
Detik berganti menjadi menit yang terlewati, sampailah mereka pada hari yang membuat jantung mereka berdegup kencang, bukan karena mereka jatuh cinta, tapi mereka harus duduk di bangku ujian akhir mereka. Dan sesuai tradisi mereka, saat ujian mereka akan duduk bergabung dengan jurusan lain. Tapi yang membedakan kali ini, mereka melakukan undian, untuk mendapatkan nomor ruangan dan nomor bangku mereka
"Muka lo nggak usah di jelekin gitu dech, tambah jelek tau nggak" ledek Tiwi karena melihat muka sahabatnya seperti baju yang belum di cuci
"Apaan sech lo! Gimana hasilnya ulangan gue entar, hadeuhh" sambil memegang keningnya
"Masuk yuk, dah bel tuch! Nggak usah stress dech! Senasib kali, yang penting kita satu ruangan!" ajak Tiwi karena mendengar bel tanda ujian akan segera di mulai
"Hei, kenapa mukanya?" Biru menghampiri Lina yang tertunduk lesu di bangkunya sambil membelai rambut Lina
"Abang koq bisa di ruangan ini!" Lina heran karena Biru sudah duduk di sampingnya, padahal ujian sudah mau di mulai
"Ini bangku abang Yank, nich,,,!" Biru pun memperlihatkan kartu ujiannya pada Lina
"Ya, tapi kok bisa!" Lina pun masih bingung
"Ya bisalah, udah dech, mukanya jangan di jelekin gitu, duduk yang bener tuch pak Reno udah dateng!" tunjuk Biru pada pengawas ujian mereka
__ADS_1
"Jangan manyun lagi, entar abang cium lho!" bisik Biru pada Lina, yang membuat muka Lina memerah
Sedangkan Tiwi yang melihat mereka pun hanya terpaku sedih, karena dia harus duduk dengan Alea, saingan cinta sahabatnya.
Kesunyian dan keheningan yang terasa saat ini, hanya suara kertas yang di bolak balik, berharap saat kertas itu di balik sudah terisi dengan jawaban yang sempurna
Jika seluruh murid IPA serius dengan ujian mereka, maka berbanding terbalik dengan anak Bahasa dan IPS, tentu saja soal mereka terlihat lebih mudah
"Udah?" tanya Biru yang melihat Lina hanya memangku dagu pada tangannya, namun hanya gelengan kepala yang dia dapatkan. Tanpa suara Biru pun mengambil kertas ujian Lina dan mulai mengisi soal yang masih kosong. Tiwi yang melihat itu, memberi kode pada Lina untuk mengirimkan jawabannya melalui kode yang hanya mereka berdua yang tahu
"Turunin tangannya Yank!" ucap Biru
"Pulang yuk!" ajak Biru
"Bentar,," Lina pun melangkahkan kakinya menuju meja Tiwi
"Lo mau bareng gue atau bareng dia?" tanya Lina pada Tiwi
__ADS_1
"Sama dialah, lo nggak tau apa dia udah nungguin di dalam mobil, nich!" Tiwi menunjukkan chat dari Dion
"Hmmm, ya udah, gue bareng calon suami gue dech!" sambil melirik Alea yang masih berada di bangkunya
"Masih lama Yank?" Biru menghampiri Lina dan langsung menggandeng tangannya
"Nich udah mau jalan, yuk Wi!" mereka pun berjalan bersama menuju tempat parkir
"Abang sekarang bawa mobil ya?" tanya Tiwi yang tak pernah lagi melihat Biru menaiki motornya
"Kalau abang naik motor, repot nanti pas hujan di tengah jalan, sekarang khan abang sudah berdua!" jelas Biru
"Ya dech, yang udah punya gendengan, lupa nich masih punya adek cewek!" Tiwi pura² merajuk
"Abang nggak lupa koq! Dah sana, udah di tungguin tuch!" sahut Biru
"Bye abang, bye kakak ipar"
__ADS_1