
Seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya, setelah Tiwi lulus akan langsung di adakan pesta pernikahan. Disinilah mereka berkumpul sekarang, di ruang keluarga Anggara, karena ijab qabul besok akan di adakan rumah tersebut. Untuk resepsi akan di adakan di ballroom salah satu hotel bintang lima milik keluarga Biru, dan gratis tentunya sebagai hadiah pernikahan untuk Tiwi dari mami Biru
"Cieeee yang mau nikah, senyumnya manis banget dek!" Dika menggoda Tiwi yang baru turun dari kamarnya
"Biasa aja bang, eh,, abang kapan nikahnya? Keburu jamuran bu Vera nunggunya!" jleb, pas banget kena jantung Dika
"Dianya belum mau, tau dech nungguin apaan!" sambil menyeruput jus alpukat buatan Lina
"****" sahut Biru singkat
"Lo kalau ngomong yang panjang dikit Ru, nggak jelas banget maksudnya apaan!" sahut Dika yang bingung dengan kata yang Biru ucapkan
"Maksud bang Biru, kenapa nggak abang langsung lamar aja, kalau mau nungguin bu Vera mah kelamaan!" yang hanya mendapat anggukan kepala dari Biru
__ADS_1
"Eh,, Tama kemana dari tadi nggak kelihatan?" Dika baru sadar kalau Tama sudah tidak ada di antara mereka
"Tumben lo nyari gue" sahut Tama yang sudah berada di belakang Biru sambil menggandeng tangan seorang gadis
"Kakak ipar, aku kangen" Tiwi langsung menghamburkan diri ke pelukan wanita yang berada di samping Tama
"Dah mau jadi istri orang lho! Koq masih manja aja!" sambil mendekap dan mengusap punggung Tiwi
"Apa kabar kak?" tanya Lina yang memeluk wanita tersebut, setelah Tiwi melepaskan pelukannya
"Duduk sini Cil, entar jadi tiang listrik lho berdiri terus!" ledek Dika
"Gue mau duduk deket Biru aja, nggak mau gue deket lo, entar ketularan gesrek!" jawab Cecilia tunangan Tama yang juga merupakan sepupu Biru
__ADS_1
Selama ini Cecilia tinggal di Bandung karena masih harus menyelesaikan sekolahnya. Tama dan Cecilia berkenalan saat ulang tahun Cecilia yang di adakan di hotel milik Biru ketika mereka berlibur ke kota ini. Hubungan mereka pun berlanjut dan tak terasa sudah tiga tahun. Meski mereka menjalani hubungan yang terpisah jarak, namun cinta mereka selama ini tetap awet dan bertahan walau terkadang ada saja kerikil yang menghalangi langkah mereka. Dan rencananya mereka akan mengadakan ijab qabul berbarengan dengan Dion dan Tiwi, akan tetapi resepsi mereka akan di adakan di kota Bandung
"Eh Ru, kapan lo mau nyusul kita?" tanya Cecil yang sudah duduk di samping Biru, namun Biru hanya menatap Lina seakan meminta jawaban
"Gue nggak ngerti sama tatapan lo! Cuma jawab aja susah banget" Cecil pun kesal karena tak mendapat jawaban dari Biru
"Bulan depan kak, kemarin papa bilang gitu" akhirnya Lina yang menjawab
"Gue heran dech Lin, gimana caranya lo naklukin dia sech! Secara dia orangnya kayak patung pancoran, nah lo, yang gue tau lo itu nggak suka ngegoda, terus gimana ceritanya kalian bisa ampe mau nikah coba!" Cecil mengungkapkan rasa penasarannya
"Gue yang ngejer dia" Biru pun membuka suara
"Serius lo!" tatap Cecil tak percaya
__ADS_1
"Kita juga nggak bakal percaya kalau nggak liat sendiri. Dan yang lebih gila, dia ngelamar Lina pas acara Perpisahan kemarin. Orang tua dia aja kaget, apa lagi kita" ucap Tama