahabatnya itu.