
Tidak terasa, akhirnya mereka sampai di pekarangan rumah Efira.
Pekarangan rumah Alex juga!
Rumah mereka bersebalahan, anggap saja mereka tetangga. Ini sebabnya mereka dapat bersahabat sejak kecil.
"Rumah kita tidak berubah ya?" Ucap Alex, memandang rumahnya dan rumah Efira dengan penuh rindu.
Begitu juga dengan Efira. Gadis itu pun memandangi rumahnya sendu.
Tidak peduli dengan banyaknya warga yang melihat mobil mereka? mungkin bertanya-tanya tentang siapa pemilik mobil mewah itu?
"Jangan pernah mendongakkan kepalamu, tetaplah tunduk tanpa menyombongkan apa yang kita miliki" Ucap Alex sebelum turun dari tempat pengemudi, lelaki itu berputar, membukakan pintu untuk Efira.
Semua mata tertuju kepada mereka. Termasuk ayah dan ibu mereka?
"Ayah, ibu" Efira langsung berlari, berhambur pada pelukan orang tuanya.
Sedangkan orang tua Alex?
Orang tuanya malah menghampirinya yang sedang sibuk mengeluarkan kopernya dan koper Efira.
"Sayang" Gumam seorang wanita paruh baya, itu adalah ibu Alex. Lelaki itu memutar badannya dan memeluk ibunya, menumpahkan segala kerinduannya disana.
__ADS_1
"Efira? Itu mobil siapa?
"Mobil pinjam dari majikanmu ya?"
"Mobil hasil apa?"
"Hasil jual diri ya?"
"Mereka hebat ya?"
"Andai saja anakku bisa seperti mereka"
Pertanyaan dan pernyataan terasa mengiris jiwa Alex, meskipun tidak sedikit yang memuji kesuksesan mereka setelah kembali dari menempuh pendidikan. Namun, yang lain?
"Itu.mobil.milik.kami.mutlak" Jawab Alex, mengehentikan semua sindiran orang-orang. Bahkan lelaki itu hampir melempar kunci mobilnya karena saking kesalnya.
"Mobil itu didapat dengan cara baik-baik" Lanjutnya.
"Bagaimana bisa? Pola hidup kalian saja sudah berubah? Kalian tinggal di luar negeri. Disana semua orang bergerak dengan bebas" Ucap seorang ibu-ibu, ibu itu memang begitu sejak dulu, sejak Efira dan Alex bahkan masih kecil.
"Karena kami mau berubah. Kami mau berusaha. Kami tidak malas seperti orang seumuran kami lainnya. Kami bahkan berangkat ke luar negeri tanpa menyusahkan orang tua kami, setelah kami pulang? Lihat! Kami dapat membuktikan bahwa kami dapat mengangkat derajat orang tua kami" Ucapan Alex, tentu saja mengandung unsur menyindir. Lelaki itu lupa caranya menundukkan kepala rupanya.
"Sombong sekali" Ucap ibu itu, ibu yang sama dengan yang sebelumnya berkata.
__ADS_1
"Ayah, ibu. Ayo masuk! Aku sudah menyiapkan oleh-oleh untuk kalian" Ucap Alex, sengaja mengeraskan suaranya untuk dapat didengar ibu-ibu itu. Tentu saja ibu-ibu itu merasa panas.
"Permisi bapak-bapak, ibu-ibu" Lanjut Alex ramah (kepada mereka yang menurutnya baik) lalu menuntun orang tuanya masuk ke dalam rumah.
"Masuk bersama kami" Ucap Alex lagi, kalimat itu ditujukan untuk kedua orang tua Efira. Tentu saja gadis itu menurut.
...***...
"Jadi? Apa yang membuat kalian menjadi sangat kaya seperti ini?" Tanya ayah Alex kepada kedua sejoli yang baru saja sampai dirumah itu.
"Saat kami pergi, kami hanyalah sebuah bibit kecil tak bermakna. Lalu kami pergi, kami tumbuh, berbunga, berbuah, lalu akhirnya kami tinggal memetik buahnya saja saat ini" Jawab Alex, menggunakan bahasa perumpamaan yang mudah dimengerti.
"Kami bangga dengan kalian. Bagaimana dengan kehidupan kalian? Apa menyenangkan berada disana?" Tanya ibu Efira, sambil mengelus puncak kepala putrinya.
"Ayah, ibu. Disana menyenangkan, sangat menyenangkan. Tapi, disini lebih menyenangkan, karena kalian adalah rumah kami. Kebahagiaan kalian adalah tujuan kami" Ucap Alex lagi, Efira tidak banyak bicara. Gadis itu sibuk bermanja dengan ibunya.
Akhirnya mereka menghabiskan waktu dengan bercerita, sampai tidak terasa hari sudah semakin larut. Efira dan juga Alex segera dipersilahkan untuk segera beristirahat.
"Kamarku tidak berubah" Ucap Efira. Memandang setiap sudut ruangannya. Barang-barangnya di Amerika masih terngiang, album-album K-popnya masih disana semua.
"Aku akan mengambilnya jika ada kesempatan" Gumam Efira lagi, lalu berlalu ke alam mimpi.
"Tidak ada yang berubah" Ucap Alex dikamarnya. Merebahkan tubuh lelahnya di ranjang.
__ADS_1
"Aku ingin mengatakannya" Gumam lelaki itu, berakhir dengan menutup matanya, tidak ada yang tau apa maksud dari perkataannya.