
"Abang mau kemana?" tanya Dion yang melihat Tama sudah berpakaian sangat rapi
"Nggak usah panggil abang, geli gue dengernya" sahut Tama yang merasa lucu dengan panggilan Dion
"Biar bagaimanapun lo calon abang ipar gue, oh ya,, mana tugasnya? ucap Dion
"Serah lo dech! Soal tugas nggak usah repot, gue mau ke rumah Biru sekarang, lo jagain adek gue, jangan di apa²in, belum sah" Tama pun memberikan ultimatum pada Dion sebelum pergi
"Dek, abang pergi dulu, inget pesen abang, kalau mau jalan, jangan pulang malem" nasehat Tama untuk Tiwi
"Eh, hampir lupa, gue mau ngajak Tiwi ke rumah gue, nyokap pengen ketemu katanya, boleh bang?" Dion meminta ijin
"Boleh, tapi inget pesen gue, gue pergi dulu" Tama pun pergi menuju motor kesayangannya untuk melaju ke rumah Biru
"Aku siap² dulu bang, tunggu bentar ya!" Tiwi berjalan ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap menemui calon mertuanya, sementara Dion tetap setia menunggunya di kursi tamu yang berada di rumah itu
__ADS_1
Sekian detik berlalu, mereka kini sudah berada di jalan menuju kediaman Dion. Tiwi merasa santai saja, karena ini bukan pertama kalinya. Bahkan perjodohan mereka berawal dari keluarga Dion. Meski sekarang mereka sudah benar² jatuh cinta
"Yank, kamu nanti mau kuliah dimana?" tanya Dion
"Belum tau, paling kampus deket² sini, emangnya kenapa?" sahut Tiwi
"Rencananya aku mau berhenti jadi guru setelah kamu lulus, dan kembali ke perusahaan ku, kalau kamu kuliah di luar kota, repot donk!" jawab Dion
"Hmmmmm,,, ternyata kamu pura² ya jadi guru?" goda Tiwi
"Kamu dapet info dari mana kalau aku di IPA? Informan kamu kurang teliti, hahaha" Tiwi merasa lucu karena Dion salah info
"Ternyata yang ngasih info suka sama aku" Dion pun berkata jujur
"Pantesan betah di IPA" Tiwi memalingkan wajahnya menatap ke arah luar jendela dengan memanyunkan bibir
__ADS_1
"Yank, jangan ngambek donk! Kenapa aku tetep ada di IPA, karena ada Tama disana, dia abang kamu lho! Dan kamu juga nggak mau orang tau hubungan kita sampai kita lulus khan!" Dion mencoba membujuk Tiwi, namun tak luluh juga
"Ab,,," Dion menepikan mobil secara tiba² dan langsung mencium bibir Tiwi yang sangat menggemaskan menurutnya
"Apaan sich, pakai nyerobot segala!" Tiwi sewot karena Dion memaksa menciumnya
"Nggak usah ngambek, dari dulu aku cintanya cuma sama kamu, nggak ada yang lain, kalau masih ngambek, nggak jadi ke rumah ni, kebetulan di depan sana ada hotel" Dion pun pura² memberi ancaman pada Tiwi
"Ya,, yaa"
"Ya apa? Yang jelas kalau ngomong, udah tau aku orangnya nggak peka" Dion masih berusaha membujuk tunangannya
"Hah,," Dion terkejut karena dengan tiba² Tiwi mencium bibirnya sekilas
"Lagi yank, jarang² lo kamu yang duluan, ni abang ikhlas dech!" Dion masih saja menggoda Tiwi
__ADS_1
"Udah, ayok jalan, nggak nyampe² entar" Tiwi mendorong Dion agar mau kembali ke bangku kemudinya. Tahukah dia, ketika Tiwi menciumnya, jantung Tiwi berdetak sangat kencang, dan butuh perjuangan. Lihatlah sekarang, mukanya nampak memerah seperti buah semangka merah yang matang sempurna. Sedangkan Dion sangat bahagia, karena ini merupakan ciuman pertama atas inisiatif dari Tiwi