
Sudah bulan kedua Efira di Jepang. Gadis itu tumbuh dengan baik, semakin hari dia mengeluarkan aura kecantikannya, kulitnya yang mulus, matanya juga rambutnya yang berwarna hitam pekat menambah auranya.
"Bagaimana?" Tanya tuan Rian membolak balikkan lembaran kertas di dalam map yang ia pegang. Efira saat ini sudah berada di ruangan tuan Rian, berniat memberikan laporannya.
"Sudah 95%, satu minggu lagi mungkin akan selesai" Jawab Efira yakin. Gadis itu tidak bersama Alex hari ini, lelaki itu memilih tetap tinggal di hotel, pukul 09.00 am hingga pukul 16.00 am, dia ada jadwal meeting dengan beberapa kliennya baik di agensi maupun di proyek perusahaannya yang sedang berjalan di tanah kelahirannya.
"Secepat itu?" Tanya tuan Rian.
Efira yang mengerti maksud pertanyaan kliennya, memilih tidak bergeming sedikitpun. Lebih cepat lebih baik kan?
"Baru dua bulan, kau yakin?" Lanjut tuan Rian memastikan, mungkin lelaki itu berfikir bahwa pekerjaannya tidak dapat selesai sesuai deadline.
"Kau bisa mengecek semua ruangan. Tinggal dua ruangan saja yang belum aku sentuh. Ruangan ini dan ruang meeting di sebelah" Ucap Efira menjelaskan.
"Jadi kapan kau akan menyentuhnya?" Ucap tuan Rian memandang Efira.
"Hari ini juga" Efira terlihat sangat tegas, apalagi ditambah dengan fashionnya yang mendukung ketegasannya. Kalem namun menggambarkan sosok pemimpin yang nyata disana.
__ADS_1
"Kau yakin? Apa tidak terlalu terburu-buru?" Tanya tuan Rian, bermaksud mengulur waktu gadis itu mungkin?
"Aku tidak punya banyak waktu untuk mengulur waktuku lebih lama disini tuan" Jawab Efira lagi.
"Kenapa? Bukankah waktumu masih banyak disini?" Tuan Rian semakin bertele-tele, membuat Efira geram sendiri.
"Aku akan memulainya dari ruang meeting" Jawab Efira tanpa mengindahkan ucapan tuan Rian, berniat beranjak, dan pergi dari ruangan itu.
"Kenapa kau terus saja menolakku?" Tuan Rian berucap saat Efira sudah siap melangkahkan kakinya menuju pintu, duduk di kursinya dengan angkuh, mengetuk bulpoin di mejanya.
"Karena aku profesional, tidak mencampurkan perasaan saat bekerja" Ucap Efira tanpa menolehkan kepalanya, lalu melangkahkan kaki jenjangnya.
Gadis itu sudah sangat kesal, bukankah ini jam kerja? Bukankan ini seharusnya tidak terjadi? Bukankah ini tidak layak dilakukan orang seperti tuan Rian?
"Bagaimana jika kita mencoba untuk kau menyukaiku?" Tuan Rian sudah mencengkal tangan Efira tepat sebelum gadis itu keluar dari ruangannya.
"Bermimpilah"
__ADS_1
Duar
Tuan Rian sudah tidak dapat mengontrol emosinya, lelaki itu bahkan langsung menutup dengan keras pintu ruangannya, lalu menguncinya. Bohong jika Efira berkata dia tidak takut, nyatanya saat ini dia sudah pening meskipun air mukanya terlihat tenang.
"Kita mulai dari sini" Tuan Rian menarik Efira mendekat kepadanya, mengelus pelan bibir merekah milik Efira. Tentu saja gadis itu tidak terima, gila jika dia diam saja dilecehkan seperti itu. Dia menolehkan kepalanya, menghindari tangan busuk tuan Rian di bibirnya.
"Jangan kurang ajar" Gadis itu bahkan sudah memutar tangannya, berharap lepas dari cengkraman kliennya.
"Sayangnya kau yang membuatku seperti ini" Tuan Rian semakin mengeratkan genggamannya. Tidak peduli dengan rasa sakit yang menjalar ditangan Efira. Gadis itu sudah meringis menahan sakit sekaligus menahan tangisnya.
"Jika tidak bisa didapatkan dengan cara halus, akan aku dapatkan dengan cara seperti ini"
Lelaki itu menarik Efira dan menghempaskan tubuhnya ke sofa, berniat sangat tidak senonoh. Tapi, bukan Efira namanya jika tidak mau melawan. Gadis itu terus memberontak, mencari celah untuk lepas.
"Menjijikkan. LEPASKAN!!!"
"Akh" Teriak tuan Rian, merasakan tendangan tepat pada aset masa depannya. Ngilu. Hanya itu yang dapat mewakilkan rasanya.
__ADS_1
Sedangkan pelakunya? Sudah berlari, mencari kunci pintu yang tidak ia temukan. Bingung? Tentu saja, posisinya sudah sangat terdesak, tidak ada Alex sang pelindung hari ini.
Bagaimana aku bisa keluar dari sini - Batin Efira.