
Hari ini adalah hari yang di tunggu oleh semua siswa kelas 12, karena hari ini mereka melakukan tour, ada empat bus yang siap mengantarkan mereka, setiap bus mewakili setiap jurusan, IPA, IPS, dan bahasa dan satu bus lagi khusus untuk guru dan perlengkapan dan setiap bus di kawal masing² oleh satu guru. Lina duduk bersama Tiwi, sedangkan Dika duduk dengan Biru, lalu Tama duduk bersama calon adik iparnya
Setelah menempuh perjalanan panjang, sampailah mereka pada sebuah villa yang menjadi tempat tujuan mereka. Dan kini semua murid sudah turun dari bus, mereka sedang antre untuk ambil kunci kamar mereka, dan satu kamar di isi oleh dua orang
"Dah dapet kamar?" entah sejak kapan Biru sudah berada di belakang Lina
"Udah, sekamar sama Tiwi" jawab Lina sambil menunjukkan kunci yang dia pegang dan tertera nomor kamarnya
Biru melangkah sambil membawa ransel Lina, cukup membuat orang terpana yang melihat tingkah laku Biru. Sosok yang biasa terkenal cuek akan keadaan sekitar, bisa bersikap manis pada seorang wanita. Lina pun tampak malu²
"Lin, lo kasih pelet apa si Biru? Baru kali ini gue liat dia gitu" ucap Dika yang masih terpana
__ADS_1
"Apaan sich bang, gue aja heran kenapa bang Biru gitu, udah ah, yuk Wi masuk ke kamar, capek gue, pengen rebahan" Lina mencari cara untuk menghindar dari Dika
***
Pagi hari yang indah, hangatnya mentari, kicauan burung, dan semilir angin membangunkan tidur mereka. Udara yang berbeda yang mereka rasakan kini. Sesuai jadwal mereka harus kumpul di tempat parkir jam delapan pagi
Hari ini mereka akan mengunjungi sebuah musium, sebagai tugas akhir dari mereka di semester ganjil. Setiap jurusan mendapat tugas yang sama dari guru Bahasa Indonesia, mendeskripsikan musium tersebut
"Khemmmm" tegur Biru
"Lah,, bener khan! Katanya liburan, minimal ke pantai atau ke gunung bolehlah! Dika terus saja berjalan sambil mengomel
__ADS_1
"Aduhhhh,, ap,,,,, heheheh" Dika cengengesan saat melihat siapa yang memukulnya, tanpa suara pujaan hatinya berlalu pergi
"****** lo" ucap Tama
"Makanya punya mulut jangan macem ember bocor, kena dech jadinya, hahaha" Tama mengejek Dika, sedangkan Biru hanya tersenyum tipis menanggapi kejahilan sahabatnya
"Ketawa ya ketawa aja Ru, nggak usah di tahan, puas lo liat gue sengsara, baru juga jadian" Dika sebal karena di ejek oleh kedua sahabatnya
Biru melangkah ke dalam untuk melakukan riset sebagai bahan dari tugasnya. Dia terus saja berpikir sambil mengamati setiap benda yang berjajar rapi di musium tersebut. Matanya terus saja bergerak, meski dia berdiri di sudut musium. Tatapannya berhenti saat mendapati sebuah objek yang sedang berdiri membelakanginya. Tanpa aba² kakinya melangkah untuk mengikis jarak di antara mereka, semakin dekat dan,,,, jemari itu kini sudah bertaut
"Lepas bang, nanti di lihat guru" Lina pun berusaha melepaskan genggaman tangan Biru
__ADS_1
"Udah diem, dengerin aja, kalau lo nggak gerak, nggak akan ada yang tau" Lina pun pasrah dan membiarkan tangannya tetap berada dalam genggaman biru. Sesungguhnya dia ingin bertanya pada Biru tentang arti semua ini, tapi dia takut kecewa, bagaimana kalau ini hanya seperti ikatan antara kakak dan adik?