
"Bang Biru,," Lina terkejut dengan kehadiran Biru di depan restorant
"Siapa Lin?" tanya bu Aira dari dalam resto
"Bang Biru bu," jawab Lina
"Biru, ada apa?" tanya bu Aira
"Tadinya mau beli nasi bu, tapi,, besok aja dech!" jawab Biru
"Resto ini tutup jam dua siang, tapi kalau cuma buat kamu masih ada koq!"
"Nggak apa² bu, biar Biru pulang aja" ucap Biru
"Udah nggak apa², masuk aja yuk! Lin, tolong siapkan makanan buat Biru ya!" pinta bu Aira pada Lina
"Ya bu," Lina pun menyiapkan makanan beserta minuman untuk Biru
__ADS_1
" Lin, kamu temani Biru makan ya! Ibu pulang dulu, mau mampir ke pasar soalnya, Biru, ibu pulang dulu ya!" setelah berpamitan, bu Aira meninggalkan mereka berdua
"Lo mau kemana?" Biru menghentikan langkah Lina yang akan berjalan ke dapur
"Ke dapur bang," jawab Lina
"Temenin gue makan" pinta Biru
"Ya udah dech!" ucap Lina
Biru makan dengan tenang, sesekali dia memandang seseorang di hadapannya, yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya, terkadang dia tersenyum yang menampakkan lesung pipinya
"Hmm, berapa?" Biru pun mengeluarkan uang dari dalam dompetnya
"Nggak usah bang, itu gratis buat abang" sembari membawa piring ke dapur dan membersihkannya
"Nggak bisa gitu Lin, gue udah makan, jadi gue harus bayar donk!" Biru memaksa ingin membayar
__ADS_1
"Kalau mau makan terus bayar, besok abang dateng aja lagi pas jam buka warung, sekalipun itu bukan abang, pasti gratis juga koq buat mereka, andai mereka dateng di luar jam kerja warung" jelas Lina
"Kalau misalnya mereka semua memilih dateng di luar jam buka warung gimana? Rugi donk!" tanya Biru
"Nggaklah bang, semua itu sudah ada yang ngatur, mungkin hari itu kami memang di haruskan untuk berbagi, gampang khan!" sahut Lina
"Bang, gue mau pulang dulu, abang pulang sana, gue mau tutup warung"
"Lo ngusir gue?"
"Bukan ngusir bang, tapi emang sekarang gue harus pulang, udah sore juga" ucap Lina
"Gue anter"
Biru pun melajukan mobilnya ke arah rumah Lina. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Lina, karena jarak yang tidak terlalu jauh. Setelah Lina turun dari mobil, Biru melanjutkan perjalanan kembali ke rumahnya. Dan dia selalu terbayang dengan senyuman Lina yang sangat manis. Dalam hatinya selalu bertanya, mungkinkah Lina belum punya pacar? Tapi gadis semanis dia mana mungkin belum punya, baik, manis, dan ramah, siapa juga lelaki yang akan menolaknya
Begitu juga dengan Lina, dia terus saja terbayang wajah Biru. Lelaki yang di kenal dengan julukan kulkas berjalan oleh sahabatnya, ternyata bisa cerewet juga. Andai saja waktu bisa terhenti saat itu, mungkin dia akan memberitahukan pada Tiwi tentang kecerewetan Biru. Seorang lelaki yang jarang sekali berbicara. Hari ini merupakan hari yang bersejarah, karena bisa mendengarkan beberapa kalimat dari bibirnya
__ADS_1
"Apa gue jatuh cinta sama bang Biru ya? Koq rasanya beda banget!" gumam Lina dalam hati
Tapi Lina tak dapat mengutarakannya, bagaimana jika tak terbalas? Bukankah sakit rasanya, lebih baik di pendam di dalam hati, setidaknya tak banyak hati yang akan terluka karena ungkapan cintanya