
Hari² pun berlalu, dan hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi keluarga Anggara. Bagaimana tidak? Hari ini dia harus menjadi saksi untuk dua keponakannya. Ijab qabul pertama di lakukan oleh Tama dan Cecil, kemudian di lanjutkan oleh Dion dan Tiwi. Semua ini adalah keinginan Tama, karena menurutnya rumah akan sepi saat Tiwi di boyong oleh suaminya. Dion tidak akan mengajar lagi, dia akan meneruskan perusahaan orang tuanya. Dion pun setuju dengan syarat asisstent dan sekretarisnya adalah laki². Setelah acara sakral tersebut usai, lanjut dengan acara sungkeman yang menguras air mata.
Kini, mereka semua sudah berada di hotel milik keluarga Malik. Beristirahat sejenak, sebelum pesta resepsi nanti malam.
"Lina sama aku aja mi! Meski satu ruangan, kamarnya juga ada dua!" pinta Biru pada maminya yang memaksa mereka berpisah kamar
"Janji ya nggak di apa²in!" ucap Sheila
Sheila pun meninggalkan kamar tersebut, sedangkan Aira hanya menghadiri ijab qabul saja, karena kesehatan yang menurun, akhirnya di antar pulang oleh Yudi
"Wi, sini dech!" panggil Dion yang berdiri di balkon kamarnya, dan Tiwi pun mendekat. Dion memeluk Tiwi dari samping dan meraih tangan Tiwi sembari mencium punggung tangannya
__ADS_1
"Aku bahagia banget hari ini, rasanya males mau ke pesta itu, atau kita di kamar aja?" pinta Dion
"Apaan sich bang? Yang minta di adain resepsi siapa? Udah dech, aku mau tidur, capek, nyimpen tenaga buat nanti malem" Tiwi melepas pelukan Dion dan berjalan ke kamar
Sebenarnya Tiwi tidak mau resepsi, tapi Dion yang memaksa, karena dia tidak ingin jika di hari yang akan datang ada yang mencoba masuk dalam hubungan mereka
"Aku kangen banget sayang sama kamu" ucap Tama sambil mendekap Cecil di dalam pelukannya
"Nggak usah godain sayang, kalau ada yang bangun gimana? Tanggung jawab ya!" sambil menghentikan tangan Cecil yang berada di dadanya
"Ya" jawab Cecil singkat sambil tersenyum penuh arti
__ADS_1
Tama yang mengerti kode itu pun tak menyia²kan kesempatan. Bibirnya langsung saja bekerja pada wajah Cecil tanpa terlewati. Suasana yang mendukung membuat mereka lebih leluasa melakukan hasrat yang sudah lama terpendam karena terpisah jarak. Dan terjadilah sesuatu hal yang di inginkan oleh pengantin baru
"Bang, udah donk! Pindah ke kamar abang sana, tunggu sah dulu, tanpa kamu minta aku akan serahin dengan ikhlas" Lina yang merasa risih dengan tingkah Biru berusaha melarikan diri
"Coba tadi sekalian aja yank!" sahut Biru
"Kenapa tadi diem aja? Udah dech aku mau tidur, mau istirahat" pinta Lina yang masih merasakan bibir Biru di sekitar lehernya. Tidakkah dia tahu, Lina pun menahan hasratnya
"Jangan ninggalin jejak bang! Malu" sambung Lina sambil menahan desahannya agar tak keluar dari mulutnya
"Ya, ayo tidur, tapi biarin aku peluk kamu, janji dech, nggak bakal di apa²in koq!" Biru pun mengajak Lina tidur, karena dia pun harus menidurkan sesuatu di bawah sana yang sudah terbangun sejak tadi karena ulahnya sendiri
__ADS_1
"Liat aja nanti malem, Biru hanya milik gue, lo nggak pantes buat dia"