
"Ka, emang lo sanggup" Tama memastikannya, karena yang dia tahu, Dika selalu mendapat nilai yang cukup apa adanya
"Tenang, gue sudah punya guru yang paling handal, jadi gue pasti bisa buktikan sama bebeb Vera" sambil menepuk pundak Biru yang di sampingnya dan sukses mendapat tatapan tajam dari Biru
"Woles bro,,," Dika yang melihatnya pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Dika sudah memantapkan hatinya untuk memilih guru Fisikanya sebagai cinta di hatinya, dia pun berjanji pada dirinya akan memperbaiki nilainya selama sisa waktu yang ada sampai mereka lulus nanti
Tak terasa bel tanda pulang sekolah pun berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah masing², sedangkan tiga sahabat itu masih duduk di dalam kelas, mereka malas berdesak²an dengan para murid lain ketika di parkiran
"Bang," teriak Tiwi yang melihat abangnya sudah sampai di parkiran
__ADS_1
"Kenapa dek?" Tama pun mendekati Tiwi
"Aku nggak ikut pulang ya! Mau ke rumah Lina dulu, ada kerja kelompok soalnya" Tiwa meminta ijin pada abangnya
"Ya udah kalau gitu, nanti pulangnya abang jemput, jangan lupa kirim alamatnya ya! Abang pulang dulu" Tama pun meninggalkan adiknya
"Tugas kita mau di kerjain di rumah siapa?" tanya Dika
"Hmm,, bener tuch, lagian di rumah Biru fasilitas belajarnya komplit, macem bakso mang Udin" ucap Dika
"Makan aja yang lo pikirin! Lo nggak lupa janji lo sama bu Vera khan!" Tama mengingatkan
__ADS_1
"Ya nggaklah, eh,, Biru tungguin, busyet dah ni anak, ngomong kek kalau udah mau jalan, dasar es batu" Dika yang kesal pun menyusul Biru yang sudah melajukan motor sportnya
Sementar itu, Tiwi sudah tiba di rumah Lina. Rumah yang sederhana namun terlihat asri dan tertata rapi. Maklum Lina hanya tinggal dengan ibunya, sedangkan ayahnya sudah meninggal saat Lina masih berusia lima tahun. Dan sejak saat itu, ibu Lina membuka usaha warung nasi yang buka mulai dari jam enam pagi sampai jam dua siang, dan hanya buka saat hari kerja saja. Karena di hari libur, ia ingin menghabiskan waktu bersama anaknya. Meski begitu warung nasi ibu Lina sangat laris pembeli, bahkan tidak jarang dia mendapat orderan nasi kotak untuk beberapa acara
"Maaf ya Wi, rumahnya begini, nggak sebagus rumah lo" ucap Lina
"Nggak masalah Lin, gue suka koq! Adem rasanya" Tiwi merasa betah di rumah Lina meski baru pertama kali kesana
"Koq sepi Lin! Ibu lo mana?" tanya Tiwi yang mencari ibu Lina
"Kalau jam segini masih di warung, bentar lagi juga pulang" sahut Lina sambil berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum dan cemilan sebagai teman mereka dalam mengerjakan tugas nantinya
__ADS_1
Mereka pun mengerjakan tugas dengan serius, meski soal yang di kerjakan mereka tak sesulit para lelaki di seberang sana yang masih bertengkar untuk membuat replika sembilan planet. Karena mereka jurusan IPS, yang hanya sibuk menghitung nominal uang, meski bukan yang mereka sendiri. Tak lupa Tiwi mengirimkan alamat rumah Lina pada abangnya. Dan memberitahunya agar tidak terlambat menjemput, karena dia ingin mampir dulu ke warung bakso mang Udin favorit si Dika