
Sinar matahari menembus jendela kaca semua orang, kicauan burung terdengar bernyanyi disana-sini, tetes embun di dedaunan masih basah bahkan sesekali menetes pada tanah.
"Eummmm" Gumam Efira, gadis itu menggeliat pelan. Membuka matanya, merasakan hawa berbeda dari biasanya.
Sejuk sekali-pikirnya.
"Aku lupa aku sudah dirumah. Rasanya sangat asri" Ucap Efira, menyibak selimutnya lalu berjalan membuka gorden kamarnya.
Gadis itu menyipitkan mata, kala sinar mentari menyambut paginya, dia tersenyum merasakan getaran bahagia.
Efira lekas keluar kamar, membasuh wajahnya.
"Ayah ibu" Sapa Efira saat melihat kedua orang tuanya sedang bersiap?
"Efira, sudah bangun?" Tanya ibunya, membelai lembut pundak putrinya itu.
"Em, mau kemana?"
"Kami mau berkebun. Ini sudah waktunya panen"
Efira membelalakkan mata, kaget dengan jawaban ibunya. Memangnya sejak kapan orang tuanya menjadi petani begitu?
"Sejak 3 tahun lalu, itu adalah hasil dari kami mengumpulkan uang yang kau kirim. Anggap saja itu kebunmu" Jelas ayah Efira, lelaki paruh baya itu seperti tau apa yang dipikirkan oleh putri tunggalnya.
Tentu saja Efira dibuat terharu, uang yang selama ini ia kirim ternyata sangat bermanfaat untuk orang tuanya. Setidaknya dia bisa sedikit membantu penghasilan ornag tuanya selama dia sekolah di luar negeri.
"Aku mau ikut, tunggu.. tunggu aku.. jangan kemana2 dulu" Ucap gadis itu antusias, lalu berlari tunggang langgang kedalam kamar, menyiapkan dirinya berkebun untuk pertama kalinya.
Sedangkan di rumah Alex?
"Hoaaaamm" lelaki itu menguap lebar, menutupi mulut singanya dengan tangan.
Sama seperti Efira, lelaki itu juga membuka gorden kamarnya sebagai pembuka hari, lalu lanjut dengan mencuci wajah.
"Ayah ibu"
"Any body home?"
"Ayaaaaahhh"
"Ibuuuuuu"
Lalu?
__ADS_1
Lelaki itu tidak menemukan kedua orang tuanya sama sekali meskipun dirinya sudah berteriak begitu.
Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi kerumah Efira.
"Apa dia sudah bangun ya?" Gumam Alex, lekas memakai sandalnya.
Tidak jauh, hanya beberapa langkah, lelaki itu sudah sampai di depan rumah Efira.
Pintunya sudah terbuka-pikir Alex.
"Efiraa"
"Tante"
"Om"
"Spada"
"EFIRA"
"BERISIK"Jawab Efira didepan wajah Alex, tak mau kalah dengan teriakan maut sahabatnya itu.
Gadis itu langsung berlari mendengar teriakan Alex tadi. Ekspetasinya untuk ganti baju tiba-tiba menghilang.
"Kau baru bangun?" Tanya Alex, melihat Efira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambutnya memang rapi. Tapi, pakaiannya?
Ha?
Dengan pakaian seperti itu?
"Kemana? Ke pinggir jalan? Kau persis gelandangan"
PLAK
Seperti biasa, lengan Alex adalah korban dari kesalahannya.
"Kebun milik ayah dan ibu" Jawab Efira, tentunya setelah puas menggampar lengan sahabatnya itu.
"Sejak kapan?" Tanya Alex bingung, terbukti dari kerutan di dahinya.
"Aku tidak tau tepatnya. Tapi, jika kau tidak mau ikut. Jangan buang-buang waktuku" Ucap Efira, lalu memakai sandalnya.
"Kau mau keluar dengan pakaian seperti itu?" Tanya Alex.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Gadis itu malah balik bertanya.
"Tidak! Ganti sana. Kau pikir ini Korea atau Amerika? Ganti yang lebih sopan!" Ucap Alex tegas, lelaki itu memang sangat sensitif dengan Efira. Hingga sisi sensitifnya itu menjadi sebuah bentuk posesif.
"Ini kan santai Lex" Jawab gadis itu. Pasalnya dia sudah malas ganti baju, itu semua karena Alex.
Karena Alex!!!
"Ganti sendiri atau aku gantikan" Ucap lelaki itu, mengerikan! Bahkan ucapannya diikuti seringaian nakal.
Lelaki itu terlempar jauh, saat dimana dia dengan sangat terpaksa harus menggantikan baju Efira.
Tentu saja, hal itu membuat Efira langsung berlari masuk kembali. Daripada mengambil resiko bukan?
"Apa boleh seperti ini?" Tanya Efira, gadis itu sudah keluar dengan setelan kasualnya. Tentu saja semua orang (Alex dan kedua orang tua Efira) menoleh. Kaos putih, dipadukan dengan celana abu-abu berbahan kaos. Sepatu berwarna senada dengan celana, dan tas putih?
"Kau mau pergi ke kebun atau pergi hang out?" Tentu saja Alex bingung, apa pergi berkebun seperti itu?
Efira bingung, dia melihat penampilannya sendiri.
Ada yang salah?- begitulah arti dari tatapan matanya untuk Alex.
Orang tua Efira sudah geleng-geleng kepala dengan tingkah anak gadisnya itu.
Mereka bahkan yakin sekali Efira belum mandi.
"Ganti! Copot sepatumu, taruh juga tasmu itu. Kenapa kau ini tidak pintar-pintar?" Ucap Alex sedikit sinis.
Tidak habis pikir dengan sahabatnya.
"Baiklah-baiklah" Gadis itu langsung melepas sepatu sekaligus kaos kakinya ditempat, lalu meletakkan tasnya di meja.
"Efira pasti sangat merepotkan ya Alex?" Tanya ayah Efira pada Alex. Mereka duduk diruang tamu, sambil menunggu Efira tadi.
"Tidak juga Om, Alex suka menggodanya" Jawab Alex sambil tersenyum ramah. Tentu saja hal itu juga diangguki senyuman dari kedua orang tua Efira.
"Yasudah ayo berangkat" Ucap Efira. Dilihat dari raut wajahnya, gadis itu sangat bersemangat.
Alex dengan cekatan memakai sandalnya. Ya karena sebenarnya sandal Alex itu ribet.
"Kenapa kau memakai sandal yang banyak talinya begitu?" Geram Efira menunggu Alex.
"Kau lupa siapa yang memilihkan sandal ini?" Ucap Alex sinis, pasalnya sandal yang saat ini dipakainya adalah sandal yang dipilih oleh Efira satu tahun lalu.
__ADS_1
Efira dibuat bersemu saat mengingat dirinya memaksa Alex untuk membeli sandal itu dulu, menurutnya itu akan tampan jika digunakan oleh Alex.
Padahal sebenarnya adalah Alex memang tampan dengan gaya apapun. Lihat saja sekarang, bangun tidur pun Alex tampan. Kaos garis-garis warna biru dan putih, disetelkan dengan celana hitam, ditambah sandal hasil Efira memilih, terlihat sangat keren meskipun sederhana.