
"A- Aku takut,Lex. Hiks" Efira menangis tersedu-sedu diperlukan sahabatnya, Alex. Gadis itu memeluknya sabgaet erat, seolah memberi tahu bahwa baik secara maupun mentalnya tengah terganggu.
Mereka sudah berada didalam taxi. Duduk dikursi penumpang, saling menyalurkan kehangatan disana.
"Tenanglah, ada aku disini"
Alex mencoba untuk memenangkan sahabatnya, hanya kalimat itu yang bisa ia ucapkan, bersama dengan gerakan tubuhnya yang memberi kenyamanan untuk Efira. Seperti mengelus puncak kepalanya, atau sekedar membalas pelukannya serta mengusap punggungnya penuh sayang. Memang hanya sebuah gerakan sederhana tapi, penuh makna. Cukup membuat Efira merasa aman.
"Tidurlah, akan aku bangunkan jika sudah sampai" Ucap Alex merebahkan kepala sahabatnya di pundaknya. Sweet moment bukan?
Pak supir saja melirik mereka dengan iri.
"Sudah sampai tuan" Ucap pak supir setelah sampai di hotel tempat Alex dan Efira menginap. Alex memandang Efira, gadis itu tengah tidur dengan sangat nyenyak, tidak tega membangunkannya, Alex memutuskan untuk menggendong gadis itu setelah membayar tagihan taxinya.
"Kenapa kau ini ringan sekali" Alex bermonolog, meletakkan sahabatnya di ranjang hotel.
Lelaki itu memandang Efira lekat, pipinya merah, terdapat bekas cap tangan disana, sepertinya habis di tampar? Beralih dari wajah menuju tubuh gadisnya. Baju yang dikenakan sudah koyak sana sini.
Rian sialan - batin Alex lalu beranjak, berniat mengganti pakaian, dan juga mengambil pakaian untuk Efira?
"Bagaimana aku memakaikannya?" Alex bermonolog, memandang piyama biru laut di tangannya, bergantian dengan memandang gadisnya.
Lelaki itu terlihat berpikir sejenak, mengerutkan alisnya hingga terpaut di tengah.
"Ah tidak ada pilihan lain, maafkan aku Efira" Ucap Alex sambil menutup seluruh gorden kamarnya, hingga disana terlihat minim penerangan meskipun siang hari. Dalam keremangan, Alex dengan sekuat tenaga menahan gejolak birahinya, menggantikan pakaian Efira dengan fokus, tanpa berniat hal yang lain.
1 menit
2 menit
__ADS_1
Sampai 10 menit, akhirnya selesai.
Lelaki itu membawa baju kotor Efira, membuangnya di tempat sampah, menurutnya tidak layak lagi untuk Efira. Setelah selesai dengan mengganti pakaian, Alex tidak langsung beranjak bersama Efira. Dia harus menuntaskan nafsunya dulu di kamar mandi.
...***...
"Lex" Panggil Efira, saat ini gadis itu sudah segar setelah mandi, duduk nyaman di sofa kamar tersebut.
"Hm" Jawab Alex.
"Siapa yang mengganti bajuku kemarin?" Tanya Efira lagi lalu menyuap satu sendok nasi ke mulutnya.
"Menurutmu?" Alex berbicara tanpa menoleh, masih fokus dengan dasinya.
Ya, dia yang akan berangkat bekerja hari ini, menggantikan Efira, mengingat gadis itu masih sedikit 'trauma' dengan tragedi kemarin.
"Aku tidak tau, maka dari itu aku bertanya"
"Berjanjilah kau tidak akan marah"
Alex berjalan menghampiri Efira, mengulurkan jari kelingkingnya sebagai tanda perjanjian.
Kepalang penasaran, gadis itu menyambut jari Alex, menautkan jari kelingkingnya dengan milik sahabatnya itu.
"Baiklah, cepat katakan!!!"
"Aku" Bisik Alex, tepat di telinga Efira.
PLAK
__ADS_1
Hal itu langsung di suguhi dengan tamparan halus di lengannya, tentu saja diikuti teriakan delapan oktaf milik Efira.
"APA?? KURANG AJAR SEKALI KAU INI"
"Tidak ada pilihan lain, lagipula mana nyaman menggunakan baju seperti itu saat tidur?" Ucap Alex santai, sambil mengelus pelan lengannya.
"DASAR MESUM!"
"Aku tidak mesum, aku hanya fokus mengganti pakaianmu, tidak ada yang lain-lain" Alex dengan santainya mengatakan itu.
Mendengar hal tersebut, membuat Efira sedikit tenang 'sebentar'.
Sebelum Alex berulah lagi.
"Ya, meskipun aku sedikit melihatnya"
Akhirnya gadis itu terus menyerang Alex dengan brutal.
"Aduh aduh sakit" Adu Alex, sebenarnya itu tidak sakit, lihat saja! Alex bahkan tersenyum di tengah aduannya.
Berniat menggoda saja.
"BYEONTAE" Teriak Efira dengan aksen bahasa Koreanya.
(Byeontae : Mesum.)
"Nan byeontaega anida" Jawab Alex tak mau kalah.
(Nan byeontaega anida : aku tidak mesum.)
__ADS_1