
Sudah tiga hari sejak hari itu, atmosfer diantara Alex dan Efira terasa sedikit 'berbeda'. Mereka lebih bersikap canggung.
Seperti sekarang.
"Ekhem" Alex berdehem, mencari perhatian dari Efira.
"Hm" Gimana Efira sebagai jawaban. Mereka sedang mengemas beberapa barang penting. Mereka dan keluarga akan segera pindah rumah.
Orang-orang suruhan mereka sudah tiba sejak pagi buta tadi.
"Ayo aku bantu" Ucap Alex mengambil alih kardus besar dari tangan Efira.
"Terimakasih" Jawab Efira lalu tersenyum, menatap sahabatnya dari belakang.
"Sudah selesai?" Tanya Alex saat dia sudah kembali. Tidak perlu banyak barang yang dibawa, hanya membawa barang-barang berharga saja. Karena rumah lama mereka, akan ditempati oleh beberapa orang-orang Alex dan juga Efira, hanya untuk merawat rumah itu.
"Sudah" Jawab Efira.
Untuk mengajak kedua orang tua mereka bukanlah suatu hal yang mudah, semalam mereka harus melewati pembicaraan yang sangat alot.
"Ayo berangkat" Ucap Alex, mobilnya sudah terparkir di halaman rumah.
Jangan tanyakan keadaan sekitar. Tetangga mereka sudah berkumpul untuk melihat sejak tadi pagi.
__ADS_1
Memangnya apa yang salah hingga mereka dijadikan tontonan begitu?
Atau karena?
"Pasti hasil tuyul"
"Lihat! Apa itu mobil mereka semua? Apa itu orang-orang mereka?"
"Wah, mereka sangat kaya ya sekarang?"
Ya, mungkin karena kedatangan orang-orang Alex dan Efira yang mengejutkan di pagi buta.
Tidak apa-apa, ini sudah pukul 10.00, mereka akan keluar dari desa ini, bukan bermaksud kurang ajar atau sombong. Pasalnya di desa itu, banyak kenangan buruk antara Alex,Efira serta keluarga dengan para tetangga.
"Efira"
Gadis itu, mengalihkan pandangannya pada sumber suara, semula ia hanya menatap ke luar jendela.
"Cukup ya, ini terlalu dingin"
Efira mengerutkan keningnya, gadis itu akhirnya mematikan AC mobil mereka.
Hey!! Bukan itu maksudnya - Batin Alex.
__ADS_1
"Efira, maksudku kita. Bukan hawa di mobil ini" Jelas Alex lembut, membelai pelan tangan Efira dengan tanganya yang bebas.
"Tunggu sebentar" Efira meletakkan punggung tangannya di dahi Alex, lalu ganti ke dahinya.
"Tidak ada yang dingin, hawanya normal" Ucap gadis itu.
Pura-pura bodoh atau bagaimana sih - Alex bahkan meremas pelan tangan sahabatnya.
"Begini, maksudku aku dan kau. Kumohon jangan berpura-pura Efira. Aku sangat merindukan kita yang dulu. Aku minta maaf atas ciuman itu" Ucap Alex panjang lebar.
Dapat, lihat itu! Efira akhirnya terdiam, seperti mengerti arah pembicaraan mereka.
"Lupakan saja" Ucap gadis itu akhirnya.
"Hei, apa kau memaafkanku?"
"Mana mungkin, kau membuatku tidak bisa tidur berhari-hari"
"Menurutmu aku bisa tidur nyenyak begitu? Aku juga sama tidak bisa tidurnya princess. Aku memikirkanmu setiap waktu. Bertanya dengan diriku sendiri. Apa kau marah? Apa kita akan tetap seperti ini? Apa kita akhirnya kita tidak bisa sedekat dulu? Aku memikirkan itu setiap waktu" Alex membuat Efira terdiam, gadis itu mencerna ucapan sahabatnya dengan sangat baik rupanya.
"Baiklah, baikan" Ucap Efira memberikan jari kelingkingnya, seperti janji masa kecil?
"Baikan" Ucap Alex, menyambut jari Efira dengan jarinya dari tangan yang ia gunakan menggenggam tangan Efira sejak tadi.
__ADS_1
"Meskipun aku tidak tau dimana letak kesalahan sikap kita yang alami ini"