
Dion dan Tiwi kini sudah berada di singgasananya, mereka akan menjadi Raja dan Ratu untuk setengah malam ini, karena resepsi mereka hanya sampai jam dua belas malam saja. Resepsi yang tidak terlalu mewah tapi berkesan, karena mereka hanya mengundang beberapa rekan bisnis yang sangat dekat saja. Resepsi yang juga sekaligus reuni mereka, jangan lupakan kehadiran Dika dan Vera yang mulai berani menunjukkan hubungan mereka karena sudah mendapat restu dari orang tua mereka. Semua orang tampak bahagia disana. Tanpa mereka sadari jika ada seseorang yang telah menyiapkan segala rencana dengan sangat matang
"Saat ada celah, kalian cepat bawa dia, ingat jangan sampai ada yang melihat" Titahnya pada orang bayarannya
Malam ini mereka berencana melakukan penculikan pada Lina untuk mereka habisi, namun sebelum itu mereka akan mencicipi terlebih dulu, karena gadis yang akan mereka culik masih perawan
Sementara di sebuah meja yang berada di tengah² resepsi, Biru selalu menggenggam jemari Lina. Karena dia tahu sesuatu akan terjadi pada Lina
"Yang, ingat ya, jika terjadi sesuatu padamu nanti, kamu harus tekan berlian yang ada di cincin kamu" ucap Biru
"Memangnya kenapa?" tanya Lina heran
"Dengan begitu, aku akan dengan mudah menemukanmu, dan yang harus di ingat, kamu harus bertahan dan jangan berbuat sesuatu yang bisa membahayakan dirimu, mengerti?" Biru pun menjelaskan pada Lina
__ADS_1
"Ok bang,, aku mau ke toilet dulu ya! Udah nggak tahan nich!" pamit Lina karena ada sesuatu yang harus di keluarkan dari dalam tubuhnya
"Abang temani" sahut Biru yang langsung berdiri
"Ish abang ini, cuma ke toilet doank!" tolak Lina
cuph,,,
"Dasar aneh!" gumam Biru sambil mengelus pipinya yang baru saja di cium kekasihnya, namun tanpa dia sadari setelah dari toilet Lina langsung di bawa ke sebuah gudang yang sangat jauh dari gedung resepsi
"Bagaimana?" tanya seorang gadis cantik pada orang suruhannya
"Dia masih pingsan bos, mungkin tadi terlalu kuat memukulnya" jawab orang tersebut
__ADS_1
"Jika dia sadar, telpon aku" titahnya, sembari melangkahkan kaki keluar gudang menuju sebuah hotel yang tak jauh dari gudang tersebut
Lina yang sudah sadar sejak tadi hanya diam saja, dia mengingat semua kata yang di ucapkan Biru, dengan perlahan dia menekan berlian yang ada di cincinnya
"Tuan, GPS nona sudah aktif, dan dia berada di sebuah gudang kecil di pinggiran kota, hanya tiga jam saja dari sini" ucap bodyguard Biru yang langsung melacak sinyal GPS dari cincin Lina, karena dia jugalah yang merancangnya
"Siapkan semua, kita berangkat sekarang, lihat saja, siapa pun yang melakukan ini akan habis di tanganku" ucap Biru dengan sorot mata yang sangat tajam dan siap menerkam
"Jiwa iblisnya sudah bangkit ternyata" gumam Malik
"Apa tidak apa² Pa?" tanya Sheila yang melihat putranya dengan kilatan kemarahan
"Biarkan saja, karena saat mereka bertemu, jiwa iblisnya akan hilang, namun jika sesuatu terjadi pada Lina, aku tidak akan menjamin, jika orang yang telah melakukannya masih bisa hidup" Malik pun menenangkan istrinya yang terlihat khawatir dengan keadaan putranya, karena ini yang pertama kalinya dia melihat perubahan Biru jika sedang marah, persis seperti Malik
__ADS_1