
"Ayo, aku tutup matamu"
Alex dan Efira akan segera mendarat, saat ini mereka masih didalam pesawat. Saat Efira membuka matanya, gadis itu dikejutkan dengan Alex yang tiba-tiba ingin menutup matanya.
"Kenapa?" Tanya Efira.
"Ini kejutan"
Mendengar hal itu, Efira tersenyum antusias. Jarang-jarang Alex memberinya kejutan kan?
Gadis itu dituntun oleh Alex, sesekali terdengar suara pramugari menanyai Alex.
Sudah lama sekali mereka berjalan, rasanya saat ini Efira sudah kesal sekali. Tapi, suara Alex mengintrupsikan dirinya.
"Kita akan menaiki taxi, biarkan aku menggendongmu dan membantumu"
"Hm. Apa masih jauh?" Tanya Efira setelah bergumam.
"Masih sangat jauh, diamlah atau tidurlah jika perlu"
Meskipun tadi sudah tidur, tapi sepertinya tubuh gadis itu masih sangat lelah. Akhirnya dia mengikuti saran Alex untuk tidur.
Alex memandangi wajah sahabatnya dengan khidmat, memindahkan kepala Efira yang bersandar pada kursi mobil, menjadi bersandar pada bahunya.
Sedikit memakan waktu, 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai pada tujuan. Efira masih tertidur dengan wajah polosnya.
Sebenarnya lelaki itu tidak tega, namun apa daya? Tidak ada pilihan lain.
"Efira, kita sudah sampai" Ucap Alex, sesekali menepuk pipi Efira, membuat gadis itu menggeliat pelan.
"Eung. Sudah sampai?" Gumam Efira.
Gelap.
Ah iya, mataku ditutup - batin Efira.
"Hm. Ayo aku tuntun"
Kali ini, Alex menggenggam satu tangan Efira, sedangkan satunya lagi menyeret kopernya dan juga menenteng tas besarnya.
Efira? Gadis itu juga menyeret kopernya.
__ADS_1
"Berhenti" Ucap Alex mengintrupsikan.
"Apa sudah boleh dibuka" Tanya Efira, melepas genggaman tangannya lalu mencoba membuka kain yang menutup matanya.
"Aku akan membukanya, tetap tutup matamu, aku akan menghitung satu sampai tiga, lalu kau boleh membuka mata" Jeda Alex.
"Aku mengerti" Jawab Efira diam.
"Satu"
"Dua"
"Tiga"
"SURPRISEE"
Alex merentangkan kedua tangannya, seolah memberi tau Efira 'Ini kejutannya'. Senyuman terpatri sempurna diwajah tampannya.
"A - Alex?" Ucap Efira terbata-bata.
"Indonesia?" Tanya gadis itu dan lagi-lagi hanya dibalas dengan senyuman.
"Ini?"
"Harrykiel" Jawab Alex.
"A-apa?"
Kenapa dia jadi gugup begitu? Bicaranya juga terbata-bata begitu? - Batin Alex.
"Sudah selesai. Apa kau mau masuk?" Ucap Alex, memberikan jalan kepada sahabatnya untuk memasuki gedung dihadapan mereka.
"Tentu"
"Ayo" Lelaki itu menarik tangan Efira pelan, menuntunnya memasuki gedung tersebut.
"Wah, ini lobby?" Efira menatap takjub pada ruangan luas itu, lantai hitamnya dipilih memiliki pola garis berwarna gold, ditambah lampu-lampu berharga fantastis tergantung diatas, tidak lupa segala furnitur-furnitur mewah tertata cantik, menambah kesan elegan di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Hm. Bagaimana? Apa sudah sesuai dengan kemauanmu?" Tanya Alex menatap sahabatnya.
"Sangat, ini indah. Aku tidak percaya ini" Ucap Efira, lagi-lagi matanya sudah berbinar senang.
Hasil kerja keras mereka sudah berada di depan mata.
"Ini milikmu"
"Tidak, ini milikmu"
"Bagaimana jika milik kita?" Ucap Alex lalu tersenyum, hal itu tentu saja diikuti dengan tawa mereka bersahutan.
"Hahaha"
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan mengelilingi gedung itu.
Sampai di lantai teratas, hanya ada empat ruangan disana.
Ruang meeting.
Ruang tunggu dan?
"Ini ruanganmu dan disebelah adalah ruanganku" Ucap Alex.
Ruangan mereka hanya dibatasi oleh kaca, mungkin tujuannya untuk memudahkan mereka berinteraksi?
"Sedangkan itu, adalah pintu penghubungnya" Lanjut Alex menunjuk sebuah pintu yang menghubungkan dua ruangan.
"Aku sangat puas" Ucap Efira tersenyum senang.
"Aku ikut senang jika kau senang"
"Ayo keluar, kita pulang. Aku sangat merindukan ayah dan ibu" Ajak gadis itu, memang sudah bertahun-tahun mereka tidak pulang, bertemu hanya lewat video call. Siapa yang tidak sedih?
"Ada satu hal lagi"
Apa lagi? - Batin Efira.
"Apa?"
"Ayo ke parkiran dalam" Ucap Alex, menarik lengan gadis itu.
__ADS_1