
Hari² berlalu dengan sangat cepat, kini mereka sudah berada dalam ruangan masing², menanti saat mendebarkan untuk menghadapi ujian semester ganjil. Dan sudah menjadi tradisi di sekolah itu, mereka akan melakukan ujian dalam satu kelas dengan teman sebangku yang berbeda jurusan. Kebetulan semester ini jurusan IPA harus satu ruangan dengan IPS
"Ka,," Biru sudah berdiri di samping Dika yang baru saja mendaratkan pantatnya di samping Lina
"Ya dech!" Dika yang sudah tahu maksud Biru pun pindah ke samping Tiwi
"Ngapain lo deket adek gue, pindah sono" Tama yang baru saja datang mengusir Dika
"Apaan sich kalian berdua? Hei manis, boleh abang duduk disini? Nggak baik lho anak manis duduk sendiri" Dika pun beralih ke tempat duduk Sinta yang berada di belakang Tiwi
"Boleh koq!" Sinta merasa senang karena Dika memilih duduk di sampingnya
"Ekhemmm,, Ru, gimana kalau kita kasih tau aja ya sama orang yang disana, Dika pagi² udah gombalin anak orang" Tama mulai menjahili Dika untuk mengusir ketegangan
"Ok" jawab Biru singkat
__ADS_1
"Awas ya lo Tam, sampe lo bilangin gue abisin lo berdua" ucap Dika sambil melotot
"Lo langsung pulang nanti?" tanya Biru pada Lina
"Eh,,, ya bang, mau langsung ke warung bantuin ibu, katanya ada pesanan nasi kotak" jawab Lina
"Gue anter" sahut Biru
"Tap,,," ucapan Lina terhenti karena melihat pengawas ujian mereka yang tak lain adalah pak Dion sudah memasuki ruangan
Semua murid mengerjakan ujian dengan tenang, nampak fokus, meski terkadang mereka hanya menjawab sesuai hati nurani tanpa menghitung, atau berpikir jawaban yang tepat. Beban IPS tak seberat beban IPA yang harus menghitung kandungan kimia dalam satu drum larutan kimia pembasmi rumput (Maaf nggak bisa sebut merk), IPS hanya menghitung laba yang di akibatkan penurunan pasar
"Nich,," Biru memberikan kertas hasil coretannya pada Lina yang berisi jawaban untuk soal yang belum di kerjakan Lina.Sebenarnya Biru sudah selesai mengerjakan soal sejak satu jam yang lalu, tapi dia masih ingin bersama Lina
"Makasih" Lina tersenyum pada Biru
__ADS_1
"Ternyata senyummu mampu menggetarkan hatiku" hati Biru berbicara
Bel pun berbunyi tanda berakhirnya ujian hari ini, mereka lantas langsung menuju ke kendaraan masing² untuk pulang ke rumah
"Ayo" Biru mengajak Lina yang masih setia duduk di bangkunya
"Gue pulang sendiri aja bang" Lina yang masih merasa canggung berusaha menolak Biru
"Lama" Biru yang tidak sabar akhirnya menggandeng tangan Lina menuju mobilnya
"Bang, lepasin tangan gue, semua orang ngeliatin bang" Lina berusaha melepaskan genggaman Biru karena merasa malu menjadi pusat perhatian semua orang
"Gue nggak peduli" Biru pun tetap menggandeng tangan Lina sampai ke mobil
"Masuk" ucap Biru sambil membukakan pintu mobil
__ADS_1
"Ya" Lina pun masuk ke dalam mobil
Biru pun melajukan mobilnya ke arah warung ibu Lina yang tak jauh dari bengkelnya. Selama perjalanan tak banyak kata yang terucap dari keduanya. Karena mereka sama² bingung dengan perasaan masing². Lina ingin bertanya, saat melihat wajah dingin Biru ia urungkan, karena takut kecewa