
"Hai bro,,," sepeti biasa Dika langsung merangkul pundak kedua sahabatnya saat tiba di sekolah
"Cerah amat tu muka, habis di cium mbak kunti ya semalam?" ledek Tama yang sudah tahu jika cinta sahabatnya sudah di terima oleh pujaan hati
"Sembarangan, dia tau kena gaplok lo" sambil menoyor kepala Tama, sementara sang korban hanya menatap kesal pelaku
Sampailah mereka di kelas tercinta, kelas yang sangat anti berisik seperti kelas seberang. Jangankan berisik, bisa menyelesaikan satu rumus kimia yang di berikan pak Dion saja mereka sudah sangat gembira. Apalagi sampai melihat senyum pak Dion, sungguh suatu anugerah di jurusan IPA
"Tam, entar bilangin ya sama calon adik ipar lo, kalau ngasih rumus jangan yang susah², minimal setengah jam kelar gitu" bisik Dika pada Tama
"Bilang aja sendiri, gue mah ogah"
"Selamat pagi semua,,," sapa pak Dion saat memasuki kelas
"Pagi pak,," jawab murid serentak
"Karena hari ini ada rapat untuk ujian semester ganjil, saya tidak bisa mengajar, jadi bentuk kelompok seperti biasanya ya! Dan ambil salah satu contoh zat yang kalian ketahui, lalu jelaskan tentang manfaat dan kerugiannya dalam kehidupan, kita akan bahas minggu depan, mengerti semua" jelas pak Dion
__ADS_1
"Mengerti pak" jawab semua murid
Semua murid mulai menyusun bangku mereka membentuk kelompok. Mereka mulai membahas setiap pokok permasalahan, dan nampak fokus. Tapi tidak untuk salah satu murid di ujung sana, pandangannya fokus menatap ke arah jendela, mungkinkah sedang menatap mawar yang mekar? Itu tidak mungkin karena dia bukan penyuka mawar. Akan tetapi pandangan itu tak pernah lepas memandang jendela. Terlalu fokus hingga tak menyadari jika bel istirahat telah berbunyi
"Nich, bagian lo, tinggal bagian akhirnya" Tama memberikan buku pada Biru
"Hmm,," Biru mengambil buku tersebut dan menyimpan dalam tasnya. Setelah itu dia berdiri dan berjalan keluar kelas
"Ru, mau kemana lo?" tanya Dika yang melihat Biru pergi
"Kantin" jawab Biru
"Biasa aja, udah dari orok dia gitu" sahut Tama
"Adek nggak kuat terus di giniin bang" Dika berakting seperti sinetron yang biasa di tonton emak² komplek
"Lebay lo, mau makan apa?" tanya Tama ketika mereka sudah sampai di kantin
__ADS_1
"Biasa ajalah, biar mbaknya nggak susah" sahut Dika
"Lo mau di samain juga Ru?" Tama beralih pada Biru
"Ya"
"Biasa mbak, tiga ya!" pesan Tama pada penjaga kantin yang sudah hafal dengan pesanan mereka, syomay pedas dan thai tea alpukat
"Tam, akhir² ini gue jarang banget liat adek lo ke kantin, emang dia nggak makan?"
"Dia makan di kelas sama temannya, ibunya yang punya rumah makan deket bengkel Biru, makanya tiap hari bawa bekal" jawab Tama
"Emang masakannya enak?" Dika mulai penasaran
"Banget" ternyata Biru yang menjawab
"Koq lo tau!" Tama dan Dika sama² heran
__ADS_1
"Kemarin gue ke bengkel, terus bang Yudi ngasih gue nasi kotak dari rumah makan itu" Biru pun menjelaskan
Tak lama kemudian pesanan mereka datang, mereka makan sambil bercanda. Satu per satu makanan itu masuk ke dalam mulut mereka hingga habis tak tersisa, andai alat makan itu bisa di makan, mungkin akan masuk juga ke perut mereka